
Rasa kantuk tak bisa ku tahan lagi, akhirnya setelah makan siang dan sholat dhuhur aku putuskan untuk tidur sebentar di atas meja kerjaku masih ada waktu lima belas menit, pikirku lumayan untuk mengistirahatkan mata, sebelum tidur aku pasang alarm takut tertidur, karena jam dua siang akan ada meting antara aku mbak Priska dan Pak Catur. Entah jam berapa aku merasakan ada yang memepuk pundakku, serta memanggil dengan suara lembut.
"Sayang, sayang."
Tanpa menjawab aku langsung terbangun, aku ingat jika akan meting siang ini" Jam berapa ini?" aku langsung mameraih handphonku untuk melihat waktu" Astaqfirullah hal'adzim," begitu melihat handphonku aku sangat terkejut ternyata sudah jam satu lebih tiga puluh menit, setelah melihat jam aku langsung menoleh kearah sumber suara" Maaf." hanya itu kata yang bisa aku ucapkan.
"Setelah meting nanti kita langsung pulang." ucap Pak Catur lembut.
"Maaf, mas." ucapku sekali lagi sambil membenahi kerudungku yang sedikit luset, kebiasaanku jika sudah terlalu capek aku bisa tidur tanpa kenal waktu.
"Tidak apa masih ada waktu setengah jam, kenapa tidak tidur di ruangan mas saja, disanakan ada tempat untuk istirahat." ucap Pak Catur.
"Takut kebablasen Mas, baru dua minggu jadi istri bos sudah gak professional." ucapku sambil geleng-geleng kepala mengingat tingkahku yang tertidur dijam kerja.
"Ayo, masuk ke ruanganku, sebentar lagi mbak Priska datang, bisa-bisa aku yang kena marah bila melihat kamu masih seperti ini, dikiranya aku suami yang kejam." ucap Pak Catur.
"Sebentar aku cuci muka dulu biar gak kusut." Aku langsung bangkit berdiri menuju kamar mandi, selain untuk cuci muka aku kenakan kembali make upku.
Selesai dari kamar mandi, aku kira pak Catur sudah masuk duluan ternyata dia masih menunggu di ruanganku. Kami berdua masuk ruangan pak Catur bersama-sama dengan situasi aku masih menahan rasa kantuk yang sangat berat akhirnya aku duduk di shofa sedang pak Catur kembali dengan komputernya.
Tok tok tok
"Masuk." perintah pak Catur.
Dari pintu muncul mbak Priska dan kepala dari divisi HRD.
__ADS_1
"Selamat siang Pak, selamat siang bu." sapa kepala devisi HRD sopan.
"Selamat siang, pak, selamat siang mbak Priska." sapaku sopan begitu pula pak Catur juga membalas salaam dengan sopan.
Setelah saling sapa tanpa membuang waktu meting segera kita mulai.
"Assalamu'alaikum, maaf metingnya mendadak, beberapa hari yang lalu saya dan Bu Priska sudah berunding, karena mbak Afifah sekarang telah menjadi istri saya, jadi saya ingin mencari sekretaris baru, namun saya ingin sekretaris laki-laki, tolong carikan yang memiliki kriteria sesuai yang ada di daftar persyaratan ini." ucap Pak Catur sambil menyodorkan berkas kepada kepala HRD.
Aku sedikit terkejut mendengar penjelasan dari Pak Catur, namun aku tetap diam tanpa prote, bagaimanapun juga keputusan tetap di tangan pak Catur selalu pimpinan perushaan, karena selama ini pak Catur tidak pernah berbicara atau berunding denganku tentang pergantian sekretaris.
"Baik, Pak sekiranya mulai kapan saya bisa buka lowongan untuk sekretaris baru?" tanya kepala HRD
"Besok bisa mulai, saya minta secepatnya, karena ada hal yang penting dan secepatnya Bu Afifah, akan istirahat demi kesehatannya dan inshaallah demi keselamatan calon bayi kami." ucap Pak Catur santai.
