TALAK

TALAK
Part 92 TALAK


__ADS_3

Mobil pak Catur sudah terparkir rapi di halaman bu Priska, sesuai janjinya tadi pal Catur tidak segera pulang ke rumahnya sendiri tapi mampir di rumahnya bu Priska.


Di ruang tengah bu Priska dan Pak Catur sedang duduk santai sambil menunggu pak Catur datang.


"Assalamu'alaikum, mbak, mas." sapa pak Catur masih dengan wajah yang berseri-seri.


"Wa'alaikum salam, duduk Ton." jawab pak Anam dan bu Priska bersamaan.


"Dari mana saja tadi?, tumben wajahmu keluar bunganya." sindir bu Priska.


"Mana ada mbak." jawab pak Catur dengan senyum yang mengembang.


"Ceritakan pada kami, seharian bersama, Afifah, apa saja yang kamu lakukan?" ucap bu Priska memaksa.


"Yang penting hari ini aku bahagia sekali mbak, oh ya maaf soal belanjaan Rahma, khilaf lagian gak setiap hari saja mbak dan masa, Afriana, aku belikan Rahma enggak kan ya gak lucu mbak." jawab pak Catur.

__ADS_1


"Rupa-rupanya adikmu benar-benar jatuh cinta dengan sekretarisnya Mah, " celetuk pak Anam " Kalau kamu memang serius ingin berumah tangga kembali, aku ikut senang dan aku rasa pilihanmu juga tidak salah, Ton, tinggal tunggu masa indahnya selesai, segera halalkan, agar tidak menimbulkan fitnah apalagi kalian kerja satu kantor, jangan sampai menciptakan citra buruk pada perempuan." pesan pak Anam bijak.


"Doa kan mas, mbak, aku lagi berusaha untuk mendapatkan hati anaknya, inshaallah sebulan lagi proses perceraiannya juga selesai, pas sebulan lagi mama dan papa kan kesini, sekalian saja, tak perlu nunggu lama." ucap Pak Catur penuh harap.


"Lalu bagaimana tanggapan keluarga Afifah dan juga anaknya?" tanya bu Priska.


"Setahuku, keluarganya sangat baik, bijak dan taat beribadah, itu yang aku suka, terbukti bagaimana Afifah sekarang, dia benar-benar wanita yang sangat istimewa." puji pak Catur.


"Bagaimana pun Ton, kamu harus minta petunjuk kepada Allah, mulai sekarang perbanyak ibadahmu dan jangan lupa sholat istikharoh supaya hatimu benar-benar mantap, kamu benar, karena kamu mau menikah dengan seorang wanita yang sudah mempunyai anak, maka taklukan anaknya lebih dulu, tapi jangan hanya di depan saja kamu menyayangi anaknya sampai kapanpun kamu harus tetap menyayangi anaknya, kamu harus mendidiknya dengan benar karena suatu saat kamu akan di minta pertanggung jawabanmu di akhirat."nasehat pak Anam bijak.


"Oh ya Ton, kamu juga harus siap menghadapi segala kemungkinan yang berhubungan dengan mantan suaminya Afifah." nasehat pak Anam.


"Terima kasih, mbak, mas, atas semua nasehatnya, aku tidak menyangka jika aku bisa mendapatkan kebahagiaanku di kota ini, hampir lima tahun aku di jawa tengah namun aku tidak pernah merasakan yang namanya bahagia seperti sekarang, padahal sejak dua tahun lalu, mama, papa mbak Irma bahkan bunda berusaha mengenalkan aku dengan banyak wanita, tapi entahlah tidak ada perasaan apa-apa, namun pas melihat biodata Afifah seperti ada magnet yang begitu kuat pada diriku, sejak saat itu aku ingin bersamanya dan memilikinya padahal waktu itu yang aku tahu dia masih jadi istri orang, ya sempat aku ingin mengganti posisinya namun tidak bisa, Tadinya aku ingin kembali menggunakan sekretaris laki-laki, namun dorongan dari hatiku untuk tetap memilihnya." ungkap pak Catur jujur.


"Semoga kalian memang di takdirkan untuk berjodoh bersabarlah dan berdoalah." ucap pak Anam bijak.

__ADS_1


"Mbak, tolong rahasiakan ini semua ya, jangan sampai orang-orang di pabrik tahu, karena aku ingin membuat kejutan." pinta pak Catur pada bu Priska.


"Beres, lawong sampai sekarang juga tidak ada yang tahu jika kamu duda, asal sikapmu tidak berubah pada Afifah, tetaplah seperti sekretaris dan bos." ucap bu Priska memperingatkan.


"Mas, mbak tolong bantuin cari arsitek untuk bikin villa." pinta pak Catur.


"Ngapain kamu itu cari arsitek tinggal pesen masmu Dwi kan enak to, Ton." ucap bu Priska.


"Aku lupa mbak, ya sudah nanti aku langsung hubungi mas Dwi saja, terima kasih untuk semuanya mbak, aku pamit ." ucap Pak Catur.


"Gak tidur sini." ucap Pak Anam.


"Tidak, mas lain kali saja."


Pak Catur segera berpamitan karena waktu juga sudah jam sepuluh lebih, masih dengan hati yang berbunga-bunga pak Catur meninggalkan rumah bu Priska. Bu Priska dan Pak Anam yang melihat perubahan pada diri pak Catur juga turut merasakan bahagiaan.

__ADS_1


Gelap dan dinginnya malam berhiaskan rembulan dan bintang-bintang di langit seolah ikut bersorak sorai atas kebahagiaan yang di rasakan oleh pak Catur.


__ADS_2