TALAK

TALAK
Part 96 TALAK


__ADS_3

Sesampainya di pintu gerbang pabrik aku langsung turun dari motornya bapak dengan langkah tergesa-gesa aku menuju ruangan pak Catur, ternyata di dalam ruangan pak Catur sudah ada bu Priska dan manager HRD.


Tok Tok Tok.


"Masuk!" perintah pak Catur dari dalam.


"Assalamu'alaikum, maaf pak saya terlambat." ucapku gugup dengan hati yang sudah berdebar kencang.


"Silahkan duduk dulu mbak Fah!" perintah pak Catur tetap berwibawa.


"Kalau begitu saya permisi dulu pak." pamit manager HRD.


"Silahkan pak, untuk langkah selanjutnya aku kabari lagi." ucap Pak Catur ramah.


"Sudah selesai aku juga mau ke ruanganku Ton, ayo Fah." bu Priska ikut berpamitan.


"Mari bu." jawabku dengan senyum ramah.


Kini di dalam ruangan pak Catur tinggal aku dan Pak Catur, pak Catur menatapku dengan tatapan penuh tanda tanya "Ada masalah mbak, kelihatannya gelisah sekali?"


"Maaf, pak, ada sedikit masalah." kataku sedikit ragu.


"Katakan!" perintah pak Catur.


"Begini pak, untuk nanti sore boleh tidak saya pulang seperti biasa, tidak lembur maksud saya, bukan saya tidak mau kerja lembur namun pekerjaan saya bawa pulang, dan maaf pak, saya minta ijin ke bapak selama sidang saya belum selesai saya minta ijin untuk pulang di jam kantor." ucapku.


"Besok jadwal sidangmu, apa mantanmu bikin ulah?" tanya pak Catur penasaran.

__ADS_1


"Iya, pak karena bapak sangat khawatir dengan saya maka bapak meminta saya untuk pulang, di jam kantor." ucapku jujur.


"Sebenarnya ada apa mbak? Boleh ksmu ceritakan ke aku, apa ancaman dari mantanmu sangat berbahaya?" tanya pak Catur sambil mengerutkan alisnya.


"Saya rasa begitu pak, sebab jika bapak sudah bilang begitu memang ada hal yang berbahaya, namun apa? saya kurang paham, hanya bapak yang paham." ucapku jujur.


"Baiklah, aku ijinnkan namun aku harap pekerjaanmu tetap harus selesai tepat waktu, aku yakin kamu bisa."ucap Pak Catur.


"Terima kasih pak, semoga Allah selalu melindungi bapak dan berkelimpahan rahmat dari Allah SWT. Saya akan berusaha semaksimal mungkin pak." ucapku lega.


Aku segera kembali ke ruanganku untuk menyelesaikan pekerjaanku, semenjak menjadi sekretaris pak Catur aku pekerjaanku semakin banyak. Seperti hari ini aku harus menyelesaikan dokumen kontrak kerja sama dengan tiga perusahaan sekaligus, belum lagi memeriksa beberapa berkas yang harus di setorkan ke pak Catur.


Drrt drrrt drrrt.


Intercomku berbunyi ternyata dari meja resepcionis.


[Mbak Fah, Ada telpon dari agency periklanan] resepcionis.


[Sambungkan, terima kasih] aku.


[Selamat siang Pt Cakra Lima] aku.


[Selamat siang mbak, mbak saya hanya ingin menginformasikan jika syuting iklan akan di laksanakan seminggu lagi, apa ada jadwal perubahan dari Pak Catur atau tidak, jika pak Catur setuju kami akan segera menyiapkan sesuai kesepakan sebelumnya, dan berangkat ke kota Madiun sesuai jadwal] agency periklanan.


[Untuk saat ini tidak ada perubahan pak, dan masih tetap sama sesuai dengan kesepakatan sebelumnya] aku.


[Terima kasih, mbak, jika ada perubahan segera infokan, terakir besok] agency.

__ADS_1


[Baik, Pak, pasti saya infokan, terima kasih] aku.


Selesai menerima telpon aku melanjutkan kembali tugas-tugasku, karena terlalu banyaknya pekerjaanku aku sampai tidak sadar jika jam sudah menunjukan pukul empat sore, begitu jam kantor usai aku segera berkemas -kemas, takut bapak kelamaan nunggu. Selesai mengemasi meja kerjaku dan juga membawa begerapa berkas untuk di bawa pulang aku segera berpamitan dengan Pak Catur. Di saat aku berpamitan pak Catur masih sibuk dengan pekerjaannya, sebenarnya aku juga tidak begitu tega untuk pulang awal, namun tidak ada pilihan aku harus nurut apa kata bapak.


Keluar dari kantor aku segera menemui bapak yang sudah menungguku di parkiran dekat satpam.


"Tidak lembur mbak?" tanya pak satpam.


"Mboten, pak, pekerjaannya saya bawa pulang saja." jawabku ramah.


"Assalamu'alaikum." pamit bapakku pada satpam.


Aku dan bapak segera meninggalkan kantor menuju pulang.


Di ruangan pak Catur bu Priska sedang menemani pak Catur memang ada hal penting yang harus mereka kerjaan dan harus selesai tepat waktu.


"Afifah, tumben sudah pulang Ton?" tanua bu Priska sambil memeriksa berkas.


"Besok jadwal sidangnya, biar istirahat, dan kelihatannya bakal ada masalah besar, dia tadi pagi minta ijin untuk tidak lembur sampai sidangnya selesai. " ucap Pak Catur curiga.


"Kamu tidak menyelidikinya atau bertanya padanya?" tanya bu Priska.


"Tidak, mbak paling juga tidak di jawan secara detail, tapi kelihatannya mantan suaminya berulah, dua minggu lalu aku mendengar mantanya menggadaikan sepeda motornya dan pihak pegadaian datang menagih pada Afifah." jelas pak Catur sambil mengingat kejadian beberapa hari yang lalu.


"Astaqfirullah hal'adzim." bu Priska langsung beristigfar sambil ngelus- ngelus dada.


"Afifah dulu kok ya bisa menikah dengannya itu bagaimana ceritanya." ucap Pak Catur heran.

__ADS_1


"Takdir, ya itulah jawaban yang selalu di lontarkan oleh Afifah." ucap bu Priska sambil memeriksa dokumen.


__ADS_2