Aku hanya bisa menatap pak Catur dengan penuh tanda tanya, bagaimana dia begitu yakin dengan calon bayi kita, bingung dan kesal yang aku rasakan namun aku tetap berusaha tenang.
"Terima kasih, pak." jawabku dan Pak Catur bersamaan dengan sopan dan juga senyum ramah.
"Pak, pembangunan pabrik sudah selesai kita harus segera melakukan ujicoba sebelum pembukaan, dan kita harus segera meninjaunya." bu Priska melaporkan tentang perkembangan pembangunan pabrik baru.
"Baik Bu Priska, segera kita lakukan peninjauan sesuai jadwal," ucap Pak Catur tegas" Bu Afifah kapan jadwalnya?" Pak Catur ganti bertanya padaku.
"Sesuai dengan jadwal kita harus meninjau pabrik minggu depan pak pada hari rabu siang, karena pagi kita ada agenda meting dengan pihak investor." jawabku tegas seperti biasa.
"Untuk karyawan saya akan menyempatkan Rani dan Nina di pabrik baru, karena mereka memiliki kwalitas yang bagus selain mereka ada beberapa staf dari sini akan saya pindahkan ke sana, untuk soal ini kita harus segera memberitahukan mereka agar mereka bersiap-siap untuk mutasi." jelas mbak Priska.
__ADS_1
"Baiklah segera kita lakukan sesuai rencana agar tidak ada keterlambatan, dan pabrik segera beroperasi serta biar mereka segera mendapatkan gaji dari pekerjaan mereka." ucap Pak Catur.
"Baik pak segera kami laksanakan sesuai perintah Bapak." jawab kepala HRD tegas dan sopan.
Setelah satu jam meting seesai kepala HRD meninggalkan ruangan, sekarang di ruangan tinggal kami bertiga, aku mbak Priska dan Pak Catur.
"Kamu kelihatan melelahkan begitu, Fah?" tanya mbak Priska padaku.
"Sedikit mbak, kemarinkan baru saja ada acara tasyakuran di Villa jadi masih lumayan capek, dan mungkin juga karena kelamaan cuti." jawabku apa adanya.
"Apa kamu lagi hamil Fah?" tanya bu Priska.
"Nikah juga baru dua minggu mbak ya belum tahu mbak." jawabku santai.
"Kalau memang hamilkan aku juga ikut senang Fah." ucap mbak Priska dengan senyum bahagia.
"Maka dari itu mbak aku mau ganti sekretaris takut kejadian lampau terulang kembali, doakan kami supaya segera dapat rejeki." ucap Pak Catur.
"Apapun keputusan suamimu, pasti sudah dipikir dengan matang, Fah, mbak harap kamu tetap sabar menghadapinya, dan kami Ton harus kasih waktu Afifah banyak istirahat, orang hamil tidak boleh terlalu capek." pesan mbak Priska pada kami berdua.
"Baik, Mbak ." jawabku.
"Siap mbak, akan aku jaga adik ipar mbak ini dengan baik, habis ini kita pulang dulu mbak, tolong jaga kantor, maaf merepotkan." pinta pak Catur.
"Baiklah, Fah, istirahatlah, jaga kesehatan mbak harap bulan depan sudah ada kabar baik." ucap mbak Priska penuh harap.
__ADS_1
"Inshaallah mbak, doakan semoga segera dapat rejeki." ucapku.
Mbak Priska meninggalkan akmi berdua untuk kembali keruangnya, sedang aku dan Pak Catur juga berkemas-kemas untuk pulang awal, jam tiga lebih tiga puluh menit kami berdua meninggalkan ruangan, begitu keluar dari ruangan pak Catur menggandeng tanganku, saat lewat lobi para karyawan yang melihat kami memberi salam hormat dan ramah, kamipun juga membalas dengan ramah. Jujur aku masih canggung saat bergandengan tangan dengan Pak Catur di hadapan para staf kantor. Sesampainya di parkiran kami langsung masuk ke mobil, dan pak Catur langsung menyalakan mobilnya meninggalkan kantor.