
Jam kerja kedua susterku hanya sampai jam lima sore, jadi sebelum jam lima sopir sopir sudah mengantar pengantinnya dan sopir ganti mengantar mbak Inayah untuk pulang ke rumahku mengambil motornya baru pulang.
Adzan magrib berkumandang, keluargaku pergi ke mushola termasuk dua pekerjaku, aku dan Nafisa memilih tidak ikut sholat di mushola karena harus menjaga dua balita kami yang belum bisa diajak ke mushola. Setelah magrib kami semua berkumpul di rumah orang tuaku untuk menikmati hidangan yang sudah tertata rapi di atas meja. Kami makan pakai sistem gantian karena kami punya tiga balita, jadi harus ada yang jags ketiga balita kami.
"Mas, mbak selamat ya, aku kalah tenan." ucap Fauzan.
"Terima kasih Zan." ucapku.
"Apa perlu aku bagi resepnya Zan." celetuk pak Catur.
"Mulai." protesku.
" Kalau gak di mulai ya gak selesai to Bunda." jawan pal Catur enteng.
"Kalau gak di mulai dijamin pasti gak jadi adiknya Afwa dan Afwi." tambah Fauzan.
"Bener banget." ucap Pak Catur lagi.
"Kalian nginep sini apa tidak?" tanya ibukku lagi, ya entah berapa kali ibukku tanya tentang nginep apa tidaknya.
"Pulang buk, besok mas harus kerja, soalnya hari ini mas sudah bolos, tidak enak bolos terlalu sering." jelasku.
__ADS_1
"Mama dan papa sudah dikabari apa belum?" tanya ibukku.
"Belum, rencananya saya mau buat kejutan, inshaallah saya akan ajak anak dan istriku ke Jakarta, sudah setahun lebih tidak pulang ke Jakarta, terakir ke Jakarta pas resepsi setelah itu belum ke Jakarta, bersama keluarga, paling ke Jakarta cuma saya saja karena ada pekerjaan." jelas pak Catur.
"Apa, tidak menganggu kesehatan Afifah dan calon jabang bayine?" tanya ibuku dengan wajah yang sudah khawatir.
"Nanti sebelum berangkat ke Jakarta saya konsultasi dulu dengan Dokternya." jawan pak Catur jujur.
"Ibu hanya bisa mendoakan." ucap ibukku lagi.
Afwa dan Afwi kini di bawah pengasuhan mbak Romlah dan mbak Qibtiyah. Sekarang gantian aku yang makan setelah mbak Romlah dan mbak Qibtiyah selesai makannya.
"Buk, boleh Afriana bubuk sini." pinta Afriana.
"Tapi buk Afri, pinginnya sekarang." rajuk Afriana.
"Kalau Afriana, sekarang bubuk sini, besok sekolahnya bagaima, ayah harus kerja pak sopir harus ngantar Ayah untuk bekerja, sekarang mbak Qibtiyah juga tidak membawa baju ganti, bagaimana coba, dan kalau berangkat sekolah dasi sini jarak ya sangat jauh Af." Aku menasehati anakku dengan lembut.
"Ya, Af dengerin kata ibukmu kalau kamu libur panjang kamu baru boleh tidur di sini sesukamu, sekarang pulang karena besok sekolah, kalau gak pinter nanti gak boleh mondok bagaimana?" nasehat ibukku tak kalah lembut.
"Beneran ya, kalau libur boleh tidur sini." pinta Afriana penuh harap.
__ADS_1
"Tentu boleh sayang." kini gantian pak Catur yang menjawab.
Sambil makan kami mendengar dan melihat tingkah ketiga bayi kami, Afwa, Afwi dan anaknya Nafisa sedang bermain bersama-sama, katanya maim bersama nyatanya yang ada mereka bertiga malah nangis karena Afwa sedikit usil dia melempar mainan, mengenai anaknya Nafisa seketika anaknya Nafisa nangis, sedangkan Afwa tetap tenang tanpa dosa, melihat anaknya Nafisa nangis dia malah tertawa terpingkal-pingkal.
"Afwa, Afwi sayang mainannya jangan di lempar-lempar nanti mainannya rusak, dan lagi hayo minta maaf dulu sama adik." rayuku sambil membimbing Afwa untuk minta maaf dengan cara saling berjabat tangan.
Tadinya Afwa tidak mau namun aku terus melakukan pendekatan akhirnya Afwa mau minta maaf.
"Ayo mas Afwa bilang apa?" perintahku." Dik maaf ya tadi tidak sengaja." ucapku mewakili Afwa dan aku ajari Afwa untuk menjabat tangan.
Rumah kedua orang tuaku benar-benar rame seperti pasar malam di tambah ada tetangga yang punya anak kecil dan ikut nimbrung di rumah kedua orang tuaku, sebenarnya mereka bukan sekedar tetangga namun masih ada ikatan saudara dan biasanya bermain bersama anaknya Nafisa.
Selesai sholat isya berjamaah kami pamit pulang, sebelum pulang kami tidak lupa untuk mengemasi barang berserak yang ada di rumah kedua orang tuaku bekas mainan Afwa dan Afwi. Kali ini Afriana pulang dengan wajah yang sedikit di tekuk karena ingin tidur di rumah mbahnya namun tidak kesampaian. Setelah pamit dan semua anggota keluarga masuk ke dalam mobil, dengan perlahan-lahan pak Catur mengendarai mobilnya memecah keheningan malam. Suasana kota yang begitu indah dan tidak padat lalu lintas serta kerlip kerlip lampu dikota menambah indahnya malam ini.
Jam delapan lebih tiga puluh menit, kami semua sudah sampai rumah dengan selamat, mbak Romlah dan mbak Qibtiyah begitu turun dari mobil langsung membawa anak-anak untuk cuci tangan cuci kaki serta lap anggota tubuh. Dikala mbak Inayah dan mbak Romlah membantu membersihkan anak-anak aku membereskan beberapa barang bawaan yang masih berantakan. Setelah semua beres aku susui kedua bayiku untuk persiapan tidur, sampai saat ini anak-anak tidur denganku dan Pak Catur, setelah anak-anak tidur aku menemui pak Catur yang ada di ruang kerjanya.
"Mas, belum selesai ?" tanyaku saat masuk ke ruang kerjanya pak Catur.
"Belum sayang, anak-anak sudah tidur?" tanya pak Catur padaku.
"Si kembar sudah tidur, namun Afri belum." jawabku " Mas ingat bonus untuk mbak Romlah belum belum di kasih lo. " Aku mengingatkan pak Catur.
__ADS_1
"Iya, sayang, sudah mas siapkan tinggal ngasih kan saja ." jawab pak Catur dengan senyum yang mengembang indah.
"Baiklah sayang, aku tinggal ke kamar Afri dulu, assalamu'alaikum." pak Catur mengangguk dan aku melangkah pergi meninggalkan kamar kerja suamiku menuju kamar Afriana.