
Pagi ini setelah mengantar Afriana ke sekolah aku kembali pulang, aku siapkan semua dokumen yang diperlukan untuk pengajuan gugatan perceraianku dengan mas Ringgo.
Aku berdandan seperti biasa bawahan celana kain panjang atasan tunik di padu dengan pasmina, jam 8 pagi mas Jamal sudah sampai rumahku, pagi ini mas Jamal yang mengantarku ke Pengadilan Agama Madiun.
"Mas, kita ke kantor pos dulu, soalnya ada surat yang harus di ligalisir kantor pos, bermeterai, dan juga harus beli map di kantor pos" ucapku menjelaskan pada mas Jamal.
"Baiklah, pamit bapak ibuk dulu " perintah mas Jamal sebelum berangkat.
Aku mencari ibuk dan bapak di rumahnya kebetulan orang tuaku baru pulang dari pasar untuk jualan sayur.
"Buk, Pak, doakan lancar ya " pamitku sopan.
"Doa ibuk dan bapak selalu untuk anak -anak semuanya, yang tambah ya Fah, semoga setelah ini tidak ada lagi cobaan yang berat untukmu" ucap ibuku menitikan air mata.
"Ya, hati - hati, Mal, jaga adikmu naik motornya pelan - pelan saja jangan ngebut " nasihat bapak.
"Inggih, Pak " jawab mas Jamal singkat.
Mas Jamal memboncengku dengan sepeda motor menuju kantor pos yang ada di kota, sampai kantor pos aku langsung menuju kasir untuk minta ligalisir pada foto kopi dokumenmu, foto kopi buku nikah, foto kopi ktp dan foto kopi kartu keluarga, semua harus berligalisir dan bermetrai. Setelah kurang lebih setengah jam di kantor pos aku dan mas Jamal menuju kantor Pengadilan Agama.
Mas Jamal dengan sabar menemaniku, begitu sampai di Pengadilan Agama aku langsung menuju loket informasi, dari situ aku mendapatkan nomor, setelah giliranku tiba aku menuju loket pendaftaran gugatan cerai, di situ aku di suruh ngisi formulir gugatan cerai.
Formulir aku isi secara terperinci dan jelas, alasan aku mengajukan gugatan cerai juga sudah aku jelaskan secara detail. Selesai mengisi formulir aku di tanya langsung oleh petugas loket pendaftaran dan menyerahkan formulir gugutanku ke konter administrasi, petugas konter administrasi mengintrogasiku untuk mencocokan antara tulisan surat gugatanku dengan ucapan lisanku. Setelah mendapatkan nomor kode aku di suruh membayar lewat transfer bank BRI. Dengan di antar mas Jamal aku pergi ke bank Bri teedekat untuk melakukan pembayaran, selesai dari Bank BRI, aku kembali lagi ke kantor Pengadilan Agama.
__ADS_1
Aku serahkan kwitansi pembayaran ke loket administrasi " Ini mbak kwitansinya"
"Baik, bu, ini jadwal ibu untuk sidang dua minggu lagi, dan jangan lupa selalu bawa kartu ini bu, jika persidangan berjalan cepat maka uang ibu jika tersisa kami pasti mengembalikannya pada ibu " terang petugas konter secara detail.
"Baik, terima kasih mbak, untuk jamnya bagaimana, mbak ?" tanyaku pada petugas konter.
"Jika ibu ingin cepat selesai ibu bisa datang lebih pagi untuk mengambil nomor antrian " jelas petugas konter.
"Baik, terima kasih, mbak " ucapku
Dua jam setengah aku mengurus surat gugatan cerai di kantor Pengadilan Agama, aku keluar dari kantor Pengadilan Agama dengan Jamal langsung menuju rumah tanpa mampir ke mana mana karena aku harus kembali ke kantor setelah jam istirahat.
Sampai di rumah aku langsung ke rumah orang tuaku, karena kedua orang tuaku serta Nafisa sudah menunggu kedatangan kami untuk mengetahui perkembangannya.
"Bagaimana mbak ?" tanya Nafisa ikut cemas.
"Alhamdulillah, lancar, dua minggu lagi sidangnya" jawabku
"Bayar berapa?" tanya bapakku.
"Cuma satu juta pak " jawabku singkat.
"Semoga lancar " doa bapakku.
__ADS_1
"Iya, aamiin yarobbal'alamin " jawabku.
"Keluarga, Ringgo pasti kaged, kamu hati - hati, Fah " pesan mas Jamal.
"Iya mas "
"Ya sudah aku pulang dulu, Fah, waktu sidang jangan lupa kasih kabar, soalnya aku suka lupa kalau kamu gak kasih kabar lagi " ucap mas Jamal dan pamit pulang.
"Gak makan dulu, Mal?" tanya ibuku.
"Makan di rumah saja buk, mau jemput Zahra juga, takut kesiangan " jawab mas Jamal dan langsung pulang.
Setelah mas Jamal pulang aku langsung mandi, makan siang, sholat dzuhur, ganti baju kerja. Jam setengah satu aku starter motorku untuk menuju kantor tempat aku bekerja, aku sampai kantor pas jam satu siang yang berarti waktunya masuk kantor lagi setelah istirahat.
Sesampainya di lantai atas aku masuk ke ruangan pak Catur untuk laporan jika Aku sudah kembali ke kantor tepat waktu sesuai dengan janjiku kemarin.
"Selamat siang, pak, saya sudah kembali?" sapaku saat berada di ruangan pak Catur.
"Siang, mbak segera siap - siap setengah jam lagi kita menuju pabrik untuk melihat keadaan di sana" ucso pak Catur datar.
"Baik, Pak saya akan segera siap - siap" jawabku singkat.
Setelah semua siap aku dan Pak Catur meluncur ke lokasi pabrik, hanya berdua saja, pak Catur jarang sekali pakai sopir jadi kemana mana sering nyetir sendiri. Aku duduk di bangku samping pak Catur karena pak Catur melarangku untuk duduk di bangku belakang, walau sedikit canggung aku turuti permintaan pak Catur, dan ini sebenarnya bukan yang pertama kali berada dalam satu mobil dengan Pak Catur hanya berdua.
__ADS_1