TALAK

TALAK
Part 256 TALAK.


__ADS_3

"Af, kamu harus memiliki bekal sabar yang sesabar-sabarnya, dan dalam menuntut ilmu jangan tergesa-gesa pelan asal paham, disaat guru menyampaikan pelajaran kamu dengarkan baik-baik agar ilmunya bisa meresap kedalam jiwa kita, dan menuntut ilmu itu butuh waktu yang lama selama kita masih bisa bernafas, jangan pernah bosan untuk menuntut ilmu, lalu pilihlah teman yang mengajak kamu dalam hal kebaikan jangan sampai salah dalam memilih teman karena teman itu berpengaruh besar dalam kehidupan kita, ini sedikit pesan dari mbah Af, sekarang kamu sudah besar Af, kamu harus bisa ngasih contoh yang baik untuk adik-adikmu kelak ya Af," nasehat bapakku bijak.


"Iya, mbah Kung, inshaallah Afri ingat pesan Mbah Kung." jawab Afriana sopan.


Kami sarapan dengan penuh kebahagiaan, saat yang paling menyenangkan yaitu saat berada di rumah orang tuaku, Bukan hanya aku saja namun suamiku juga sangat senang saat berkunjung kerumah orang tuaku, apalagi anak-anakku mereka sangat bahagia saat berada di rumah orang tuaku karena saat berada di rumah orang tuaku anak-anak bebas bermain dengan siapa saja, berbeda jauh dengan di rumahku sendiri.


Afwi dan Afwa setiap kali datang pasti langsung di cari anak-anak kecil yang rumahnya tidak jauh dari rumah orang tuaku. Seperti saat ini beberapa anak kecil sudah mulai berdatangan ingin mengajak Afwa dan Afwi bermain.


"Dik Afwa, dik Afwi bermain yuk!" panggil anak kecil seumuran dengan si kembar.


"Sebentar aku masih maem," jawab Afwa dan Afwi "Kamu susah maem?" tanya Afwa menghampiri temannya di teras.


"Sudah, maem o dulu aku tunggu ya aku duduk di sini nunggu kamu, ini aku bawa mainan baru." ucap anak tersebut.

__ADS_1


"Le, maem ya." ibukku menghampiri dan menawari anak tersebut untuk makan.


"Aku tadi sudah maem kok mbah, di rumah bareng ibuk, aku duduk si sini saja mbah nunggu dik Af." jawab anak tersebut polos.


"Kamu masuk sini lo le." perintah ibukku.


"Aku nunggu di sini saja mbah." jawab anak tersebut tetap pada penderiannya.


"Yo wes duduk anteng ya jangan kemana mana ya." perintah ibukku.


Mendengar obrolan mereka ingin sekali aku tertawa teebahak-bahak, anak itu lucu sekali.


"Siapa to buk kok lucu sekali?" tanyaku saat melihat ibukku kembali bergabung dengan kami semua.

__ADS_1


"Anak e tetangga sebelah." jawab ibukku sudah kembali duduk.


Tidak begitu lama Afwa dan Afwi mengakiri makan paginya, begitu selesai makan Afwa dan Afwi segera menghampiri anak tersebut, aku dapat melihat mereka begitu akrab.


"Mereka akrab sekali?" tanyaku.


"Kamu itu jadi ibunya kok gak tahu sih Fah," ucap ibukku.


"Aku lam memang gak tahu buk, sudah beberapa kali aku tidak kesini," ucapku.


"Ya, iya sih beberapa bulan ini yang ngajak anakmu ke sini kan susmimu." jawab ibukku lagi.


Acara sarapan pagi berakhir kami semua saling membantu merapikan bekas makan tadi, aku bagian jaga anak-anak yang sedang bermain di teras orang tuaku. Rumah yang aku bangun dulu kini di huni oleh Fauzan dan Nafisa, sehingga tetap terawat dengan baik.

__ADS_1


Sesuai dengan rencana aku, pak Catur, bapak dan mas Jamal serta Afriana menuju rumah orang tua mas Ringgo, anak-anak sengaja tidak aku ajak karena aku tidak ingin nanti mengganggu, Alifa yang masih bayi aku titipkan ke keluargaku. Sebelum berangkat bapakku banyak memberi nasehat pada Afriana, Afriana memang jarang sekali datang ke rumah orang tua mas Ringgo, pertama memang keluargaku melarangnya demi keselamatan Afriana, kedua karena Afriana memilih menempuh pendidikannya di pesantren dan semenjak di pesantren Afriana hanya pulang dalam kurum waktu enam bulan sekali. Kami semua berharap semoga dengan hadirnya Afriana bisa menjadi obat kesembuhan mas Ringgo. Sebenarnya aku tahu dalam diri Afriana masih ada rasa trauma mengingat selama bersama mas Ringgo Afriana sering mendapat perlakuan dingin dari mas Ringgo.


__ADS_2