TALAK

TALAK
Part 81 TALAK


__ADS_3

Jam sudah menunjukan pukul dua belas siang yang artinya jam istirahat telah tiba, seperti biasa aku selalu ke mushola kantor untuk melaksanakan sholat dhuhur dulu sebelum makan siang.


Dari awal aku memang mengagumi sikap dan Tata krana pak Catur, karena sebagai seorang pimpinan beliau selalu mengutamakan ibadahnya, beliau selalu memberi contoh kepada karyawannya dalam ketepatan waktu untuk ibadah maupun pekerjaan. Dari segi emosi pak Catur juga bisa mengontrolnya, beliau tidak akan berteriak atau marah-marah kalaupun ada karyawan yang melakukan kesalahan dan cara mengingatkannya juga sangat bijak.


Makan siang kali ini di ruangan pak Catur bersama bu Priska juga, pak Catur teenyata sudah memesan beberapa menu untuk makan siang dari rumah makan lombok idjo. Selesai makan siang kami bertiga duduk santai di sofa ruangan pak Catur sambil ngobrol ringan.


"Ton, apa kamu sudah di beri kabar oleh mbak Irma kalau mama sama papa mau datang, sekalian melihat pembangunan pabrik?" tanya bu Priska pada pak Catur.


"Belum, mbak kapan beliau mau datang, semalam aku telpon mama sama papa mereka tidak bilang jika mau datang, mbak Irma juga tidak ngomong." jawab pak Catur santai.


"Nggak tahu kapan pastinya, cuma mama sama papa pingin main ke sini, Ton aku dapat kabar tanah yang sebelahnya kamu beli beberapa bulan lalu katanya mau di jual luasnya kurang lebih dua hektar kamu tertarik untuk beli tidak?" tanya bu Priska pada pak Catur.


"Beneran mbak?" tanya pak Catur serius.


"Iya, beneran, kamu lihat dan tanya ke pak kadesnya langsung saja biar lebih jelas !" perintah bu Priska.


"Bagaimana mbak, Fah, kita berangkat dan lihat lokasinya?" tanya pak Catur padaku.


"Untuk minggu ini sampai bulan depan jadwal kita sudah padat pak, dan kita juga belum lihat lokasi untuk syuting iklan produk kita." jawabku.


"Sabtu ini kamu longgar mbak? Jika kamu longgar kita bisa berangkat hari sabtu pagi, dan siangnya saat Afriana pulang sekolah kamu sudah berada di rumah, atau kita ajak sekalian Afriana." ucap Pak Catur semangat.


"Sabtu pagi Afriana masih sekolah, Baiklah sabtu pagi kita berangkat lihat lokasi syuting sekalian lihat tanah." jawabku menyetujui permintaan pak Catur.


"Ton, Fah kalian dapat undangankan dari salah satu karyawan kita yang menikah hari ini, datang jam berapa kalian?" tanya bu Priska padaku dan Pak Catur.


"Bagaimana mbak, Fah kita datang jam berapa?" tanya pak Catur padaku.


"Hahh...! Kita?, kalau saya nanti sepulang dari kantor langsung saja nyumbang soalnya kalau saya pulang dulu terlalu repot, kasihan Fauzan harus bolak balik sedangkan rumah saya juga jauh." jawabku jujur.

__ADS_1


"Kalau begitu kita berangkat nyumbang bareng saja mbak, mbak Priska bagaimana?" tanya pak Catur padaku dan bu Priska.


"Aku ya habis magrib sama mas Anam, kalau kalian mau, kita bisa bareng bagaimana? Fah kamu sudah bawa baju ganti-kan?" tanya bu Priska sambil melihat ke arahku.


"Kalau habis magrib kayaknya saya kerepotan bu, berarti saya harus bolak-balik dan.... " belum selesai aku ngomong sudah di putus oleh pak Catur.


"Kita nyumbang bareng saja mbak Fah nanti biar aku antar pulang, tadi aku juga sudah WA Fauzan untuk tidak menjemput kamu." ucap Pak Catur santai.


