
Bu Priska memberiku tumpangan untuk mandi, ganti baju dan istirahat sebelum berangkat ke kondangan. Sebelum adzan magrib pak Catur sudah kembali datang ke rumah bu Priska, namun beliau masih memakai pakaian super santai kaos oblong sama celana kain warna hitam, sepatu juga hitam.
Ketika adzan magrib berkumandang kami semua menuju mushola kecil yang ada di rumah bu Priska, jika biasanya kakung dan Pak Anam pergi ke mushola untuk jamaah kali ini kita semua berjamaah di mushola yang ada di rumah bu Priska. Dengan merdunya Pak Catur mengumandangkan adzan dan iqomah, sedang kakung yang menjadi imam sholat kami.
Sholat magrib berjalan normal seperti biasa hanya dua puluh menit saja, selesai sholat kami berempat segera bersiap-siap untuk pergi ke kondangan, bu Priska memakai gamis batik dan Pak Anam memakai hem lengan panjang batik couple, sungguh sangat serasi. Aku hanya memakai gamis batik yang sangat sederhana namun masih Pantas untuk di pakai pergi kondangan set hijab segi empat besar yang menjadi fovoritku, sedang pak Catur memakai batik lengan panjang namun motif dan warna tentu berbeda dengan bajuku.
Kami berempat pergi menggunakan satu mobil yaitu mobilnya pak Catur, karena pak Anam bilang pengiritan dan juga biar hemat tempat parkir. Mobil melaju dengan santainya menuju tempat resepsi pernikahan di kampung sebelah bu Priska. Pak Catur mengemudi di temani Pak Anam sedangkan aku dan bu Priska duduk di jok belakang. Hanya butuh waktu lima belas menit kami berempat telah sampai di tempat resepsi, resepsi yang cukup mewah menurutku, tamu yang datang silih berganti, kami berempat bersalaman dengan orang tua pengantin dan juga sang pengantin yang berdiri di pintu masuk tenda resepsi.
Kami berempat mendapatkan sambutan istimewa entah siapa yang memberi kode pada anggota karang taruna yang bertugas sehingga beberapa anggota karang taruna menyambut kami berempat dengan hormat, kami berempat duduk di beri tempat special tidak bercampur dengan tamu undangan lainnya.
Begitu kami sudah duduk dan mendapat hidangan khusus di meja khusus sang mempelai menemui kami berempat penuh suka cita. Dan juga para tetangga atau kerabat yang membantu acara mengintai kami berempat, ada yang berbisik-bisik " Bos e manten datang, bos e masih muda orang kaya sudi datang di pernikahan karyawan sungguh jarang lho padahal pabrik Cakra itu sudah terkenal, bosnya kok ya bisa yo merakyat seperti ini "bisik-bisik, tetangga di balik tembok.
__ADS_1
"Iya, jarang lho punya bos baik seperti pemilik pabrik Cakra." bisik tetangga lainnya di balik tembok.
"Terima kasih, pak Catur, bu Priska, bu Afifah serta bapak atas kehadirannya di pernikahan kami." ucap mempelai perempuan dengan senyum mengembang penuh kebahagiaan dan juga mempelai Laki-laki turut ikut menyambut kami berempat.
"Semoga sakinah mawadah dan warohmah sampai jannah, mbak, mas." ucap Pak Anam.
Tidak berselang lama kedua orang tua mempelai juga menemui dan menyambut kami penuh hormat di warnai kebahagiaan.
Kami berbincang-bincang sebentar sambil menikmati hidangan yang telah di suguhkan kepada kami, pisang raja, jenang, wajik, rengginan, emping belinjo, tape ketan, kue bolu, kue lapis, kembang goyang, semua makanan telah sajikan menjadi satu meja penuh.
Bu Priska yang sudah terbiasa dengan adat dan kebiasaan sudah tidak sungkan dengan santainya dia bilang ke pengantin jika beliau minta tape ketan, bahkan di kantor sudah terkenal dengan kebiasaan bu Priska dengan makanan favorit saat kondangan pasti tape ketan hitam dan juga jenang merah.
__ADS_1
Kita rasa sudah cukup kami berempat segera pamit saat kami pamit para anggota karang taruna yang bertugas sudah membawakan empat kantong kertas penuh dengan jajan menuju mobil kami.
Pak Catur yang baru pertama kali datang ke acara pernikahan di kota Madiun sedikit kikuk, dulu pak Catur jika ada undangan dari karyawan selalu mewakilkan ke sekretarisnya dan baru sekarang pak Catur mau datang ke acara kondangan pernikahan di kampung.
"Enak ya pernikahan di kampung makanannya banyak sekali lah pulang masih di kasih makanan dan juga gak perlu sewa gedung." ucap Pak Catur sambil nyetir mobil.
"Ya, enaknya begitu tapi yang rewang (membantu )capek Ton." ucap bu Priska." Cepatan kita pulang jangan lupa antar Afifah pulang ton!" perintah bu Priska.
"Siap mbak." jawab pak Catur semangat.
Begitu mobil sudah berbelok di rumah bu Priska, kami berempat langsung turun, aku mengambil baju kerjaku dan langsung pamit pulang dengan di antar oleh pak Catur.
__ADS_1