TALAK

TALAK
Part 183 TALAK.


__ADS_3

Jalanan sore di kota Jakarta lumayan padat, namun karena pak Catur sudah paham betul kota Jakarta maka pak Catur dengan mudah mencari jalan alternatif sehingga jam tujuh malam kami berdua sudah sampai di rumah, begitu masuk kami langsung di sambut oleh para pekerja yang berada di rumah, di saat aku melintas di ruang meja makan aku melihat di atas meja makan sudah terhidang makanan kesukaan pak Catur, hidangan yang benar-benar menggugah selera, aku tidak tahu apa yang di perintahkan oleh mama kepada para pekerja di rumah, sehingga mereka bisa begitu siaga sperti sekarang. Aku dan Pak Catur segera membersihkan diri dan sholat isya sebelum manyantap hidangan yang sudah tersedia.


Sebuah menu sederhana sebagiamana menu biasanya yang ada di rumah, sambel terasi, sayur asem ayam goreng serta krupuk, tanpa banyak bicara kami segera menyelesaikan acara makan malam berdua saja karena yang lain belum pulang, habis makan kata pak Catur mama dan papa mengajak semua untuk jalan-jalan di mall. Jak sepuluh malam semua baru kembali ke rumah, anak-anak sudah tidur karena kecapek-an sedangkan para orang tua masih mengemasi barang belanjaannya. Aku sangat terkejut sekali saat melihat barang belanjaan mereka mereka membawa barang belanjaan yang menurutku sungguh sangat fantastis, dan seluruh belanjaan di tanggung oleh keluarga Cakra.


Kota Jakarta terkenal dengan kepadatan penduduk serta bangunan yang menjulang tinggi, hari ini pak Catur mengajak aku dan Afriana untuk ke kantor pusat, dengan langkah percaya diri menyusuri lobi menuju ruangan atas, dengan sabar dan telaten pak Catur turun dan meliha-lihat setiap ruangan di setiap lantai. Afriana yang notabennya anak kampung dan udik maka Afriana sangat kagum saat diajak ke kantor pusat.


"Mas tinggal dulu mau ke ruangan dewan direksi," ucap Pak Catur dan sudah siap untuk meninggalkan kami.


"Jangan lama-lama mas," pesanku.


"Iya sayang, kalian bisa jalan-jalan do kantor, nanti aku susul." pesan pak Catur sebelum meningalkan kami berdua.


"Af, ayah tinggal dulu, jaga ibuk dan dedek ya." pamit pak Catur pada Afriana lembut.


"Iya, ayah." sahut Afriana girang, ya Afriana sangat girang saat di ajak masuk ke kantor pusat.


Karena jenuh berada di ruangan pak Catur aku ajak Afriana untuk jalan-jalan dan melihat situasi kantor, dengan bergandengan tangan aku ajak Afriana, melihat kantor, hingga tidak sadar aku dan Afriana sampai di lobi, saat di lobi aku duduk di sofa di temani Afriana, hingga ada salah satu reseptionis usia sekitar tiga puluhan medatangi kami berdua yang duduk di sofa sambil menunggu pak Catur datang karena sudah mau pulang.


"Maaf, mbak aku lihat dari tadi mbak duduk di sini, kira-kira mau mencari siapa ya? Atau mbak ada janji barang kali, atau mau mencari pekerjaan, jika mbak mencari pekerjaan maaf perusahaan kami tidak membuka lowongan," ucap sang resepsionis dengan wajah kurang menyenangkan mungkin jengkel melihat aku dan Afriana yang duduk di sofa lobi sudah lebih dari setengah jam.

__ADS_1


"Terima kasih mbak atas infonya," jawabku dengan senyum sopan dan santai.


"Buk, Ayah datang!" seru Afriana tiba-tiba, ya memang benar pak Catur melangkah menghampiri kami yang sedan duduk di sofa lobi, resepsionis tadi langsung menoleh ke arah pak Catur.


"Maaf, sayang sudah menunggu terlalu lama," ucap Pak Catur yang sudah berada di sampingku "Kita tunggu mbak Irma sebentar, katanya mau nitip berkas untuk dikasihkan ke papa." ucap pak Catur yang sudah duduk di sampingku.


Resepsionis tadi menunjukan wajah bingung, dan ternyata dia juga tidak mengenal pak Catur, ya aku maklum jika sang reseptionis tidak kenal, toh pak Catur jarang di kantor pusat Jakarta.


