
Benar kata mama jam sebelas siang bunda datang ke rumah sakit untuk menjengukku, bunda juga sangat menyayangiku begitu melihat aku terbaring bunda menitikan air mata, bunda memelukku penuh kasih.
"Cepat sembuh ya sayang," ucap bunda "Ton," bunda memanggil pak Catur dengan nada cemas.
"Maaf bunda," sahut pak Catur masih dengan nada raut muka bersalah.
"Bagaimana kamu bisa teledor seperti ini?" tanya bunda.
"Maafkan aku bunda seharusnya istriku tidak bekerja, semua karena keteledoranku, sebab aku tidak cepat cari pengganti sekretaris," jawab pak Catur penuh penyesalan.
"Sekarang sudah cari?" tanya bunda.
"Sudah bunda, mulai sekarang istriku tidak akan bekerja lagi, aku juga sudah menyewa suster khusus untuk menjaga istri dan anakku, mbak Priska yang mencarikannya," tutur pak Catur
Aku mengernyitkan dahulu ketika mendengar pengakuan dari Pak Catur, "Mas apa perlu?" tanyaku.
"Sangat perlu sayang, semua demi keselamatan Dinda dan anak kita," ucap Pak Catur lembut.
__ADS_1
"Kami semua sangat menghawatirkanmu, dan juga suamimu sayang, kami semua tidak ingin kejadian delapan tahun lalu terulang kembali," tutur mama lembut.
Sekarang aku paham, ternyata kejadian delapan tahun yang lalu sangat membekas dihati keluarga Cakra, karena hari sudah siang bunda pulang duluan namun mama tetap menemaniku. Jam dua kurang lima belas menit seorang suster datang dengan membawa kursi roda, dengan sabar dan telaten pak Catur memindahkanku untuk duduk di kursi roda, serta mendorong kursi roda menuju ruangan dokter untuk melakukan USG. Di ruang USG aku di temani oleh pak Catur dan mama, dokter mulai melakukan proses USG, jujur aku tidak begitu paham apa yang ada di layar monitor, dokter sambil menggerakan alat di perutku juga menerangkan apa yang ada di layar monitor.
"Usia kandungan ibu sudah delapan minggu, di sini ada dua titik, semoga layarnya tidak salah inshaallah ibu dan bapak akan memiliki anak kembar, namun untuk lebih jelasnya kita harus melakukan USG ulang ketika kandungan ibu berusia dua belas minggu, itu sebabnya membuat sang ibu mudah lelah," jelas dokter ramah dan sopan.
Memang benar, dulu waktu mengandung Afriana aku masih bisa bekerja di pabrik dan tidak ada masalah apapun hingga persalinan, dulu aku sangat sehat, atau mungkin dulu bayiku tahu akan keadaan orang tuanya sehingga tidak rewel. Namun sekarang aku sudah dua kali mengalami sakit bahkan sampai pingsan segala. Mungkin juga anaknya tahu jika sekarang semua menyayanginya sehingga sedikit manja.
"Jika keadaan ibu membaik, besok lusa ibu boleh pulang namun pesan saya, mulai sekarang ibu harus istirahat total dan usahakan untuk ikut kelas kehamilan, supaya ibu dan bayinya sehat serta lancar dalam proses persalinan nanti," saran dokter setelah menyelesaikan tugasnya.
Selesai melakukan USG, pak Catur tidak langsung membawaku ke kamar, namun malah mengajakku duduk di taman yang ada di rumah sakit, untuk menikmati segarnya udara sore, di taman banyak sekali orang yang sedang sakit menghirup udara segar, namun jarak antara pasien satu dengan pasien lainnya tidak boleh berdekatan. Di taman aku melihat ada beberapa wanita hamil dengan perut sudah agak membuncit sedang ditemani oleh keluarganya duduk menikmati segar ya udara sore.
"Sayang mama pulang dulu, sebentar lagi papa waktunya pulang," pamit mama" Ton jaga Putri dan cucu mama, sepulang dari kantor mbak Irma bakal kesini, untuk sementara fokuslah pada istri dan anakmu, soal pekerjaan serahkan ke papa dan mbakmu," pesan mama.
"Terima kasih Ma," ucapku dan Pak Catur secara bersamaan.
Mama pulang dengan di ikuti oleh asisten mama, aku dan Pak Catur masih menikmati segarnya udara sore di taman.
__ADS_1
"Sayang sudah jam empat, kita sholat dulu," ajak pak Catur, aku menurut saja dengan ajakan pak Catur toh yang mendorong kursi roda pak Catur, Sesampainya di kamar pak Catur membantuku untuk berwudhu dan juga membantuku untuk memakai mukena, pak Catur yang mengimami aku sholat di kursi roda karena aku masih memakai infus dan belum begitu kuat untuk berdiri. Tidak seberapa lama orang suruhan keluarga Cakra datang dengan membawa makanan, sebenarnya jika soal makanan aku tidak masalah yang penting bukan dari restaurant. Orang suruhan keluarga Cakra di samping membawa makanan mereka juga membawakan baju ganti untuk pak Catur. Untuk keluargaku aku tidak memberitahukannya jika aku sedang sakit takut membuat meraka cemas, karena mereka baru saja pulang. Malam ini beberapa staf Cakra juga datang untuk menjengukku, Merak datang bersama dengan mbak Irma, bahkan beberapa teman pak Catur juga datang, aku tidak tahu pasti satu persatu karena aku orang baru berada di keluarga Cakra, karena waktu berkunjung habis maka mereka meninggalkan ruanganku.
"Mas, bagaimana teman mas bida tahu jika aku sedang sakit?" tanyaku penasaran.
"Salah satu teman akrabku bekerja di Cakra lima, salah satu kepercayaan mbak Irma, makanya mereka pada tahu," terang pak Catur.
"Pantas, perasaan mas itu di Madiun terus dan lagi bukankah mas sudah lama tidak tinggal di Jakarta," ucapku.
"Ya, mas jarang ke Jakarta jika bukan urusan pekerjaan atau karena memenuhi panggilan mama dan papa," jelas pak Catur.
Jam sembilan malam ada seorang suster yang mengecek lagi kedaanku, mereka mengecek tekanan darah, denyut nadi dan detak jantung, serta mengganti infus, karena infusnya dydag habis.
"Bagaimana keadaan istri saya sus?" tanya pak Catur pada suster yang bertugas.
"Kesehatan istri bapak semakin membaik, kemungkinan lusa sudah bisa pulang," jawab suster sopan.
Selesai memeriksa keadaanku suster meninggalkan ruanganku, di ruangan hanya ada aku dan Pak Catur, karena hari sudah larut dan jam kunjung juga sudah selesai
__ADS_1