
"Pak sudah jam empat, kita belum sholat ashar lho." ucapku mengingatkan waktu.
"Cepat sekali, perasaan baru saja duduk kok ya sudah sore, sebenarnya sore-sore duduk di sini enak, sejuk damai, dan santai, rasanya benar -benar segar di otak." ucap Pak Catur sambil menghirup udara dalam-dalam.
"Tapi kita gak punya banyak waktu pak, jangan sampai ketinggalan ashar hanya karena kenikmatan dunia yang sesaat" ucapku sopan.
Pak Catur langsung menoleh ke arahku sambil tersenyum "Terima kasih, kamu sudah mengingatkan ku, baiklah kita cari mushola terdekat" ucap Pak Catur.
"Di sini memang menyenangkan dan udaranya juga sangat sejuk serta segar tapi ya jangan terlalu sore pulangnya, banyak bahaya yang mengintai." ucapku jujur.
"Maksudmu?" tanya pak Catur.
"Ada hal yang tak kasat mata, jadi sebaiknya kita segera meninggalkan tempat ini, Pak sebelum terjadi hak tidak di-inginkan." ucapku lagi.
"Baiklah, sebenarnya aku ingin mengajakmu naik di atas sana ada air terjunnya masih alami, tapi waktunya sudah tidak kemungkinkan, kita ke caping gunung saja sekalian cari makan sebelum pulang." ucap Pak Catur.
Kami berdua beranjak dari tempat duduk dan lokasi sudah mulai sepi, para pedagang juga sudah kukut, para pengunjung tinggal beberapa orang, dengan mengendarai sepeda motor kami berdua menuju warung caping gunung yang menjadi icon desa setempat. Caping gunung sebuah warung yang menanpilkan pemandangan alam yang masih sangat alami, di saat menikmati menu yang tersaji bisa sambil melihat hanparan hijau sawah yang luas, sungai yang masih alami mengalir jernih dengan bebatuan sungai yang besar-besar. Keadaan sungai tidak beda jauh dengan sungai yang di grape, indah namun wingit(angker).
Tidak butuh waktu lama hanya sepuluh menit kami berdua sudah sampai di warung caping gunung, kami memilih lokasi yang bisa melihat sungai, kita bergantian untuk sholat ashar dulu sambil menunggu pesanan datang, ayam taliwang serta es bukit wilis menu yang menjadi pilihan kita.
__ADS_1
"Mbak, tadi mbak bilang tak kasat mata, mbak melihat sesuatu kah?" tanya pak Catur padaku.
"Tidak, hanya merasakan, sungai itu angker pak, hampir tiap tahun makan korban makanya jangan terlalu sore, kita harus segera pergi sebelum magrip, apalagi kita ini tamu jangan sampai menyalahi aturan sang pemilik rumah." ucapku.
"Aku pernah dengar dari kakung, juga pernah baca beruta banyak pelajar yang hanyut saat kegiatan jelajah alam, karena tiba-tiba air bah turun dari atas dengan derasnya" ucap Pak Catur.
"Ya, makanya saya gak mau terlalu sore di sana tadi, pak," jawabku" Maaf pak jika saya lancang, saya kira bapak harus hati-hati dengan pesaing-pesaing bapak, saya harap bapak lebih meningaktakan ibadah bapak, dan mintalah pertolongan kepada Allah, akan ada tamu yang datang." ucapku.
"Maksud mbak?" tanya pak Catur sambil mengernyitkan matanya.
"Lebih baik bapak tanya kakung inshaallah beliau lebih paham." ucapku.
"Baiklah, nanti saya temui kakung, sudah sore ayo kita pulang sebentar lagi magrib" perintah pak Catur.
Sebelum pak Catur mengantarkanku kembali kerumah, aku minta pak Catur untuk berhenti dulu di toko buah karena ada buah yang akan aku beli untuk keluargaku.
Aku memilih dua kilo jeruk mandarin dan dua kilo alpukat untuk oleh-oleh, dan pak Catur tetap mengikutiku saat beli buah.
"Semuanya berapa mbak ?" tanyaku pada pedagang buah.
__ADS_1
"Semuanya lima puluh ribu mbak" ucap pedagang sambil menyerahkan dua kanton kresek padaku.
Di saat aku mau bayar ternyata pak Catur sudah menyodorkan uang terlebih dahulu" Ini mbak" ucap Pak Catur.
Selesai membayar kami menuju parkir sepeda motor, sampai di parkiran sepeda motor aku kembalikan uang pak Catur.
"Ini pak uangnya" ucapku sambil menyodorkan uang lima puluh ribu " Terima kasih"
"Uang untuk?" tanya pak Catur padaku.
"Kan tadi bapak yang membayar duluan, jadi sekarang saya ganti" uacpaku sambil senyum.
"Tidak usah, biarkan aku yang belikan untuk keluargamu" ucap Pak Catur.
"Terima kasih pak, tapi lebih baik saya bayar sendiri saja karena saya tidak terbiasa menerima pemberian dari orang lain" ucapku.
"Mulai sekarang biasakan untuk bisa menerima pemberianku, anggap saja ini bonus karena sudah menemaniku untuk mengecek pabrik tadi" ucap Pak Catur santai.
"Saya rasa saya tidak berhak, untuk itu, karena bapak sudah menggaji saya setiap bulan" ucapku "Dan jika ingin kasih bonus sekalian yang banyak" gurauku sambil senyum.
__ADS_1
"Sekarang naiklah aku antar kamu pulang, keburu malam" perintah pak Catur.
"Ohhh... Rupanya begini ya kelakuanmu, ngajukan cerai hanya ingin segera kencan dengan laki-laki lain " ucap Mas Ringgo yang sudah berada di sebelah ku berdiri.