
Selama dalam perjalanan pulang kami bercerita hanya Afriana yang terlihat lebih pendiam, dia tidak begitu merespon tentang tema pembicaraan kami, aku dapat membaca kegundahan dalam hatinya, karena setelah sekian tahun ini ketiga kalinya dia akan bertemu dengan bapaknya, sebelumnya keluargaku sudah pernah membawanya bertemu dengan mas Ringgo namun katanya tidak ada respon dari mas Ringgo. Setelah kurang lebih tiga puluh menit kami semua sudah sampai kembali di rumah orang tuaku, kami sampai rumah pas menjelang adzan dhuhur.
Sesampainya di rumah mereka berempat langsung membersihkan diri supaya tidak telat ikut ke mushola untuk sholat dhuhur berjamaah, aku memilih sholat di rumah dan momong Alifa, sedang Abidah dibawa oleh ibukku untuk ikut sholat berjamaah di mushola, kini Afwa dan Afwi juga sudah siap untuk ikut sholat berjamaah di mushola, Afwa, Afwi, dan anaknya Nafisa sudah memakai sarung kecil dan memakai kaos seperti biasa tidak lupa peci kecil juga sudah terpakai rapi di kepalanya.
"Ayah, aku tinggal!" seru Afwa.
"Kami berangkat bareng pak lek, dan adik." seru Afwi.
"Buk, berangkat," mereka juga tidak lupa berpamitan padaku.
"Nanti jangan rame ya, sholat harus diam cukup baca doa ya," pesanku pada mereka.
Kini rumah orang tuaku sepi tinggal aku, Alifa, dan mbak Yah, mbak Yah tidak ikut ke mushola karena sedang berhalangan. Karena Alifa ngantuk dan lapar maka aku kasih Alifa Asi dan aku pangku supaya bisa tidur.
"Tadi bagaimana Fah?" tanya mbak Yah yang ikut berbaring di kamar kosong yang ada di rumah orang tuaku.
"Alhamdulillah, semua baik-baik saja tapi aku lihat Afriana lebih banyak diam, kadang aku sendiri khawatir tentang Afriana." sahutku.
"Apa Afri, belum bisa menerima semua ini?" tanya mbak Yah padaku.
"Mungkin juga mbak, padahal selama ini aku juga sudah berusaha membujuknya agar mau berdamai dengan keadaan dan iklhas menerimanya," keluhku.
"Aku paham Fah, memori masa kecilnya sewaktu masih bersama Ringgo mungkin membuat luka tersendiri bagi Afriana, suatu saat dia akan paham, yang penting sekarang perhatikan dan jaga Afriana, sekarang dia masih terlalu belia untuk paham semua ini, anak seusia Afriana belum bisa berpikir secara jernih dia masih labil, ditambah sekarang Afriana sudah terlalu nyaman dengan keluarga yang dimilikinya sekarang, jadi butuh waktu yang agak lama untuk bisa menyesuaikan diri dengan kehadiran Ringgo dalam kehidupannya." jelas mbak Yah panjang lebar.
"Iya mbak, sebenarnya aku dan suamiku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk membujuk Afri, tapi ya begitu, dia masih belum bisa menerima seratus persen," jelasku.
__ADS_1
"Doa, jangan lupa kamu doakan Afri, dan juga kamu khususkan surat al fatihah buat Afri, dan juga keluarga kita semua." nasehat mbak Yah.
"Inshaallah sudah aku lakukan setiap hari kok mbak, yang penting aku dan suamiku sudah berusaha, sekarang aku serahkan pada Allah SWT," jelasku.
"Syukurlah, aku ikut senang mendengarnya, biar Allah yang menentukan." ucap mbak Yah.
"Mbak jam berapa Zahra pulang, inikan sudah siang?" tanyaku.
"Nanti jam dua dia baru pulang," jawab mbak Yah.
"Lama sekali latihan pramukanya?" tanyaku.
"Dia lagi hayking, jadi pulangnya siang, nanti habis sholat biar di jemput masmu katanya dia sudah kangen dengan Afriana, dia juga minta nginep di sini," jelas mbak Yah.
"Wa'alaikum salam, pulang tidak mengucap Salam langsung nylonong saja to Af," seruku.
Afriana hanya tersenyum " Aku pingin ikut pak puh jemput mbak Zahra!" pinta Afriana dengan senyum nyengir.
"Motornya yo gak muat to Af!" seruku.
"Iya, ya, padahal aku pingin banget ikut pak puh jemput mbah Zahra." rengek Afriana.
"Kapan jemputnya biar ayah jemput," Pak Catur menawarkan diri untuk menjemput Zahra.
"Tidak usah dik biar di jemput mas Jamal saja, kamu nanti kecapek an." tolak mbak Yah halus.
__ADS_1
"Tidak apa-apa mbak, jarang-jarang bisa jemput keponakan, mumpung longgar." ucap Pak Catur.
"Kamu ngomong ke mas Jamal gimana baiknya." nasehat mbak Yah.
"Kenapa?" tanya mas Jamal yang baru masuk rumah.
"Itu lo mas, Afri kan mau ikut jemput Zahra, la dari pada naik sepeda motor aku jemput pakai mobil saja," jelas pak Catur.
"Kebiasaan kamu itu tetap aja Af, Af kemana-mana ikut, untung ayahmu kok punya mobil, kalau nggak ada mobil kamu tak taruh di ban." kelakar mas Jamal.
"Pak puh, wong gak tiap hari aja, aku kan sudah kangen sama mbak Zahra." rajuk Afriana.
"Iya, iya bukannya kangen mbak Zahra, tapi kamu di pondokkan gak bisa ke mana-mana, jadi sekarang mau balas dendam gitu kan mumpung di rumah." goda mas Jamal pada Afriana.
"Terserah pak puh mau naik apa? Yang penting aku mau ikut jemput mbak Zahra," ucap Afriana kekeh pingin ikut mas Jamal.
"Kamu itu bukan Afwa, Afwi atau Abidah, kamu tuh sudah besar ngikut aja," goda mas Jamal.
"Penting aku ikut pak puh," Afriana tetap bersikeras untuk ikut mas Jamal.
"Mbok yo wes di jak gitu to pak, kok suka sekali goda in Afri." celetuk mbak Yah.
"Gak mau ngajak." Mas Jamal tetap menggoda Afriana.
Kini Afriana tidak menjawab dia langsung duduk di sepeda motor mas Jamal yang di parkir di teras rumah orang tuaku. Kami semua yang melihat tingkah konyol Afriana dan mas Jamal ikut tertawa terbahak-bahak, ini pak puh sama keponakan kalau sudah bersama dan saling ngotot bikin perut keram karena tertawa terus.
__ADS_1