TALAK

TALAK
Part 237 TALAK


__ADS_3

Akhirnya aku tidak jadi tidur, sebelum setengah enam aku kembali masuk ke kamarnya Afriana, aku lihat Afriana masih terlelap dalam tidurnya aku hampiri tubuhnya yang masih tenang berbalut selimut. Aku pandangi wajah bocah yang selama ini menjadi energi tersendiri dalam hidupku, bocah yang tidak tahu apa-apa kini harus ikut nangung akibat dari perbuatan bapaknya sendiri.


"Mas Ringgo, setega itukah kamu pada darah dagingmu sendiri, semoga kamu bisa sembuh mas, kasihan sekali dengan Afriana, kini Afriana bahagia bersama kami bukan berarti suamiku bisa menggantikanmu sebagai bapak kandungnya." gumamku dalam hati.


"Af, Afri, ayo bangun sayang." Aku bangunkan Afriana dengan lembut penuh kasih sayang.


Sekali panggilan dia tidak bangun hingga panggilan ketiga dia baru bangun.


"Buk." sapa Afriana padaku dengan suara seraknya khas orang baru tidur.


"Ayo sayang, sudah siang mandi dulu." perintahku lembut.


"Buk, kepalaku pusing, aku gak masuk sekolah ya ." keluh Afriana.


"Afri, sakit?" tanya pak Catur baru masuk kamar Afriana.


"Iya Yah, kepalaku pusing," keluh Afriana.


"Baiklah, jika Afri kurang sehat Afri tidak udah sekolah dulu nanti ayah yang minta ijin ke guru, sebentar ayah panggilkan dokter." ucap Pak Catur lembut.


"Ya, Af, sekarang Afri istirahat saja biar ibuk ambilkan sarapannya." ucapku.


"Af, apa Afri kangen bapak?" tanya pak Catur lembut dan penuh ke hati-hatian.


Afriana tidak menjawab dia langsung menunduk lesu.


"Afri, jangan khawatir suatu saat bapak Afri inshaallah akan kesini setelah bapak Afri selesai berobatnya dan sembuh dari penyakitnya." nasehat pak Catur.


"Yah, Apa benar bapak Afri gila?" kini Afri ganti pada pak Catur.

__ADS_1


"Siapa yang bilang?" tanya pak Catur "Dengar kata ayah Afri, bapak Afri tidak gila bapak Afri hanya kerasukan setan, nanti jika setannya sudah pergi dari bapaknya Afri, bapaknya Afri pasti datang untuk menjenguk Afri." nasehat pak Catur lembut.


"Iya, Afri ayah benar, sekarang Afri istirahat ya, ibuk ambilkan sarapannya supaya Afri cepat sehat." nasehatku.


Aku pergi meninggalkan Afri dan Pak Catur yang berada di kamar Afriana.


"Mbak Qib, hari ini Afri tidak sekolah dia lagi tidak enak badan." ucapku saat berada di dapur.


"Baik, Buk, dik Afri sakit apa buk?" tanya mbak Qibtiyah penasaran.


" Paling cuma kecapek-an, namanya juga anak-anak." jawabku sambil membuat susu untuk Afriana.


"Baik, buk." jawan Qibtiyah sopan.


Aku kembali ke kamar Afriana sambil membawa segelas susu.


"Sekarang ibuk sudah datang, ayah mau siap-siap ke kantor, sebentar lagi waktunya ayah berangkat kerja." ucap Pak Catur langsung bangkit berdiri begitu melihat aku datang dengan membawa segelas susu coklat kesukaannya Afri.


"Terima kasih, Yah, nanti bunda susul." ucapku pada pak Catur.


"Buk," panggil Afriana.


"Iya sayang," sahutku.


"Ehm... " suara Afriana menggantung.


"Kadang Afri kangen bapak kadang juga Afri benci bapak." celoteh Afriana.


"Af, Afri tidak boleh begitu, bagaimanapun bapaknya Afri tetap bapak sayang, Afri jangan membenci bapak ya."

__ADS_1


"Kenapa buk?" tanya Afriana penasaran.


"Karena kita tidak diperbolehkan untuk mbenci seseorang Af, apapun kesalah orang tersebut kepada kita." nasehatku lembut "Ayo minum susunya supaya kak Afri cepat sehat, sebentar lagi dokter juga datang." perintahku.


Afriana tanpa membantah langsung meminum susunya namun tidak sampai tandas.


"Sudah buk." Afriana mengyingkirkan gelasnya.


"Sekarang Afri, istirahat dulu ibuk mau lihat adik, juga ibuk mau mandi biar seger." ucapku.


Afriana mengangguk aku bantu Afriana untuk kembali berbaring lagi, setelah membantu Afriana aku menuju kamarku sendiri saat mau menuju kamar aku mendengas pak Catur lagi berbicara di telpon, kali ini Aku kepingin banget menguping karena seperti ada hal yang dirahasiakan dariku aku berdiri di balik dinding mendengar percakapan pal Catur dengan entah siapa.


[Usahakan yang terbaik dok, soal biaya dokter jangan khawatir, yang terpenting dia bisa sembuh dan sehat seperti sedia kala] pak Catur.


.........................


[Baik segera kabari aku segera dok] pak Catur lagi.


...................


[Wa'alaikum Salam dok] pak Catur.


"Siapa kira-kira yang sakit, dan dengan siapa suamiku berbicara." gumamku di dalam hati.


Sebelum ketahuan suamiku aku langsung melangkah pergi menuju kamarku sendiri, beruntung sekali si kembar belum bangun sehingga aku bisa segera mandi. Selama mandi aku masih penasaran siapa lawan bicaranya pak Catur, dan siapa yang sakit, kenapa menyebut kata dokter. Selesai mandi aku segera keluar ternyata saat aku keluar pak catur sudah berdiri di depan pintu kamar mandi bersiap-siap untuk mandi.


"Mas bekum mandi?" tanyaku seperti biasa.


"Belum, nunggu Dinda sayang untuk mandi bareng Dinda." goda pak Catur.

__ADS_1


"Ih, Mas apaan sih." gerutuku " Sana cepat mandi." perintahku.


"Baik, tunggu mas sayang." ucap Pak Catur langsung masuk ke kamar mandi. Sedangkan aku berdandan supaya terlihat cantik di hadapan suamiku.


__ADS_2