
Suasana di rumah keluarga sudah tidak begitu ramai karena semua sudah kembali ke kerumah masing-masing hanya aku dan Pak Catur yang belum kembali, di samping kesehatan ku yang menjadi pertinbangan pak Catur masih ada pekerjaan yang harus di selesaikan di kantor pusat.
Biasanya setiap pagi aku sudah bersktifas dengan berbagai kegiatan mulai hari ini aku boleh melakukan pekerjaan rumah.
"Sayang, begitu selesai mas cepat pulang kok, hati-hati di rumah," pamit pak Catur saat mau berangkat ke kantor.
"Iya, Mas, Mas juga hati-hati," aku mengantar pak Catur sampai depan pintu, begitu juga mama mengantar papa sampai depan pintu, kalau mbak Irma berangkat duluan karena sekalian mengantar anaknya sekolah.
"Ma tolong jaga anak dan istriku," pinta pak Catur pada mama sambil mencium tangan mama.
"Pasti, Ton," jawab mama senang.
Pak Catur berangkat bareng ke kantor, aku dan mama kembali masuk rumah, mama menuju dapur akupun mengikuti mama karena aku merasa tidak enak jika tidak ikut berpartisipasi dalam mengurus rumah tangga. Mama mengeluarkan bahan makanan dalam kulkas, dan menaruhnya di atas meja.
"Fah, kamu mau makan apa?" tanya mama padaku.
"Mama mau masak apa?" Aku malah balik tanya pada mama.
__ADS_1
"Mama cuma mau masak sayuran saja, Fah, mau masak sayur asem, tempe goreng, botok, sama bakwan jagung, semalam tono yang minta," jelas mama "Kamu gak nyidam apa-apa Fah ?" tanya mama padaku.
"Enggak, Ma, tapi itu Ma, selalu lapar, saya sampai gak enak Ma," keluhku.
"Namanya juga hamil, Fah," jawab mama enteng.
"Mah, apa keluarga mama ada garis keturunan kembar?" tanyaku pada mama.
"Ada, sebenarnya mama kembar, tapi waktu usia sepuluh tahun kakak Mama mengalami kecelakaan sampai meninggal dunia," jawab mama.
"Namanya juga anak-anak Fah, waktu itu kami bermain sepeda di jalan, karena kami belum begitu bisa kakak tidak bisa menghindari mobil jeep yang melaju kencang, sedangkan mobilnya dalam keadaan rem blong, kakak mama dilarikan krrumah sakit tapi tidak bisa tertolong, bersyukur penabraknya tanggung jawab sebagai bentuk tanggung jawabnya beliau membiayai sekolah mama, sekarang malah mama jadi mantunya," mama menceritakan sekilas tentang masa kecilnya.
"Keluarga mama tidak marah pada penabrak?" tanyaku.
"Kami tentu sedih, tapi kalau memang sudah diminta kembali oleh Allah ya kita harus ikhlas Fah, toh apa yang kita miliki ini hanya sebuah amanah dari Allah, apakah kita mampu menggunakan dengan baik atau tidak," nasehat mama bijak. "Mama mau sholat dhuha dulu, soal masak nanti saja, mbak tolong kamu kerjaan seperti biasa" ucap mama.
"Baik Bu," jawab pekerja keluarga Cakra mereka sudah hafal dengan aktifitas mama.
__ADS_1
Mama meninggalkan dapur, aku masih enggan untuk meninggalkan dapur, karena merasa sungkan, ingin sekali aku membantunya namun mereka melarangku lagi, akhirnya aku putuskan masuk ke mushola yang ada di rumah keluarga Cakra untuk melakukan sholat dhuha dan mengaji, saat masuk aku melihat mama dengan khusuk melakukan dzikir setelah selesai sholat dhuha.
Beberapa hari tinggal bersama keluarga Cakra membuatku semakin salut dengan keluarga Cakra, pantas jika anak-anak keluarga Cakra sangat religious, mereka terlahir dari keluarga yang religious, keluarga yang selalu mengedepankan ibadah, mama seorang wanita yang patut untuk di contoh, seorang ibu yang sederhana penuh kasih walau bergelimbangan harta dunia, serta tidak pernah membeda-bedakan status sosial seseorang. Mama menyelesaikan ngaji dan dzikirnya lebih dulu, sedang aku masih melanjutkan melantunkan ayat suci Al qur'an surat Maryam setelah menyelesaikan melantunkan surat Yusuf. Selesai ngaji dan dzikir aku menyusul ke dapur barang kali ada pekerjaan yang bisa aku lakukan. Mama masak sendiri di bantu oleh ibunya mbak Priska dan juga satu pembantu yang madis agak muda.
"Fah, kamu duduk saja, jangan sampai kecapekan, nanti kamu yang bagian nengincipi, ucap mama sambil mengaduk sayur di panci.
"Baik ma," Aku nurut saja perintah mama.
Kami berempat masak sambil bercanda, aku sebagai pendendam setia mendengar mereka bercerita, mereka begitu heboh ada saja bahan kelakaran yang mereka lontarkan, sehingga suasana menjadi sangat hangat dan akrab. Jam dua belas siang semua menu sudah siap, perutku sungguh bikin aku malu saat melihat menu yang sudah tersaji ingin sekali aku segera menyantapnya.
"Fah, kamu makan saja dulu, anakmu ini benar-benar mirip saat mama hamil suamimu, maunya makan terus," ucap mama saat mendengar suara dari dalam perutku.
"Nanti saja Ma, nunggu mas pulang, katanya sekarang sudah di jalan sama papa, lima belas menit lagi sampai," ucapku.
"Baiklah, kita tunggu sebentar, kamu maksnlsh sesuatu dulu, Karena begitu mereka sampai kita sholat berjamaah dulu baru makan siang," ucap mama.
Untuk mengganjal perut aku makan buah apel, sambil duduk di ruang santai menunggu pak Catur dan papa pulang. Benar yang di lkatakan pak Catur jika mereka akan sampai rumah dalam waktu lima belas menit, tepat di menit ke empat belas mereka berdua sudah masuk rumah, mama menyambut papa dengan penuh kasih, aku juga ikut menyambut kepulangan pak Catur, baru saja sebentar di tinggal oleh pak Catur aku sudah sangat kangen sekali, pak Catur menuntunku untuk masuk kamar, di dalam kamar aku sudah siapkan baju ganti untuk suamiku.
__ADS_1