TALAK

TALAK
Part 28 TALAK


__ADS_3

Jam istirahat ku ayunkan kakiku menuju kantin, jarak antara kantin dan kantorku agak jauh karena kantin untuk para karyawan pabrik dan karyawan kantor beda lokasi.


Sambil jalan aku tetap kirim pesan ke mbak Rani dan Nina, mereka berdua sangat bahagia. Sesampainya di kantin belum ada orang karena jam istirahat baru saja di mulai, aku mencari tempat duduk yang nyaman agar enak ngobrolnya.


Dari jauh aku melihat mbak Rani dan Nina berjalan menuju ke arahku, sambil senyum aku lambaikan tanganku pada mereka berdua.


"Mbak Ran, Nin, sini " teriaku saking senangnya.


"Ya, Allah, Fah, tambah cantik saja " seru mbak Rani langsung memeluku.


"Mbak Fah, kangen " rajuk Nina.


Kami bertiga langsung berpelukan bersama, tidak perduli dengan karyawan lainnya yang melihat kami. Tidak hanya mbak Rani dan Nina, beberapa karyawan dari bagian pengepakan juga menyapaku dengan senang hati.


"Bagaimana kabar kalian ?" tanya ku dengan perasaan senang.


"Tumben kamu boleh keluar, Fah ?" tanya mbak Rani.


"Iya, tumben " timpal Nina.


"Ya, pak bos, lagi sama bu Priska tadi Aku juga minta ijin dulu " ucapku " Dah pesen makanan aku traktir deh " ucapku.


"Alhamdulillah, dapat rejeki!" seru Nina.


"Maaf, ya sekarang kita jarang bisa ngumpul lagi " ucapku sedih.


"Gak, apa, lagian memang sudah rejekimu dapat pekerjaan yang lebih bagus, biar Ringgo tahu rasa " ucap mbak Rani sedikit emosi ketika menyebut nama mas Ringgo" Kenapa kamu gak ngajuin gugatan cerai saja Fah ?" tanya mbak Rani.

__ADS_1


"Minggu ini rencananya mau ngajuin, tadi aku juga sudah minta ijin ke pak Catur untuk cuti setengah hari, dan beliau mengijinkan " jawabku.


"Alhamdulillah, buang saja mbak jangan kasih hati manusia macam Ringgo jelek, pemalas, sampah !" ucap Nina kesak ikut menimpali.


"Tenang, pasti aku buang, enjoy my life, kamu tahu nggak sebenarnya aku senang banget, mas Ringgo pergi, hatiku rasanya dingiiiiiinn banget, pulang kerja tidak perlu mendengar amarahnya, tidak perlu memikirkan makanannya, dan tidak perlu kasih uang untuk beli rokok " ucapku bahagia


"Kamu tuh terlalu sabar Fah, kalau aku sudah aku buang dari dulu " ucap mbak Rani.


Kami bertiga ngobrol sambil menikmati menu yang kami pesan, mbak Rani terus bercerita tentang pekerjaan dan keluarganya. Begitu pula Nina tidak kalah seru bercerita pekerjaan dan kebiasaannya dan yang membuatky terkejut Nina sudah mendaftarkan diri di Universitas terbuka. Aku tetap menawarkan tempat tinggal untuk Nina secara toh rumahku juga luas walau belum bagus.


"Ya, mbak aku mau tinggal bersamamu, terima kasih ya mbak " ucap Nina terharu.


"Sama - sama Nin, di rumah ku ada buku - buku ku dulu siapa tahu kamu membutuhkan" ucapku.


"Kamu masih muda Nin, raihlah cita - citamu, jangan putus asa, siapa tahu kamu mendapatkan posisi yang bagus di pabrik yang baru " ucap mbak Rani.


Nina hanya nyengir mendengar ucapanku dan mbak Rani, selesai makan kami bertiga menuju mushola untuk melaksanakan sholat dzuhur berjamaah. Selesai jam istirahat kami menuju tempat kerja kita masing - masing, aku kembali ke ruanganku dan berkutat dengan kertas - kertas lagi dan layar komputer di depanku.


"Mbak" sapa Pak Catur yang sudah ada di depanku.


"Ya, pak " jawabku sedikit terkejut.


"Tolong berikan ini ke mbak Priska " perintah pak Catur sambil menyerahkan dokumen padaku.


"Baik, Pak "


Aku langsung pergi meninggalkan pak Catur menuju ruangan bu Priska yang ada di lantai bawah. Sampai di ruangan bu Priska aku langsung menyerahkan dokumen padanya.

__ADS_1


To Tok Tok


"Masuk " suara bu Priska dari dalam


"Selamat siang bu " sapaku sopan.


"Duduklah " perintah bu Priska" Bagaimana kerja dengan adiku yang konyol itu?" tanya bu Priska " Aku harap kamu betah dan memang sejak meninggalnya istri dan anaknya dia berubah, padahal dulu dia tidak begitu " ucap bu Priska sedih.


"Inshaallah saya masih bisa mengimbangi kinerja pak Catur bu " jawabku sopan.


"Mantan suamimu bagaimana, sudah mengajukan gugatan cerai apa belum?" tanya bu Priska.


Bu Priska sedikit banyak tahu tentang kehidupanku dan perjuanganku dalam mempertahankan rumah tangga ku yang tidak sehat.


"Belum, bu, biarlah, rencananya minggu ini saya yang mengajukan gugatan bu " jawabku.


"Kapan?" tanya bu Priska penasaran.


"Rabu lusa bu, saya juga sudah minta ijin pak Catur dan Pak Catur juga sudah mengijinkannya" jawabku.


"Dia, tahu alasanmu cuti ?" bu Priska tanya lagi.


"Tidak, bu, rasanya tidak etis kalau alasan mau ngurus perceraian, secara perceraian kan bukan hal baik, bu" jawabku tidak enak.


"Kalau kasusmu itu ya lain, Fah, aku saja gak mungkin kuat bertahan segitu lamanya hidup dengan suami macam mantanmu itu " ucap bu Priska " Ku doakan semoga prosesnya lancar, supaya statusmu tidak menggantung kaya gini, dan suatu saat semoga kamu mendapatkan jodoh yang sholeh dan mampu menjadi imammu dunia akhirat, ya sudah ini sudah selesai kamu berikan lagi pada pak Catur " ucap bu Priska sambil menyerahkan dokumennya padaku.


"Aamiin yarobbal'alamin, baik bu saya permisi dulu" ucapku dengan seulas senyuman.

__ADS_1


Aku tinggalkan ruangan bu Priska dan menuju ruangan pak Catur untuk menyerahkan kembali dokumen dari bu Priska yang sudah selesai di revisi oleh Bu Priska.


__ADS_2