"Sejak kapan bapak punya nomor teleponnya Fauzan?" tanyaku sedikit terkejut, bukan hanya aku saja bu Priska sendiri sampai geleng-gekeng kepala.


"Gak sekalian nomor telepon orang tuanya Afifah Ton ?" tanya bu Priska sedikit menyindir sambil geleng-gekeng kepala.


"Akhir-akhir ini mbak Fah, kan selalu di antar jemput oleh keluarganya, makanya beberapa hari yang lalu saat mas Fauzan menjemput mbak Fah, aku minta nomor teleponnya, buat jaga-jaga." jawab pak Catur santai.


"Ya, Fah?, biasanya kamu berangkat sendiri, kenapa?, ada masalah?" tanya bu Priska penasaran dan khawatir langsung.


"Sedikit, bu." jawabku sopan.


"Masalah apa, Fah?" tanya bu Priska lagi semakin penasaran.


"Masalah biasa bu, soal saya dengan mantan." jawabku jujur sebenarnya sedikit sungkan.


"Kemarin-kemarin aku tanya gak jawab, sekarang di tanya mbak Priska di jawab." gerutu pak Catur.


"Maaf, pak." jawabku.


"Oh... Ya sudah aku mau kembali kerja nanti, Afifah pulang bareng aku atau kamu antar kerumahku Ton, biar Afifah mandi dulu." ucap bu Priska.


"Saya bareng bu Priska saja, bu." jawabku spontan.

__ADS_1


"Baiklah." jawab bu Priska.


Kami berdua kembali ke ruangan kami masing-masing untuk melanjutkan pekerjaan, di sela-sela waktuku bekerja aku langsung telepon Fauzan untuk menanyakan tentang pengakuan pak Catur yang katanya sudah WA Fauzan, dan ternyata benar kalau pak Catur sudah WA ke Fauzan, agar Fauzan tidak perlu menjemput saya dengan alasan ada meting di luar kantor dan pulangnya belum pasti.


Jam empat sore jam kantor telah usai dan akuupun dengan senang hati bersiap-sipa untuk pulang karena pekerjaanku telah selesai juga dan juga aku akan ikut mobil bu Priska pulang ke rumah bu Priska untuk numpamg mandi sebelum datang ke kondangan nikahan salah salah satu karyawan kantor yang sedang mengandakan resepsi pernikahan.


"Mbak, Fah sudah siap ayo pulang!" perintah pak Catur yang ternyata sudah berada di depan mejaku sambil menenteng tas kerjanya.


"Bapak mau pulang juga?" tanyaku.


"Mau kondangan." jawab pak Catur asal.


"Oh.... " jawabku.


"Mbak Priska sudah pulang jadi kamu aku antar ke rumah mbak Priska dulu, nanti kita berangkat bareng untuk kondangan." ucap Pak Catur.


"Beneran bu Priska sudah pulang?" tanyaku tidak percaya.


"Ya, barusan." jawab pak Catur enteng.


Akhirnya mau tidak mau aku berada satu mobil dengan Pak Catur menuju rumah bu Priska. Jarak antar rumah bu Priska dan pabrik hanya lima belas menit begitu sampai di rumah bu Priska pak aku segera turun dan ternyata mobil bu Priska belum ada di rumah. Pak Catur menyuruhku masuk namun tidak lama kemuadian bu Priska baru sampai rumah, saat aku melihat pak Catur, pak Catur pura-pura tidak tahu.


"Selamat sore bu kata pak Catur ibu sudah pulang duluan kok baru datang?" tanyaku ingin tahu.


"Alasannya bosmu saja Fah, wong aku lihat kalian jalan duluan." jawab bu Priska sambil melirik ke pak Catur.


"Yah, aku kira kamu sudah pulang mbak." ucap Pak Catur sambil senyum -senyum.


"Kamu Ton, cepetan pulang kalau telat kesini aku tinggal, biar Afifah sama aku dan mas Anam!" perintah bu Priska.

__ADS_1


"Jangan di tinggal to mbak, aku kan gak tau di mana alamatnya" ucap Pak Catur " Mbak Fah aku pulang dulu."pamit pak Catur dan pergi meninggalkan kediaman bu Priska.


__ADS_2