
"Mas,"
"Ayo turun, mas sudah tahu pasti sudah lapar kan?" tebak pak Catur.
"Kadang aku malu mas, masa baru makan sudah makan lagi," keluhku.
"Sayang, jangan mikir yang aneh-aneh yang penting Dinda sehat, dua hari lagi kita bisa pulang ke Madiun pekerjaan mas hampir selesai," ucap Pak Catur sambil berjalan menuju mushola.
Semua penghuni keluarga Cakra melakukan sholat dhuhur berjamaah, biasanya papa yang menjadi imam, namun kadang pak Catur yang menjadi imam ataupun suami mbak Irma. Selesai sholat dhuhur kami semus berada di ruang makan, kami semua makan bersama, diantara kami tidak ada yang bersuara, kareba setelah makan kami akan melanjutkan aktifitas masing-masing terutama papa, ya sebenarnya papa sangat sibuk karena permintaan mama akhirnya papa menurutinya. Papa segera pamit untuk kembali ke kantor setelah makan siang di rumah.
"Pa, nanti malam jangan pulang telat," pesan mama pada papa yang mau kembali ke kantor.
"Siap mama," jawab papa dan pergi dengan sopir.
"Ma, papa kan lagi sibuk !" ucap Pak Catur.
"Papamu setiap hari ya sibuk, sesibuk - sibuknya seorang ayah harus ada waktu untuk keluarga, apalagi sekarang ada anak cucu sedang berada di sini, jangan sampai karena uang mengabaikan keluarga," nasehat mama bijak.
Aku mendengar percakapan mama dan Pak Catur membuatku harus banyak belajar dari mama.
"Fah, kamu pingin apa, mumpung ada di sini?" tanya mama padaku.
"Fah, nggak pingin apa-apa, mah," jawabku jujur.
"Istriku itu sungkan lo Ma, katanya gak enak jika harus sering makan," adu pal Catur enteng.
"Fah, Fah, kamu itu nyawa tiga, ya sudah sewajarnya jika kamu harus sering makan, lapar ya makan saja Fah, pingin apa tinggal bilang" nasehat mama.
"Iya, mah," jawabku.
"Pinginnya istriku itu ya cuma pingin dekat denganku saja Ma,"
"Ya sudah sewajarnya Ton, beruntung istriku maunya dekat sama ksmu coba kalau yang gak mau dekat dengan suaminya, apa kamu gak menderita, seperti mama dulu waktu hamil masmu Dwi, selama enam bulan gak mau dekat dengan papamu, setiap hari ya uring-uringan, beruntung papamu paham, kalau nggak mungkin Papsmu sudah pergi, jadi mama pesan, emosi wanita hamil itu tidak menentu jadi kamu harus lebih banyak belajar, terutama belajarlah dari papa," nasehat mama.
"Inshaallah Ma, nanti malam aku tak belajar sama papa," jawab pak Catur.
"Kalian tinggallah di sini seminggu lagi, mamakan juga pingin ikut merawat putri dan cucu mama," pint mama.
__ADS_1
"Maunya begitu Ma, tapi pekerjaanku banyak, di tambah aku harus segera melakukan seleksi untuk sekretaris baru, mama gak mau kan jika putri dan cucu mama ikut bekerja," rayu pak Catur.
"Ya, kamu udah tahu mau menikahi Afifah bukannya cepat- cepat cari ganti, sekarang malah baru cari ganti,"
"Kan, dulu aku takut di tolak Ma, bersyukur doa-doaku dikabulkan oleh Allah SWT, beruntung juga dulu ngikuti nasehat kakung untuk meminta langsung ke bapak dan ibuk," ucap Pak Catur mengenang masa lalu " Ma aku mau ajak anak istriku jalan-jalan," pamit pak Catur pada mama.
"Kemana, jarang terlalu sore pulangnya, " pesan mama.
"Pasti Ma, kita segera pulang akukan juga tidak ingin anak dan istriku kelaparan," jawab pak Catur.
Pak Catur mengajakku menikmati udara sore di sekitar komplek, kami berdua berjalan menuju sebuah taman yang di khususkan bagi penghuni komplek, di sana banyak orang yang sedang sekedar duduk santai atau sedang sibuk dengan gadgedbya, ada yang sibuk bermain dengan anak-anak, atau sedang mengajak orang tua untuk melepas penat, ada juga yang berolahraga dengan menggunakan fasilitas alat olah raga yang disediakan di taman. Aku dan Pak Catur menyusuri setiap sudut taman, taman yang indah, dan asri, cukup nyaman untuk sekedar melepas penat. Setelah sedikit lelah berjalan aku dan Pak Catur memilih duduk di sebuah bangku sambil melihat para pengunjung yang sedang berlalu lalang di taman.
