TALAK

TALAK
Part 108 TALAK


__ADS_3

Hari ini jalannya syuting sangat lancar tidak ada kendala dari segi cuaca dan juga para kru syuting iklan. Jam sepuluh pagi bu Priska baru saja datang di lokasi syuting di temani oleh pak Anam. Melihat mereka datang, mereka langsung duduk bergabung dengan aku dan Pak Catur.


"Bagaimana, lancar?" tanya bu Priska pada kami berdua.


"Alhamdulillah, lancar mbak." jawab pak Catur dengan seulas senyum.


Kami berempat akhirnya kembali fokus pada jalannya syuting iklan, seperti jadwal semula jika syuting akan berhenti tepat di jam dua belas siang, karena semua kru sedang istirahat dan waktunya makan siang, kami berempat meninggalkan lokasi syuting mencari mushola atau masjid terdekat untuk sholat dhuhur. Setelah sholat dhuhur kami menuju sebuah warung makan terdekat.


Kami berempat memilih warung makan yang menjual nasi rawon dan soto yang ada di pinggir jalan. Kami berempat duduk lesehan seperti para pembeli lainnya, aku duduk berjajar dengan bu Priska sedang pak Catur berjajar dengan Pak Anam.


"Bu, selamat sebentar lagi ibu mau mantu, saya bantu apa bu?" tanyaku penuh gurauan.


"Alhamdulillah semoga saja wanita yang di inginkan bosmu itu tidak menolak, mbak Fah jika bosmu menikah kamu harus siap-siap lo." ucap bu Priska penuh teka-teki.


"Siap-siap apa bu, kalau siap- siap libur ya jelas saya senang sekali bu, bisa ngajak Afriana jalan-jalan," gurauku "Oh ya memang calon istrinya pak Catur orang mana bu." tanyaku basa basi


"Mbak, Fah, harus siap-siap jadi seksi sibuk, termasuk harus menyeka keringatku nanti." gurau Pak Catur cuek.


Mendengar ucapan pak Catur aku langsung tertawa, sedang pak Anam dan bu Priska hanya geleng-geleng kepala, sedangkan Pak Catur tetap cuek seolah tanpa dosa.


"Kamu nggak tahu Fah, calon istrinya bosmu itu?" bu Priska malah balik tanya padaku.


"Jelas tidak tahu bu, lawong pak Catur juga tidak pernah mengenalkan pada saya, jangankan mengenalkannya pada saya cerita saja juga tidak." aduku pada bu Priska.

__ADS_1


"Biar kejutan mbak." sela pak Catur.


"Mbak, Fah, setelah rampung perceraiannya mbak berniat menikah lagi, maaf jika pertanyaanku mengusik pribadi mbak, Fah?" Pak Anam membuka suara setelah dari tadi diam.


"Inshaallah jika ada jodoh pak, lagian takdir kita juga tidak tahu." jawabku asal namun tetap tenang.


"Alhamdulillah." ucap mereka bertiga spontan secara bersamaan.


Mendengar mereka mengucap syukur aku malah bingung, pikirku aku jawab begitu agar tidak lagi bertanya aneh-aneh.


"Jika, ini jika lho mbak, seumpama ada yang melamar mbak bagaima?" tanya pak Anam lagi to the poin.


"Kalau itu sama sekali belum terpikirkan oleh saya pak, lagian saya sendiri juga sadar siapa saya dan bagaimana status saya, kalau memang ada yang melamar saya minimal dia harus ikhlas lahir batin menerima saya dan anak saya, serta bisa membawa kami ke jalan Allah, bertanggung jawab dunia dan akhirat, yang pasti harus lillahi ta'ala." jawabku sesopan mungkin.


Dengan seulas senyum aku jawab " Saya tidak suka pacaran pak, istilah anak-anak jaman sekarang pacaran itu jaga in jodoh orang, ya kalau berjodoh kalau enggak kan ya sia- sia waktu terbuang, mending buat bekerja itu kalau saya, karena saya juga sudah tidak muda lagi jadi tidak memikirkan untuk pacaran."


"Mbak, ini bisa saja." ucap Pak Anam


"Dapat ilmu dari mana mbak, berarti mbak nggak pernah pacaran begitu?" ganti pak Catur yang bertanya.


"Dari dulu saya tidak suka dengan yang namanya pacaran, ya kalau memang serius tinggal datang saja pada wali saya, sebisa mungkin saya akan menghindari zina, karena pacaran mendekati zina, menurut saya pacaran setelah menikah lebih luluasa, sudah tidak takut dosa karena sudah halal kan." jawabku apa adanya.


"Andai kata, aku yang melamar mbak, bagaimana?" gurau pak Catur.

__ADS_1


"Bapak, mau ngelamar saya? Tinggal datang saja pada bapak dan Afriana bereskan." jawabku santai dan juga asal.


"Alhamdulillah."


Mereka bertiga mengucap syukur bersama- sama dengan wajah yang memancarkan sebuah kebahagiaan sedang aku tetap santai, toh ucapan pak Catur hanya sebuah gurauan belaka di tambah dia juga sudah punya calon istri jadi aku santai saja.


"Oh ya, aku lupa jika ada janji sama Afriana." celetuk pak Catur tiba-tiba.


"Janji apa, Ton?" tanya bu Priska penasaran " Awas ya kalau gak kamu tepati bisa-bisa kamu langsung di tolak oleh Afriana." gurau bu Priska.


"Yang waktu itu aku ceritakan kepada mbak dan mas Anam, masa lupa?" ucap Pak Catur sambil makan.


"Ohh... Yang itu, kebetulan besok ajak Afriana kerumah ya, Fah!" pinta bu Priska.


"Besok kelihatannya gak bisa bu, soalnya mas Jamal mau ngajak Afriana jalan- jalan ke plaza lawu dan juga besok kami masih harus mengikuti jalannya syuting iklan." tolakku sopan.


"Pikirku mau pinjam Afriana ehh malah ke duluan mas Jamal." keluh pak Catur.


"Kamu kurang gercep, Ton." protes pak Anam.


"Bukan kurang gercep, mas tapi waktu yang belum tepat." protes pak Catur.


Kami berempat menikmati makan siang sambil saling bercanda, kami berempat saling melontarkan sebuah lelucon yang membuat kami bisa tertawa ringan, hingga tidak sadar jika makanan yang ada dalam piring kami sudah ludes tidak tersisa.

__ADS_1


__ADS_2