TALAK

TALAK
Part 264 TALAK.


__ADS_3

Jam empat sore mobil yang mengantar Afriana dan kedua orang tuaku telah memasuki halaman rumah kedua orang tuaku, di belakang mobil mereka mobil pak Catur juga memasuki halaman rumah kedua orang tuaku. Aku sudah tidak sabar menunggu kepulangan Afriana, entah Afriana ikut kembali pulang apa tetap berada di rumah orang tua mas Ringgo. Pintu mobil rombongan orang tuaku terbuka aku terus mengamati satu persatu yang keluar, hatiku semakin berdebar tidak menentu, pertama yang keluar ibukku, lalu bapakku, begitu aku bisa melihat tubuh Afriana rasanya hatiku benar-benar lega, aku langsung berlari menyambut Afriana langsung aku peluk Afriana.


"Syukur alhamdulillah, kamu tidak apa-apa kan Af," Aku cek kondisi tubuh anakku, aku perhatikan semuanya.


"Alhamdulillah," jawab Afriana tak kalah terharu.


"Sudah masuk dulu gak enak dilihat tetangga dikira kenapa," ucap ibukku memperingatkanku.


Aku lepas pelukanku pada Afriana kini aku ganti bersalaman menyambut kepulangan suamiku, begitu pula Afriana juga menyalami pak Catur.


"Terima kasih, Ayah," ucap Afriana.


"Tidak usah berterima kasih, ini sudah kewajiban ayah." jawab pak Catur.


Kami semua masuk rumah, karena di mushola sudah mengumandangkan adzan ashar maka bapak, mas janal dan Pak Catur segera ambil air wudhu dan segera menuju mushola untuk melaksanakan sholat berjamaah.


Hatiku benar-benar lega bisa melihat Afriana kembali pulang, aku biarkan Afriana untuk membersihkan diri dulu, aku sudah tidak sabar ingin tahu bagaimana pertemuan tadi, aku hanya ingin tahu reaksi Afriana mengingat tadi sebelum berangkat dia dengan wajah yang ditekuk dan tidak bersahabat.

__ADS_1


"Sudah Fah, jangan khawatir lagi, Afriana sudah pulang." ucap mbak Us.


"Alhamdulillah lega, tapi jika belum mendengar cerita dari mereka aku masih belum tenang, bagaimanapun juga aku tidak ingin Afriana mengalami kekecewan yang kesekian kalinya," keluhku.


"Kamu itu jadi orang tua benar-benar sempurna, Fah." puji mbak Us.


"Tidak, mbak, aku biasa saja sama seperti ibu lainnya, aku masih ingin banyak belajar," ucapku.


Malam ini kami semua memutuskan untuk menginap lagi di rumah orang tuaku, pertama karena masih ada suatu hal yang harus di bicarakan oleh keluargaku dan kedua mumpung anak-anak libur serta Afriana kebetulan juga pas cuti dari pondok.


Selesai sholat isya' berjamaah di mushola semua keluargaku di larang keluar oleh bapak, semua harus berkumpul di rumah., mas Sapta yang baru datang setelah magrib tadi juga tidak boleh pulang. Kini semua telah berkumpul di rumah orang tuaku, untuk kedua susterku mereka sudah diantar sopir untuk pulang. Ketika berada di rumah orang tuaku aku tidak pernah meminta susterku untuk menginap, pertama tidak ada tempat kedua aku takut mereka tidak nyaman dengan keadaan di kampung orang tuaku.


"Alhamdulillah sudah berkumpul semua," seru bapakku yang baru masuk dari mushola, bapakku memang selaku Akhir jika pulang dari mushola.


"Iya, pak." sahut kami semua yang sudah berkumpul di ruang tengah.


"Aku mau makan dulu." ucap bapakku yang langsung menuju dapur, tanpa diminta ibukku juga langsung megikuti langkah bapak yang menuju dapur,

__ADS_1


Kami paham ibuk dan bapakku selalunya kompak dalam segala hal, itu menurut anak-anaknya karena selama ini kami sebagai anak belum pernah menjumpai kedua orang tuaku bertengkar hebat, kalau cuma sedikit kesalah pahaman itu biasa. Tidak begitu lama bapak sudah kembali dari dapur dan duduk di antara kami semua.


"Malam ini sengaja bapak menyuruh kalian untuk berkumpul karena ada hal penting yang ingin bapak sampaikan pada kalian," ucap bapakku mengawali pembicaraannya.


"Iya pak," jawab kami semua.


"Hari ini Ringgo sudah kembali dari rumah sakit jiwa dan alhamdulillah sudah sembuh total, tadi Ringgo juga meminta maaf pada bapak dan pada kalian semua, bapak harap kalian tidak lagi menyimpan dendam pada Ringgo terutama kamu Fah," ucap bapak di Akhir kalimatnya.


"InsyaAllah pak." jawab kami semua tidak terkecuali.


"Biarpun sudah dinyatakan sembuh total namun pengobatan harus tetap berjalan, kesepakan kami semua yaitu pesantren dan itu juga sudah disetujui oleh Ringgo." ucap bapak.


"Alhamdulillah." ucap kaki semua tidak terkecuali.


Sebagai orang pernah hidup dengan mas Ringgo aku juga ikut senang mendengar kabar baik ini, sekarang Afriana tidak perlu minder lagi karena mas Ringgo yang sakit kejiwaannya.


"Pak apa Ringgo bisa kambuh lagi?" tanya Fauzan.

__ADS_1


"Tergantung perawatan dan faktor lingkungan," terang bapakku.


Ya memang betul apa yang di katakan oleh bapakku, seseorang yang pernah mengalami sakit jiwa suatu saat pasti akan kambuh lagi, namun entah kapan kita tidak tahu. Bapak kembali menceritakan sedikit tentang pertemuannya tadi dengan mas Ringgo, semua mendengar cerita bapak dengan khidmad.


__ADS_2