"Tolong bawakan dan kasihkan berkas inj ke papa, ini berkas untuk meting lusa, kalau malam nanti kelamaan biar di cek papa segera," ucap mbak Irma sambil menaruh berkas" Mbak tolong bawakan berkas ini ke mobil bapak!" perintah mbak Irma pada resepsionis tadi. Resepsionis tadi tambah bengong begitu mendengar percakapan kami tadi.


"Biar aku bawa sendiri saja lo mbak," ucap Pak Catur.


"Tidak usah, kamu cukup jaga istri dan anakmu, Ton." perintah mbak Irma.


Siang ini Aku antar keluargaku ke bandara untuk kembali ke kampung, Afriana juga ikut pulang, sedangkan aku matih tetap di Jakarta untuk mendampingi suamiku meting dengan dewan direksi besok di kantor pusat. Selesai check in dan berpamitan mereka menuju pintu keberangkatan, sedangkan aku dengan yang lainnya kembali pulang ke rumah keluarga Cakra. Sepulang dari bandara aku dan Pak Catur tidak langsung pulang namun pergi ke rumah bunda sebentar untuk bersilaturahmi. Hari ini lumayan melelahkan setelah dari rumah bunda aku dan Pak Catur kembali sibuk dengan pekerjaan kami untuk persiapan meting besok pagi. Aku dan Pak Catur memeriksa ulang berkas-berkas untuk besok hingga larut malam, aku bersyukur biarpun aku Salam keadaan hamil anakku tidaklah manja sehingga aku masih bisa beraktifitas seperti biasa.


"Assalamu'alaikum, dan Selamat pagi semuanya." Papa membuka rapat dengan berwibawa walau diusianya yang sudah senja namun masih sehat dan energik.


"Wa'alaikum salam." sahut seluruh peserta meting dengan antusias.

__ADS_1


"Hari ini kita akan mendengar laporan dari seluruh pimpinan pabrik cabang yang sudah tersebar di beberapa kota di pulau jawa, silahkan dari regensi paling barat berurutan dan terakir dari regensi paling timur." pak Cakra langsung mempersilahkan para pimpinan pabrik cabang.


Laporan pertama di lakukan oleh regensi barat, mereka satu persatu melaporkan akan perkembangan pabrik, mulai dari kwalitas bahan sampai jumlah penjualan, selanjutnya regensi tengah juga melakukan hal yang sama, rata-rata penjualan terus meningkat. Kini giliran pak Catur yang maju ke depan untuk mempresentainyan tentang kedua pabrik yang di pimpin oleh pak Catur.


Dengan berwibawa pak Catur mempresentasikan pada semua peserta meting tentang pabrik. Meting selesai pukul empat sore, aku benar-benar merasa kelelahan, karena ada pekerjaan yang harus di selesaikan sekarang juga, aku paksakan diri untuk tetap bekerja hingga pekerjaan benar-benar selesai, pak Catur masih sibuk dengan para dewan direksi lainnya, aku tetap berusaha kuat untuk mendampingi pak Catur, hingga tiba-tiba semua menjadi gelap dan aku sudah tidak tahu lagi apa yang terjadi.


"Sayang bangun, buka matamu sayang, maafkan mas." sayup-sayup aku mendengar ada yang memanggilku serta suara tangisan di dekatku, aku berusaha membuka mataku, ternyata aku sudah berada di kamar rumah sakit denga tangan yang sudah di infus.


"Mas." suaraku masih lemah " Haus."


"Alhamdulillah Sayang sudah bangun, maafin mas sayang." aku melihat mata pak Catur sudah sembab dan merah.


Pak Catur mengambilkan minum dan juga membantuku untuk minum, tidak berapa lama seorang suster dan dokter datang untuk memeriksaku.


"Dok, ada masalah apa?" tanyaku pada dokter.


"Ibu, kelelahan, kami akan melakukan pemeriksaan lanjutan, kandungan ibu baru di Tri semester pertama, dan ini sangat rawan terjadi keguguran, saya harap bapak bisa menjaga ibu dan janin dengan baik, Ibu harus berada di rumah sakit sampai beberapa hari, semua demi keselamatan ibu dan janin, terang dokter.


"Fah," mama menerobos masuk dan langsung memelukku dengan berlinang airmata.

__ADS_1


"Mah." sahutku lirih, dari tatapan matanya mama terlihat jika mama sedang marah pada pak Catur.


"Iya sayang, jangan bikin mama khawatir sayang," ucap mama sudah berlinang airmata.


__ADS_2