
"Fah!" panggil bapakku yang baru masuk rumahku.
"Inggih, pak, ada apa?" tanyaku sambil nulis surat jawaban.
"Kamu merasakan sesuatu, gak?" tanya bapakku yang sudah duduk di kursi plastik yang ada di dekat meja kerjaku.
"Inggih, pak, dari kemarin sudah ada yang mengintai dan mau menerobos masuk." jawabku tenang.
"Baguslah kami masih peka, tetap waspada, Fah, mereka lagi mencari cekah kekengahan kita, sebaiknya selesaikan pekerjaanku segera dan cepatlah membaca Al-Quran serta dzikir jangan bapak akan bantu dari rumah, tadi Aku juga sudah kasih tahu mas mu Jamal agar ikut membantu dari rumahnya, inshaallah kita bisa mengakahkannya lagi, yang terpenting hatiku jangan sampai goyah." nasehat bapak dengan air muka yang tetap tenang dan bersahaja.
"Inshaallah pak, sebenarnya hatiku sekarang lagi kacau pak." keluhku pada bapak.
__ADS_1
"Aku tahu kalau hatimu lagi tidak stabil, makanya aku kesini untuk mengingatkanmu supaya kamu tidak terlena dengan kegelisahanmu." ucap bapak yang masih tetap tenang.
"Inggih, pak Matur suwun sebentar lagi selesai." jawabku.
Bapakku memilih kembali pulang setelah selesai menasehatiku, aku kembali melanjutkan dalam menulis jawaban, seperti pesan bapak begitu selesai segera aku buka Al-Quran, ayat demi ayat aku lantunkan, selesai membaca Al-Quran aku lanjutkan dengan dzikir , seperti biasa mereka selalu datang tepat di jam dua belas malam, di luar sana sedang terjadi pertarungan sengit antara macan putih dan makluk kiriman dari beberapa dukun yang di sewa oleh mas Ringgo. Bapak selalu berpesan padaku" Apapun yang kamu lihat dan kamu rasakan di sekitarmu tetap lanjutkan dzikirmu jangan berhenti."
Aku dapat merasakan dan melihat apa yang telah terjadi di luar rumahku malam ini, seperti malam-malam sebelumya, seekor macan putih dengan gesit, lincah dan tenang telah melumpuhkan serangan demi serangan dari sang lawan. Se-ekor macan putih yang kadang menjelma menjadi sesosok manusia bersorban putih seperti itulah penampakan yang sering aku lihat sejak aku kecil.
"Apa urusan kalian datang kemari dan mengganggu keturunan Kyai Grinting?" tanya jelmaan macan putih.
"Sampaikan pada tuanmu, aku tidak akan membiarkan kalian untuk mengganggu keturuanan Kyai Grinting, kembalilah pada tuanmu atau aku penjarakan kalian agar tidak bisa kembali pada tuanmu, jika kalian tetap ngotot untuk menghancurkan keturunan Kyai Grinting!" seru manusia bersorban putih.
__ADS_1
"Kami tidak akan kembali sebelum mendapatkan nyawanya, dan menjadikannya budak tuanku." ucap makluk kiriman dukun dengan lantang.
"Baik jika itu pilihanmu, bismillahirahmanirrokhim." ucap manusia bersorban kembali ke wujud macan putih.
Pertarungan terus berlanjut, se-ekor macan putih dengan gesit dan lincah menangkis dan menerkam musuh, aku berusaha tetap tenang dalam duduk ku dan dzikirku, satu jam berlalu ketiga makluk kiriman dukunnya mas Ringgo terkalahkan, ketiga makluk tersebut sudah tidak berdaya dan juga sudah di rantai dengan rantai emas( rantai khusus pengikat makluk halus).
Malam di luar sana madih sama sepi dan sunyi, semua makluk itu telah hilang dari sekitar rumahku, aku merasa lega karena madih terselamatkan dari serangan makluk iblis kiriman dukunnya mas Ringgo. Aku tetap melanjutkan dzikirku hingga aku benar-benar ngantuk, supaya aku masih bisa melaksanakan sholat tahajud aku menuju ke kamar mandi untuk ambil wudhu walau sebenarnya aku belum batal wudhu.
Kadang aku tak habis pikir, sebenarnya alasan apa yang di pakai oleh mas Ringgo dan apa yang di inginkan dariku hingga begitu kejamnya mengirim iblis untuk mencelakaiku, bukankah aku ibu dari anaknya, Ibu dari darah dagingnya, pertanyaan seperti itu yang terus berputar di otakku.
Sholat tahajud hanya bisa aku paksakan enpat rakaat saja lanjut witir, dan setelah itu dzikir sebentar, baru aku merebahkan tubuhku untuk beristirahat karena sudah sangat capek.
__ADS_1
Hari ini Aku sampai di kantor lebih awal karena aku ingin memfoto copy surat jawabanku dan juga semua bukti teetulis yang akan Aku ajukan ke persidangan besok. Aku sengaja datang lebih awal karena aku tidak ingin siapapun tahu tentang masalahku, selama ini orang kantor yang tahu hanya pak Catur dan bu Priska lainnya tidak tahu. Selama menjadi sekretaris pak Catur aku lebih sangat tertutup dengan kehidupan pribadiku, semua karyawan kantor tetap menganggap aku masih bersuami.
Sebelum pak Catur datang aku sudah menyelesaikan foto copy semua dokumen yang aku butuhkan untuk sidang besok, semua dokumen sudah aku bagi menjadi tiga bagian aku streples dengan urutan yang sama, dan juga jumlah yang sama. Jujur saja rasanya aku masih tidak percaya dengan perceraianku apalagi sampai berhubungan dengan hal-hal mistis dan sangat mengancam nyawaku.