TALAK

TALAK
Part 148 TALAK.


__ADS_3

Acara makan siang kali ini berjalan lancar dengan menu khas orang kampung, botok lamtoro, sayur asem, tempe goreng, pindang goreng, sambel terasi, rempeyek, dan ayam goreng krispi. Keluarga Cakra memilih makan makanan khas kampung karena di Jakarta sangat sulit untuk menemukan bahan makanan kampung terutama lamtoro, mengingat keluarga Cakra jika belanja jarang ke pasar selalunya di supermarket.


Selesai makan siang aku bantu-bantu ART-nya mbak Priska untuk mengemasi sisa makan, piring dan juga membantu untuk mencuci piring, entah ada angin apa pak Catur ikut-ikutan di dapur untuk membantu mencuci piring.


"Mbak, biar aku cuci piringnya dengan mbak Afifah, mbak istirahat saja." perintah pak Catur pada ART mbak Priska.


"Jangan pak, biar saya kerjakan sendiri," tolak ART pada pak Catur sopan" Sebaiknya mbak Afifah temani ibu dan bapak saja, ini tugas saya." ART-nya mbak Priska ganti melaramgku untuk tidak perlu membantunya.


"Gak pa-pa mbak di rumah saya juga sudah terbiasa nyuci piring sendiri," jawabku sopan " Jika pak Catur ingin membantu kami, tolong bapak lap saja yang sudah bersih biar cepat." perintahku pada pak Catur.


"Mbak Afifah dan Pak catur itu lucu, masa manggil calon suami kok pak, mbok yang mesra gitu lo mbak, dan juga pak Catur masa manggil mbak." celetuk spontan dari ART-nya mbak Priska.


Mendengar ucapan dari ART-nya mbak Priska aku sedikit heran, dari mana dia tahu.


"Jangan heran mbak, wong saya juga ikut menyiapkan acara lamaran mbak jadi saya tahu mbak," sahut ART-nya mbak Priska.


"Mbak, ini bisa saja, sudah kebiasaan manggil pak, jadi susah untuk merubahnya." ujarku sambil mencuci piring.

__ADS_1


"Sebenarnya, sudah ada panggilan khusus mbak, cuma ya belum terbiasa saja, benarkan Dinda." celetuk pak Catur sambil ngelap piring yang sudah aku cuci bersih.


"Dinda!" seru ART-nya mbak Priska bingung.


"Dinda Afifah mbak." pak Catur memperjelas.


"Oalah, yo manis pak habis main ludruk ya pak." celetuk ART-nya mbak Priska di iringi tawa geli.


Aku mendengar ocehan mereka berdua ikut tertawa juga, tak pikir yo aneh-aneh saja ide panggilan dari Pak Catur.


"Biar beda, mbak, bukan begitu Dinda, biar kelihatan asli jawanya, kalau darling, sayang, honey ah kurang pas, soalnya calon istriku itu unik mbak, makanya aku ingin panggilannya juga unik." pak Catur memperjelas maksud dan tujuannya.


"Pacaran, mbak." jawab pak Catur santai sambil ngelap piring.


"Titip gelas ya, Fah, soalnya aku mau kemas-kemas, terima kasih." mbak Irma langsung menaruh gelas di dekatku dan pergi meninggalkan kami.


"Ya, mbak taruh saja, biar aku cuci." ucapku tetap sambil mencuci perkakas lainnya.

__ADS_1


"Pak, tolong di pindah yang ini sudah selesai dan tolong lap sampai kering biar mbak-nya yang menata." perintahku pada pak Catur enteng seperti seorang atasan yang memberi arahan pada karyawannya.


"Bukan, pak, Dinda, sekarang bukan di kantor tapi di rumah, panggil Kangmas baru aku angkat, kalau gak aku akan tetap berdiri di sini." ujar pak Catur gemas.


"Astaqfirullah hal'adzim, baiklah Kangmas tolong di pindahin ya, jangan berulah malu di lihat mbaknya." protes ku.


ART-nya mbak Priska semakin terpingkal-pingkal mendengar percakapanku dengan Pak Catur, apalagi mendengar kata Dinda dan Kangmas.


"Mbak, tolong bantu aku, tinggalin mereka berdua biar mereka yang bersihin dapur, kalau kamu tetap disini bisa-bisa kamu ngompol, soalnya mereka berdua lagi main ludruk(ketoprak)." perintah mbak Priska pada ART-nya.


"Ya, buk." jawab ART-nya masih dengan tertawa terpingkal-pingkal saya cuci tangan dulu.


"Mbak Pris, bayarnya mahal lo, soalnya yang mencuci seorang General Manager dan sekretaris Cakra Lima!" seru pak Catur tetap sibuk mengelap perkakas dapur.


"Kalau di rumah ini ya tetap aku yang menjadi Bosnya!" seru mbak Priska "Ma, untung saja mama cepat nglamar Afifah, kalau nggak dah gak tahu lagi bagaimana nasip adikku ini, lihatlah sekarang!" seru mbak Priska sambil geleng -geleng kepala.


"Biarin saja Pris, jangan goda in adikmu dan Afifah, kasihan Afifah, Ton bantu Afifah yang benar jangan sampai kamu sentuh dia." seru mama dengan suara agak keras karena mama ada di ruang tengah.

__ADS_1


"Beres, ma!"


Mendengar mereka bercakap-cakap aku tidak menjawab apa-apa, namun dalam hati tertawa geli dengan keakrapan mereka semua, padahal antara mbak Priska dan keluarga Cakra tidak ada ikatan darah, namun keluarga Cakra tetap memperlakukan mbak Priska sama dengan anak kandungnya. Kehangan dan keakraban keluarga Cakra semakin terasa, sebuah anugerah yang sangat luar biasa memiliki keluarga yang harmonis seperti keluarga Cakra, di tambah dengan kekoplakan mereka semua.


__ADS_2