
Sepulang dari kantor aku melakukan kegiatan rutinku termasuk merapikan rumah atau sekedar masak untuk diriku sendiri, karena anakku sudah ikut makan di rumahnya orang tuaku, sebelum adzan magrib aku menuju mushola untuk ikut sholat magrib dan sholat isya' berjamaah.
Suasana mushola yang ramai dengan anak-anak yang sedang mengaji, serta ada bapak-bapak dan ibu-ibu jamaah yang sedang mengobrol ringan di teras mushola sambil menunggu waktu isya' menjadi keunikan tersendiri di mushola kami. Anak-anak dan ibu-ibu akan pulang duluan, bapak-bapak dan remaja dewasa biasanya pulang setelah selesai kajian kitab kuning dengan mengundang guru ngaji yang ahli kitab kuning khususnya dari masjid besar yang ada di desaku.
Malam ini menjelang menghadapi sidangku besok bapak dan ibukku setelah sholat Isya' langsung pulang mereka memberiku banyak sekali nasehat, bahkan mbak Us, Mbakku yang nomor dua menyempatkan video call denganku untuk memberiku doa dan semangat, mbak Us juga menawarkan sebuah bantuan biaya sewa pengacara jika sidangku besok banyak kendala dan harus banding. Di balik musibah yang menderaku bertubi-tubi aku benar-benar sangat bersyukur karena Allah mengirimkan nikmat yang tidak tara buatku, nikmat sebuah kerukunan, kebersamaan serta kasih sayang yang sangat tulus dari keluargaku.
"Fah, andaikan sakitmu ini bisa bapak gantikan, biar bapak saja yang menggatikan kesakitanmu ini." ucap bapakku yang duduk di tikar sambil nonton TV dengan air muka yang merah padam seperti menahan sakit yang sesakit sakitnya.
__ADS_1
"Doakan saja agar aku kuat dan ikhlas pak, memang semua ini sudah menjadi jalan hidupku pak, Inshaallah Afifah ikhlas pak, buk, yang penting sekarang kita sudah mengalahkan beberapa dukun kiriman dari mas Ringgo, kadang saya sangat khawatir dengan mas Ringgo jika dia benar-benar gila, apakah anakku harus memiliki bapak yang gila." keluhku dan tak terasa buliran kristal bening keluar dari kedua pelupuk mataku.
"Pak, apakah mas Ringgo akan terus berulah dan apa akibatnya pak?, aku benar-benar takut dan bingung pak, dengan mental Afriana, selama ini Afriana tidak pernah tahu kelakuan bapaknya dan aku takut jika Afriana mengetahui ayahnya gila, dan teman-temannya juga mengetahui kegilaan ayahnya Afriana akan jadi bahan ejekan teman-temannya, adakah cara agar mas Ringgo tidak gila pak?" Aku curahkan apa yang menjadi unek-unekku selama ini di tambah dengan perkataan bapak, jika bapak sudah mengatakan tentang penderitaanku aku yakin bakal akan terjadi musibah lagi.
"Fah, tenangkan hatimu nduk, bertawakallah." nasehat ibukku yang sudah memelukku dan membelai rambutku.
"Apapun yang terjadi pada Ringgo nanti kita serahkan saja pada Allah SWT, Fah, perjanjian Ringgo dan dukunnya sangat berat, gila itu resiko paling ringan, yang penting mertuamu masih bisa terselamatkan dari amukan iblis dukunnya Ringgo, jika kita tidak membuang iblis itu maka mertuamu juga ikut menanggung akibatnya mertuamu diperbudak oleh iblis dengan cara di jadikan mayat hidup(kembang amben), dan Ringgo pun sama selamanya menjadi budak iblis, akhirnya mati dengan cara yang suul khotimah, pesan bapak Fah, didiklah Afriana dengan benar supaya menjadi anak yang sholehah, supaya nanti bisa menjadi penolong untuk kedua orang tuanya, syukur-syukur Afriana mau menjadi Hafidzah." nasehat bapak bijak.
__ADS_1
"Jiwa Ringgo harus di ruqyah, itupun harus seorang Kyai yang melakukannya dan orang tua Ringgo juga harus ikut berperan dalam penyembuhannya, namun juga tidak mudah dan juga memerlukan waktu yang lama." jelas bapakku padaku.
"Sebenarnya apa yang kamu pikirkan Fah?" ganti ibukku yang bertanya.
"Afriana buk, hanya Afriana yang menjadi pikiranku saat ini, sekarang Afriana harus menghadapi orang tuanya bercerai berai di tambah mas Ringgo gila apa Afriana mampu menerima kenyataan ini buk, bagaimanapun mas Ringgo bapak dari anakku." aduku pada kedua orang tuaku dengan mata yang sudah sembab, untung saja Afriana sudah tidur.
"Bapak, dan ibuk tahu, Fah, itu sebabnya makluk-makluk kiriman dukun Ringgo tidak bapak kembalikan ke pengirim, jika bapak kembalikan maka keluarga Ringgo akan habis menjadi tumbal dan budak iblis dari dukun Ringgo, besok saat sidang dan bertemu dengan Ringgo kita harus tetap waspada, semoga besok Ringgo masih waras, sudah malam tidur sajalah di sini nanti malam ini Fah, karena kita harus tetap sholat malam dan dzikir jam dua belas kita mulai, masih ada dua jam untuk tidur." nasehat bapakku.
__ADS_1
"Inggih pak." jawabku.
Dengan pikiran yang tidak menentu Aku dan ibukku tidur satu kamar dengan Afriana di kamar orang tuaku sedang bapak langsung masuk ke mushola kecil yang ada di rumah bapak. Dari kamar ibukku sayup-sayup terdengar suara bapak yang sedang melantunkan ayat suci Al Qur'an. Bapakku orang yang memiliki durasi tidur sedikit di malam hari, setiap malam bapak hanya tidur kurang lebih empat jam saja, kadang malah hanya dua jam, bapakku adalah orang yang sangat kuat dalam beribadah(tirakat).