TALAK

TALAK
Part 09 TALAK


__ADS_3

Selesai sholat dzuhur kami bertiga berboncengan sepeda motor meluncur menuju sun city. Sesampainya di sun city kami langsung menuju tempat bermain anak - anak, Afriana memilih untuk bermain air di kolam renang dan juga bermain di ombak palsu(water park).


Aku dan Nafisa hanya mengawasi saja toh, Afri, sudah besar pasti bisa bermain sendiri. Afriana begitu nampak bahagia bermain dengan anak - anak lainnya walau tidak kenal. Setelah capek bermain Afriana lapar, setalah selesai membersihkan diri kami bertiga menuju KFC yang ada di sun city sekedar beli makanan ringan.


Tidak lama satu paket KFC combo sudah terhidang di atas meja kami, Afriana menyantapnya dengan lahap serta perasaan bahagia.


"Buk, enak sekali ayam krispinya " celetuk Afriana sambil terus makan ayam


"Pelan - pelan makannnya , Af, jangan terburu - buri " ucapku sambil menyesap jus jeruk


"Ya, jelas enak, Af, lawong mahal " celetuk Nafisa sambil senyum - senyum


"Ya gak apa - apa, lawong yo gak setiap hari saja, Naf" ujarku


"Ya, iya sih mbak, setiap hari kaya gini jelas bangkrut mbak " kelakar Nafisa sambil makan ayam gorengnya " Terima kasih, mbak sudah di traktir" ucap Nafisa


"Sama - sama, justru aku yang banyak berterima kasih padamu, Naf, kamu sudah banyak membantuku dalam menjaga, Afri" ucapku


"Buk, ibuk masih punya uang tidak ?" tanya Afriana


"Kenapa ?" tanyaku


"Kepingin beli KFC buat mbah " ucap Afriana


"Oh, iya nanti beli buat mbah, sehabis jalan - jalan, kalau beli sekarang nanti ayamnya melempem, tidak krispi lagi pas sampai rumah " jawabku sambil senyum


"Mbak, nanti sore kata, mas Fauzan, mas Jamal datang ya?" tanya Nafisa


"Iya" jawabku singkat


"Asyik, pakpuh Jamal kesini, nanti mbak Zahra ikut tidak buk?" tanya Afriana girang.


"Mungkin ikut, besok kan minggu!" ujarku


"Kalau mbak Zahra besok kerumah kan hari ini tidak perlu main, nunggu besok bareng mbak Zahra !" ujar Afriana sedikit lesu

__ADS_1


"Ya, besok bisa main kesini lagi, Af, kita ajak mbak Zahra main bareng " ujarku


"Beneran, buk?" tanya Afriana memastikan


"Bener, tapi syaratnya, Afri, tidak boleh minta jajan banyak - banyak, ya!" ucapku sambil senyum


"Iya, Buk" jawab Afriana senang


"Anak pintar" puji Nafisa pada Afriana


"Sudah, sekarang kita kemana ?" tanyaku


"Pulang saja buk, besok saja kita jalan - jalan sama mbak, Zahra, juga" jawab Afriana


"Bagaimana dengan kamu, Naf?" tanyaku pada Nafisa


"Jalan - jalan saja sebentar mbak, lihat bazaar siapa tahu ada yang cocok" cap Nafisa


"Baik, ayuk" ucapku dan kami bertiga segera beranjak dari duduk dan pergi ke tempat bazaar yang berada di halaman mall sun sity.


Jam 4 kami semua sudah sampai di rumah karena, Nafisa dan Afriana harus pergi ke mushola untuk ngaji.


Setelah kepergian Nafisa dan Afriana ke mushola, mas Jamal sekeluarga datang , mas Jamal punya anak yang pertama sudah 17 tahun yang kedua se usia, Afriana namanya Zahra, istrinya namanya Komariyah, kita memanggilnya mbak Yah.


Setalah kita semua duduk di lantai ruang tengah beralaskan tikar kuat ngobrol ringan sambil menyantap gorengan yang aku beli tadi di jalan.


