
Resepsi berjalan lancar, capek? tentu saja capek resepsi berakhir di jam dua siang, setelah resepsi selesai semua keluarga kembali kerumah masing-masing, sedang aku dan Pak Catur masuk kamar hotel yang sudah di sewa oleh pak Catur, aku dan Pak Catur istirahat setelah melaksanakan sholat dhuhur, tanpa pikir panjang langsung aku baringkan tubuhku di atas ranjang saking capeknya. Sungguh tragis antara Aku dan Pak Catur malah langsung tidur karena sama sama ngantuk dan capek, bagaimana tidak capek semalaman gak bisa tidur karena suatu hal, paginya malah bercinta singkat, selesai langsung make up dan pergi ke acara resepsi , kami berdua baru bangun dijam setengah lima sore.
"Mas, sudah sore kita belum sholat asyar." ucapku sambil menggoyangkan tubuh pak Catur pelan untuk membangunkannya.
"Em... Jam berapa sayang." tanya pak Catur dengan mata masih tertutup, suara serak khas orang yang baru bangun dari tidur.
"Sudah setengah lima, mas." ucapku lembut namun masih sama-sama berbaring.
"Astaqfirullah hal'adzim, ya sudah kita sholat dulu, keburu habis waktunya." pak Catur segera bangkit berdiri menuju kamar mandi untuk ambil air wudhu. Begitu pula aku juga bergantian untuk ambil air wudhu, begitu aku keluar dari kamar mandi aku lihat pak Catur sudah menata sajadah, serta sudah menyiapkan mukena untukku. Jujur aku benar-benar terharu, selama menjadi istri mas Ringgo, belum pernah mas Ringo memperlakukan aku seperti ini, aku langkahkan kakiku menuju sajadah yang sudah tertata rapi, aku pakai mukenaku, dengan khusuk pak Catur menjadi imam sholatku, tak terasa butiran air mataku sudah membasahi mataku. Aku berdoa dalam hati semoga selamanya begini, dan tidak terkikis oleh waktu, mengingat perkenalanku dengan Pak Catur tidaklah lama.
__ADS_1
"Subhanaallah." suara pak Catur ketika aku bersalaman dan mencium telapak tangan pak Catur "Apa mas ada salah padamu sayang?" tanya pak Catur lembut dan langsung membawa tubuhku dalam pelukannya dan mengecup keningku.
"Tidak mas, terima kasih sudah menerima kami dengan iklas, bimbing Dinda dan anak-anak untuk sampai Jannah." ucapku.
"Inshaallah kita jalani sama-sama sayang." ucap Pak Catur lembut.
Setelah berbincang sebentar pak Catur kembali memimpin dzikir dan doa dengan khusuk. Selesai sholat pak Catur mengajakku untuk melihat sekitar hotel, ini pertama kalinya aku nginep di hotel yang ada di kota Madiun, kami berdua keluar dari hotel menuju mall Sun city, kami berdua berjalan-jalan sebentar karena hari juga sudah terlalu sore sebentar lagi pasti adzan magrib berkumandang.
"Mas kenapa kita gak tidur di rumah saja kan enak gak perlu bayar." ucapku saat berjalan menuju mall Sun City.
__ADS_1
"Aku, tidak ingin ada yang ganggu nanti malam." jawab pak Catur enteng.
Kami berdua menuju bioskop, serasa seperti pacaran. Kami berdua memutuskan menonton film di bioskop, film yang di tayangkan film remaja romantis, dan hampir semua pengunjung bioskop adalah mereka yang masih muda, usia SMA dan Kuliah namanya juga pas malam minggu jadi banyak anak muda yang keluar untuk refreshing.
"Serasa masih muda Mas." bisikku lirih.
"Yang penting sudah halal, jangan di kira aku sudah tua ya, aku tuh baru tujuh belas tahun." bisik pak Catur lirih di dekat telingaku dengan senyum sumringah.
"Ya, tujuh belas kali dua." candaku.
__ADS_1
Usiaku dan usia pak Catur memang terpaut tidak jauh, kami berdua hanya terpaut usia empat tahunan.