
Hari demi hari aku lali sama seperti biasa, pegi berangkat kerja dan mengantar Afriana ke sekolah dulu.
Hari ini jadwal di kantor sangat padat pagi - pagi sekali harus segera ketemu klien di sebuah restaurant yang ada di hotel ternama di kotaku.
"Mbak,Fah, sudah siap jangan sampai telat, dan jangan sampai ada yang tertinggal!" perintah pak Catur yang baru saja sampai di kantor.
"Semua sudah siap, pak, tinggal nunggu bapak saja " jawabku sambil menata note dan beberapa berkas yang diperlukan.
"Baiklah, sepuluh menit lagi kita berangkat " ucap Pak Catur.
Kami berdua berangkat menuju hotel untuk malaksanakan pertemuan penanda tanganan persetujuan kontrak kerja sama antara perusahaan rokok kami dan perusahaan periklanan. Tepat jam sembilan pagi kami berdua susah sampai di hotel tersebut tepat waktu. Di sana sudah ada beberapa model yang di tawarkan oleh pihak periklanan untuk kami sewa dalam mempromosikan produk pabrik Cakra Lima.
Perusahaan kami sedang meluncurkan produk baru serta mengganti kemasan yang lama ke kemasan yang terbaru. Tujuan perusahaan kami di samping memasarkan produk terbaru juga ingin mengiklankan jika perusahaan kami sedang membangun pabrik baru di kota Madiun, dan juga berenacana membuka lowongan pekerjaan beberapa bulan lagi.
"Selamat pagi Pak Catur silahkan duduk !" ucap agen periklanan" Selamat pagi bu Afifah, silahkan duduk "
" Selamat pagi Pak, Irwan kita berjumpa lagi " sapa Pak Catur.
"Senang sekali bisa bertemu lagi dengan anda Pak Catur, kapan hari aku ketemu bu Irma di pusat, ternyata kamu sudah pindah di cabang sini, saya kira masih di jawa tengah" ucap Pak Irwan terlihat akrab.
"Pingin suasana yang baru" jawab pak Catur santai" Mbak tolong kamu cari model yang pas, dan sesuai dengan produk yang akan kita luncurkan nanti" perintah pak Catur padaku.
__ADS_1
"Baik pak " jawabku sopan walau sedikit terkejut.
Aku langsung melihat beberapa foto dan juga melihat orangnya secara langsung, aku kira pak Catur sendiri yang milih gak tahunya malah aku yang di suruh milih, dan ini adalah pengalamanku yang pertama kali dalam memilih model untuk pemasran produk.
Di saat aku memulai menimang nimang model yang sesuai, Pak Catur juga sedang asyik bercerita berdua dengan pak Irwan dengan santainya.
"Tumben kamu pakai sekertaris perempuan?" tanya pak Irwan.
"Dari pabrik cabang sini hanya dia yang bisa di andalan dan juga hanya dia yang memenuhi kriteria perusahaan" jawab pak Catur santai.
"Dari pembawaannha dia memang sudah kelihatan jika dia memiliki dedikasi tinggi, siapa yang memilih akan, jangan - jangan ada campur tangan mbak Irma dan mbak Priska ?" tebak pak Irwan.
"Pastinya ada seleksi khusus, Wan, istrimu tidak ikut datang kesini ?" tanya pak Catur.
" Si kecil umur berapa sekarang?" tanya pak Catur.
"Satu setengah tahun, yang besar sekolah jadi tidak ikut, sekalian jalan - jalan " ucap Pak Irwan.
"Bagus juga, biar gak belok " ucap Pak Catur.
"Belok kerumahmu?, tidak mungkin aku belok, sepuluh tahun kita berjuang bersama sama merintis usaha ini dan bisa berjaya seperti ini dan siapalah aku tanpa dia " terang pak Irwan.
__ADS_1
"Maaf pak Catur, pak Irwan, bagaimana jika kita pakai model ini dan ini saja, sepertinya dia sangat cocok dengan konsep kita nanti" usulku dan menunjuk satu model perempuan dan satu model laki - laki.
"Apa alasannya, mabk pilih mereka ?" tanya pak Irwan kepadaku.
"Karena konsep kita tentang pedesaan dan pertanian maka saya rasa meraka lebih cocok, dan sangat mendukung dengan kulit yang sawo matang serta rambut yang ikal, dari segi postur tubuhnya juga pas" jelasku sesuai pengamatanku " itupun jika bapak setuju " tambahku.
"Baiklah, Wan aku pilih sesuai dengan mbak, Fah," ucap Pak Catur.
"Baik, kita tinggal atur jadwak syuting dan menentukan lokasi, bagaimana pun aku juga harus survey lokasinya " terang pak Irwan.
"Setuju, soal pembayaran seperti biasa, kapan kamu ada waktu untuk survey lokasi?" tanya pak Catur pada pak Irwan.
"Pertengahan bulan depan, aku kembali kisini untuk survey lokasi, karena nanti sore harus segera ke surabaya until memghadiri pemilihan model " terang pak Irwan.
"Kita, tunggu, sudah siang seabiaknya kita makan siang dulu " ucap pak Catur.
Kami semua menuju sebuah restaurant yang ada di hotel untuk mengisi energi. Saat menjelang makan siang istri pak Irwan serta anak dan pengasuhnya ikut bergabung dengan kami semua. Aku melihat mereka sangat akrab dan sepertinya sudah lama saling kenal. Saat makan siang canda tawa di antara mereka juga tidak terlewatkan, bahkan kadang mereka melontarkan kata - kata konyol dan membuat semua ikut tertawa, di tambah tingkah bayi gemul pak Irwan yang sangat menggemaskan.
Selesai metting dan makan makan siang kita berdua kembali lagi ke Kantor. Sesampainya di kantor aku segera menyelesaikan dokumen yang di minta oleh pak Catur. Begitu dokumen sudah selesai aku kerjakan langsung aku serahkan ke pak Catur untuk di periksa ulang di minta persetujuan.
Tok Tok Tok
__ADS_1
"Masuk " perintah pak Catur dari dalam.