"Mas, nanti jam berapa kita kesanya ?" tanyaku pada mas Jamal


"Habis magrib saja biar gak kemalaman, nanti kamu sama Fauzan, biar bapak sama aku " jawab mas Jamal sambil menyesap kopinya " Aku, dengar dari desas desus tetangga, Ringgo mau balik sama kamu asal kamu mau minta maaf dan menjemputnya, kalau aku pribadi jelas tidak terima, Fah, bukannya aku mengompori kamu, tapi yang jelas aku tidak terima dengan semua perlakuannya padamu " ujar masku sedikit geram


"Keputusan ada di kamu, Fah " ujar bapakku tidak mau tersulut emosi


"Jelas, aku, tidak sudi mas kalau suruh balikan, apalagi menjemput toh tanpa dia, aku bisa hidup " jawab ku langsung emosi


"Coba, saja nanti kita kesana, apa maunya "

__ADS_1


"Kalau aku punya suami macam Ringgo sudah aku buang dari dulu " ujar mbak Yah ikut emosi


"Ngomong apa to buk, kamu itu " ucap mas Jamal santai


"Ya, ngomong beneran to pak, pasti sudah aku tumbuk tuh kepalanya Ringgo " ucap mbak Yah berapi - api


"Yo, wes nanti kamu ikut ya, kamu yang bawa tumbukannya " kelakar mas Jamal


"Oalah, pak, aku ini serius malah kamu anggap guyonan " ucap mbak Yah serius


Kami semua yang menedengar perdebatan mereka hanya bisa ikut senyum - senyum saja, kami sudah terbiasa dengan sifat konyol mereka berdua jika sedang berdebat.


Suara adzan magrib berkumandang dengan merduanya kami semua bergegas untuk melaksanakan sholat magrib, bapak sama mas Jamal pergi ke mushola untuk melaksanakan kewajibannya, sedang Fauzan baru saja sampai rumah dan memarkir motornya di teras depan rumah.


Habis magrib dengan mengendarai sepeda motor kami berempat berangkat menuju ke rumah orang tua Ringgo. Setelah 30 menit perjalanan kita sampai di rumah orang tua Ringgo, kami sengaja datang secara tiba - tiba.


Kedua orang tua mas Ringgo langsung mempersilahkan kami untuk masuk, dengan raut wajah yang sulit diartikan , setelah kami duduk di lantai yang beralaskan tikar, orang tua mas Ringgo membuka suara sebagai basa basi.


"Maaf, ada kepentingan apa ya kok tumben kesini tidak kasih kabar dulu ?" tanya bapaknya Ringgo


"Maaf, Buk, Pak, atas kedatangan kami kesini, kami kesini sebenarnya mau mencari Ringgo, pasti semua keluarga sudah tahu dengan masalah mereka berdua " ucap bapakku sopan


"Ringgo, baru saja keluar, Buk coba cari Ringgo, tadi pamitnya ke warung " perintah bapaknya Ringgo


"Sebentar ya!" ucap mertuaku, dan beranjak pergi


"Sebenarnya, kami tidak mau ikut campur dalam rumah tangga mereka, tapi Afifah anak perempuan kami dan sudah 6 bulan Ringgo menggantung pernikahannya tanpa ada itikad baik" ucap bapakku masih tenang


"Maaf, keputusan ada di tangan Ringgo" jawab bapak mertuaku bimbang


Tidak berselang lama ibu mertuaku masuk kembali ke rumah sendiri tanpa Ringgo.


"Maaf, Ringgo nya tidak ada di warung kata mereka tadi sudah pergi naik sepeda motor dengan temannya " ucap ibuk mertuaku


"Baiklah, jika Ringgo tidak ada, kami pamit dulu, tolong samapaikan ke Ringgo jika kami datang, dan keluarga kami masih menunggu itikad baiknya. Apapun yang kalian lakukan saya pasti mengetahuinya" ucap mas Jamal sedikit emosi, karena sebenarnya mas Jamal tahu keberadaan Ringgo sekarang.

__ADS_1


Akirnya kami memilih pergi dan pulang, kami meninggalkan rumah orang tua Ringgo, tanpa bertemu dengan Ringgo. Sebenarnya aku marah dengan kelakuan mas Ringgo, seolah tidak menghargai keluargaku, namun keluargaku selalu menguatkan aku, agar aku tetap bisa menjalani kehidupan dengan ikhlas dan sabar.


__ADS_2