"Besok kita ke dokter dulu sebelum kembali ke kota Madiun, mas ingin memastikan kesehatan Dinda dan kedua anak kita," ucap Pak Catur.
"Bukannya mas besok ke kantor?" tanyaku.
"Pagi ke kantor, siangnya mas antar Dinda ke dokter, sudah lapar apa belum? ini mas bawakan apel, makan dan minumlah dulu," ucap Pak Catur sambil menyodorkan kotak berisi buah apel yang sudah dipotong serta sebotol jus tomat yang dikeluarkan dari dalam tasnya.
"kapan mas menyiapkan ini semua?" tanyaku, aku tak menyangka jika di dalam tas punggung pak Catur ada buah apel dan jus tomat, aku kira isinya hanya dompet dan air saja.
"Dari siang aku minta mama untuk menyiapkannya," jawab pak Catur.
Sore yang sejuk setelah duduk kurang lebih satu jam aku dan Pak Catur memutuskan untuk pulang, karena jam juga sudah menunjukan pukul empat dan sudah masuk waktu sholat ashar, kemi berjalan menyusuri jalanan komplek, jarak rumah dan taman memang tidak jauh kami hanya butuh waktu lima belas menit jalan kaki dari rumah keluarga Cakra ke taman. Begitu sampai rumah aku dan Pak Catur segera menuju kamar untuk membersihkan diri.
Drrrrrrttttt Drrrrrrttttt
Hpku berdering tertera nomor adikku Fauzan.
[Assalamu'alaikum Zan] aku.
[Wa'alaikum Salam Mbak] Fauzan.
[Bagaimana kabarnya di rumah, tumben nyari aku] aku.
[Pingin kenalan sama keponakanku] Fauzan.
[Dasar, Nafisa bagaimana?] aku.
__ADS_1
[Alhamdulillah baik, sebulan lagi waktunya bikin rujak, mbak gak menetap di Jakarta kan?] Fauzan.
[Ya, enggak kalau menetap disini bagaimana dengan pekerjaan Mas] aku.
[Sykurlah, takut mbak menetap di Jakarta, aku kan gak ada temannya] Fauzan.
[Ngomong saja gak ada yang belikan jajan] aku.
[Zan, istrimu kepingin apa mumpung masih di sini?] pak Catur.
[Bawain monas saja mas] kelakar Fauzan.
[Dasar sableng] pak Catur.
Kami bertiga bercengkerama lewat video call, ya antara aku dan Fauzan sudah dua minggu lebih tidak bertemu karena Fauzan tidak ikut ke Jakarta dalam acara resepsi pernikahanku. Kamu bercakap-cakap hampir sat jam, entah apa saja yang kita ceritakan mengukang waktu pertama kali aku menjadi sekretaris pak Catur, aku mengeluh ke Fauzan karena harus memasak kembang kates, serta Fauzan yang pernah mengusulkan padaku agar aku mengundurkan diri.
"Beruntung Dinda tidak mengikuti usul Fauzan!" ucap Pak Catur.
"Kenapa?" tanyaku.
"Kalau Dinda mengundurkan diri aku kan tidak ada alasan untuk bisa mendekati Dinda, maaf kalau dulu mas sangat rewel, salah sendiri masakannya enak banget, bikin nagihi," ucap Pak Catur.
Mendengar pengakuan pak Catur aku hanya senyum-senyum," Oh ya mas terima kasih dulu sudah bayar nasi gorengku dan mbak Rani," ucapku mengingat waktu itu.
"Siapa yang bayar?" tanya pak Catur.
"Jangan pura-pura mas, aku tahu kalau mas juga makan nasi goreng di warung tenda waktu itu," ucapku.
"Aku kira Dinda tidak tahu, kenapa dulu tidak gabung atau menyapa mas sombong amat,"
"Aku tuh bukannya sombong mas, nanti di kira aku sok kenal sok akrab tahu nggak mas waktu itu mbak Rani sampai mengira mau di jadikan tumbal, karena pemilik warung tidak mau di bayar," aku ceritakan waktu kejadian waktu itu.
Pak Catur malah tertawa terabahak-bahak mendengar ceritaku "Sekarang mabk Rani benar jadi tumbal kan,"
"Maksud Mas?" tanyaku.
"Tumbal Dinda, sekarang mbak rani kan jadi tumbal perpindahan jabatan," kelakar pak Catur.
__ADS_1
"Gak lucu mas," sahutku.
"Memang bukan pelawak kok suruh lucu, mau adzan magrip ayo segera turun kita berjamaah di mushola bawah, jangan sampai telat," perintah pak Catur.