
Acara lamaran mas Ringgo berjalan dengan lancar, setelah acara selesai kami semua langsung pamit pulang. Karena pak Catur harus menurunkan saudara mas Ringo di dekat rumah mas Ringgo maka kami mampir sebentar untuk sekedar basa-basi sebelum kami pamit pulang.
"Terima kasih." itulah kata yang telah di ucapkan oleh mas Ringgo pada kami.
"Sama-sama," sahut kami semua " Af kamu nginep di rumah bapak apa pulang ?" tanya pak Catur lembut.
"Pulang saja, besok kalau bapak mau menikah tak nginep di sini." sahut Afriana "Pak Afri, pulang dulu karena Afri mau menghafal, kalau tiap hari tidak di hafal takut hilang hafalannya," pamit Afri pada Ringo.
"Baik, Af, tolong nanti kamu yang baca Qiro dihari pernikahan bapak ya," pinta mas Ringo penuh harap.
"Inshaallah pak," sahut Afriana girang, kini hubungan mas Ringgo sudah bisa mencair dan menghangat.
"Pak Catur, Fah, terima kasih karena kalian sudah mendidik Afriana menjadi anak yang Sholehah." ucap mas Ringgo tulus, ya mas Ringgo berulang kali mengucapkan banyak terima kasih pada kami.
"Sudah menjadi kewajiban kami, semoga kalian nanti juga segera mendapat momongan." doa pak Catur tulus.
"Sekarang ada atau tidak ada momongan saya sudah ikhlas dengan ketentuan Allah, suatu yang sangat mustahil jika aku memiliki keturuanan karena dik Isnaini sudah operasi angkat rahim, namun untuk keturunan saya sudah tidak memikirkan lagi, kami akan adopsi anak saja jika masih memenuhi syarat dan ketentuannya." ungkap mas Ringgo tenang.
__ADS_1
"Maaf, Bukan maksud apa-apa," ucap Pak Catur merasa tidak enak.
"Tidak masalah, mungkin ini balasan bagi saya karena saya telah menelantarkan anak dan istriku dulu," ungkap mas Ringgo tenang.
"Sebaiknya kita pulang kasihan anak-anak," ajakku.
"Baiklah, kami pamit dulu pak Ringgo, jangan sungkan kabari kami jika membutuhkan bantuan, kita saudara." ucap Pak Catur.
"Silakan, hati-hati." pesan pak Catur pada kami.
Pak Catur dan mas Ringgo bersalaman dan berpelukan seperti sahabat lama yang baru bertemu, aku, Afriana dan Pak Catur menaiki mobil, mobil kami merambat pelan meninggalkan keluarga pak Catur. Di dalam perjalanan kami bercerita apa saja sampai membahas calon istri mas Ringgo.
"Ayah tahu tentang kisah cinta mereka?" tanyaku.
"Ayah gak begitu tahu, cuma dia bilang akan menikahi janda tanpa anak, gitu saja." jawab pak Catur.
"Oh, " timpalku.
__ADS_1
"Bagaimana perasaam Afri sekarang?" tanyaku
"Alhamdulillah, Afri bahagia sekali, pertama karena ayah telah bisa menyayangi Afri, kasih sayang dari seorang ayah yang sangat aku rindukan," ungkap Afriana jujur" Kedua sekarang Afri memiliki dua keluarga, dua ibuk dan dua ayah, sesuatu yang langka sekali." ungkap Afriana.
"Bersyukurlah Afriana, kamu masih memiliki cinta dari seorang ayah, di luar sana banyak anak yang terlantar." nasehat pak Catur lembut.
"Iya ayah," jawab Afriana sopan.
Mobil yang kami tumpangi sudah terparkir di garasi, sedang para penumpang segera turun dari mobil dan segera masuk ke kamar untuk membersihkan diri, setelah membersihkan diri kami bermain dengan anak-anak sebelum mereka tidur. Tawa riuh dan celoteh anak-anak dapat mengobati rasa lelahku, setelah menidurkan anak-anak aku juga segera istirahat. Menjelang menyambut hari penikahan mas Ringgo Afriana sedikit sibuk, acara pernikahannyapun sangat sederhana karena mereka hanya melakukan akad saja tanpa ada resepsi.
Walau hanya akad saja keluargaku tetap menggunakan baju yang senada karena acara di rumah mempelai perempuan aku hanya mengajak anakku yang paling kecil, tentu dengan Afriana juga.
"Mas, sudah siap ?" tanyaku pada pak Catur.
"Sudah," jawab pak Catur yang sudah rapi memakai batik senada dengan bajuku dam anak-anak.
Afriana dari kemarin memilih nginep di rumah orang tua mas Ringo, Afriana menepati janjinya jika akan nginap menjelang pernikahan bapaknya.
__ADS_1
Setelah beberapa menit mobil yang kami tumpangi sudah memasuki rumah orang tua mas Ringgo, di dekat rumah telah terparkir dua mobil yang sudak siap untuk mengantar mas Ringgo mengucapkan akad nikah. Kami dipersilakan untuk masuk sambil menunggu para pengiring lainnya.