TALAK

TALAK
Part 284 TALAK


__ADS_3

Lima belas menit kami menunggu para pengiring manten lainnya untuk berkumpul, acara akad akan di laksanakan pukul sepuluh pagi, maka jam setengah enam pagi kami sudah mulai bergerak untuk berangkat menuju lokasi. Rombongan pertama berisi pengantin orang tua dan kerabat lainnya, sedangkan Afriana tetap berada satu mobil denganku dan Pak Catur. Jalanan menuju lokasi sangat lancar tidak ada kendala sedikitpun, karena hari minggu sehingga tidak ada yang namanya ramainya para pekerja yang berangkat kerja di pagi hari. Dua jam perjalanan mobil rombongan sudah sampai di rumah mempelai, persiapan untuk akad nikah sungguh sangat meriah rumah joglo itu kini sudah dihiasi oleh dekorasi minimalis, dengan warna putih bersih.


Para tuan rumah menyambut kami dengan wajah yang berbinar-binar, ini kekonyolanku yang kedua setelah dua minggu lalu aku mengantar mantan suamiku untuk melanr sekarang aku malah mengantar mantan suamiku untuk menikah, ya benar-benar konyol, aku tetap bersanding dengan Pak Catur sedikitpun aku bergeming, aku benar-benar bisa tertawa di dalam hati.


"Aku yakin bunda tidak memiliki perasaan apa-apa lagi terhadap Ringgo," bisik pak Catur padaku.


"Temang saja mas aman, walau terlihat sangat konyol sekali," gurauku dengan diniringi senyum yak tidak bisa aku taham lagi.


"Ya, benar-benar konyol sayang, untung dulu aku segera menikahi Dinda, kalau enggak ah entahlah." timpal pak Catur.


"Kenapa, mas takut aku gantung diri?" tanyaku.


Pak Catur tidak menjawab dia hanya mengedikan bahunya.


"Tidak ada dalam kamus kehidupan Dinda untuk bunuh diri mas, apalagi hanya karena Asmara," cibirku.


"Masa,?" goda pak Catur "Perasan sekarang mas tinggal sebentar saja dibda sudah mencari gitu," ledek pak Catur lagi.

__ADS_1


"Anak-anak mas yang cari," bisikku pada pak Catur.


"Alasan, padahal yang kangen ibunya anak-anak," goda pak Catur lirih.


"Mas, gak enak di dengar orang." ucapku.


"Tidak ada yang mendengar sayang," bisik pak Catur" Putriku cantik sekali." puji pak Catur pada Afriana yang baru selesai dirias dengan riasan natural.


"Sudah selesai Af," tanyaku.


"Sudah buk, cantik gak buk?" tanya Afriana padaku.


"Bagaimana yah?" Afriana bertanya pada pak Catur.


"Cantik sekali tidak jauh beda dengan ibumu, " Puji pak Catur semakin tinggi dan dengan senyum ramah dan Indah.


Afriana sebagai anak dari mas Ringgo ternyata dia juga masuk dalam daftar rias, ya Afriana tadi dipanggil oleh kerabat dari mbak Isnaini dan mengatakan dia harus ikut di rias. Kini Afriana sudah keluar dari tempat dia di rias dan kembali duduk bersama kami.

__ADS_1


Menurut info dari Afriana mantennya belum selesai di rias jadi kami masih harus tetap menunggu lagi, karena acara belum mulai kami duduk tidak betaturan. Sambil menunggu sang pengantin selesai dirias keluarga pihak mempelai perempuan menyuguhkan sebuah hiburan hadrah, para personil hadrah katanya juga dari santri di tempat mas Ringgo dan mbak Isnaini mengabdi.


Di saat kami sedang mengobrol dengan Afriana salah seorang kerabat mbak Isnaini menghampiri kami lagi, mereka meminta Afriana untuk melantunkan sholawat.


"Mbak Af, boleh kami minta mbak melantunkan sholawat bulek bilang mbak pandai bersholawat," pinta remaja tadi, ya remaja yang usianya tidak jauh dari Afriana.


"Saya gak begitu bisa kok mbak," jawab Afriana merendah.


"Bulek bilang mbak pememang Qori sekabupaten, kami yakin suara mbak sangat bagus." pinta remaja itu penuh harap.


"Af, lakukan, Afri gak ingin bapak dan Ibu Is kecewakan?" tanyaku cemas.


"Tapi buk, di sini kan Afri hanya tamu," tolak Afriana halus.


"Af, ayo sayang, sekali saja, OK, bukankah mbah dan bapak belum pernah mendengar secara langsung saat Afri, bersholawat maupun ngaji, lakukan Af," pintaku lembut.


"Baik, Buk, terima kasih buk, ibuk selalu bisa melukuhkanku, Afri akan coba, Yah buk Buk, doakan Afri supaya tidak nervous," jujur Afriana.

__ADS_1


Afri dengan langkah biasa dan senyum yang ramah serta sopan dia melangkahkan kakinya menuju di mana ada panggung kecil yang diisi oleh para santri anggota hadrah. Afri setelah berada di atas panggung dia mulai melantunkan sholawat, Lantunan suara sholawat Afri sangat merdu, banyak para pengunjung yang memuji kemerduan dan keindahan suara Afriana, dan ada juga yang penasaran dengan Afri, karena Afri tidak memakai seragam hadrah seperti para peserta hadrah yang berada di rumah orang tua mbak Isnaini. Satu lagu dua lagi hingga lagu ke lima suara merdu Afriana menambah meriahnya menyambut acara akad nikah mas Ringgo dan mbak Isnaini.


__ADS_2