TALAK

TALAK
Part 225 TALAK


__ADS_3

Hari yang sangat melelahkan bagiku, sepulang dari pasar aku langsung rebahan di atas kasur kamar anak-anak sambil momong si kembar dibantu oleh mbak Romlah. Kedua bayiku sudah mulai crewet dan juga aktif, kami berdua berusaha mengajari mereka berdua untuk belajar ngomong.


" Mas Afwi sini sayang, bunda minta apelnya dong." pintaku pada Afwi yang sedang bermain buah-bahan.


"Nak oeh(tidak boleh) unda." tolak Afwi dengan gaya khas anak-anak seusianya.


"Ya sudah bunda minta mas Afwa saja, mas Afwa, bunda minta jeruknya boleh?" kini aku ganti minta ke Afwa, yang juga mainan buah-buahan.


"Ini Unda." Afwa menyodorkan buah jerul plastik padaku.


"Terima kasih sayang." Aku tersenyum dan mencium Afwa .


Aku sangat bahagia sekali, kini aku selalu bisa berada di samping anak-anakku, suatu moment yang pernah terlewat saat Afriana kecil. Kini aku benar-benar berperan seabagi ibu rumah tangga sepenuhnya, tugasku sekarang mendidik anak-anak, menjaga kedamaian dan kebahagiaan dalam rumah tanggaku.


"Buk, itu pisangnya bagaimana, apa perlu saya gorengakan buat ibuk?" tanya mbak Qibtiyah yang sudah berada di dekatku.


"Gak usah mbak, nanti saja nunggu bapak pulang, biar di goreng sama bapak, dan itu mbak pisang lainnya boleh kalian makan tapi tolong pisang kepoknya jangan dimakan ya." ucapku enteng tanpa dosa, entah apa sebabnya dari kemarin aku kepingin banget makan pisang goreng buatan suamiku.


"Oh, baik buk." jawab mbak Qibtiyah langsung pergi lagi, dan melanjutkan pekerjaannya.


"Mas Afwa dan mas Afwi sini sayang coba tunjukin buah pisangnya yang mana ayo bawa sini dan kasihkan ke bunda sayang." Aku bermain dengan kedua anakku.

__ADS_1


Perkembangan otak Afwa dan Afwi sangat baik sehingga membuat mereka berdua mudah untuk diajak ngomong, serta bisa melakukan perintah dengan baik.


"Assalamu'alaikum." Afriana dan Rahma yang baru pulang sekolah mengucap Salam, siang ini Afriana di jemput oleh mas Anam suaminya mbak Priska dan kali ini Rahma juga ikut datang kerumah, namun mas Anam langsung pulang setelah menurunkan Afriana dan Rahma di halaman rumah, karena mas Anam ada pekerjaan di bengkelnya yang tidak bisa di tinggalkan.


"Wa'alaikum salam, sayang, ayo ganti baju dulu." perintahku.


"Tante nanti aku mau pinjam adiknya, bolehkah Tante, di bawa pulang?" tanya Rahma polos tanpa dosa.


"Kok pinjam gimana sih?" tanyaku.


"Gak jadi pinjem, aku minta boleh Tante aku kan gak punya adik, sedang Afriana adiknya sudah dua dan katanya mau punya adik lagi!" oceh Rahma riang kaya sepur ekspres.


"Nanti aku kasih susuku tante, kemarin habis dibelikan susu banyak sama mama." jawab Rahma polos tanpa dosa.


"Adik ya gak mau to mbak Rahma, masa adiknya mau di kasih susu kenal manis, adiknya belum boleh, adik hanya boleh minum Asi." jelasku


"Giti yaTante, Tante tadi katanya mama mau kesini, sepulang kerja bareng om." Rahma memberitahuku.


"Benarkah?" tanyaku.


"Iya, nanti mama yang jemput Rahma, sekalian mama mau mainan sama adik, besok Rahma kan libur." celoteh Rahma, tiada henti padahal belum ganti baju masih pakai seragam.

__ADS_1


"Mbak, Rahma ayo ganti baju dulu, setelah ganti baju baru main sama adik!" seru Afriana yang sudah selesai ganti baju.


"Ayo, mbak Rahma, ganti baju dulu." panggil Qibtiyah.


Rahma dengan dibimbing oleh Qibtiyah menuju kamar Afriana, untuk ganti baju. Kini di kamar ada aku, Afriana, Afwa dan Afwi, sedang mbak Romlah aku suruh untuk istirahat.


"Treteeett, sudah selesai!" seru Rahma yang sudah ganti baju dengan baju santai.


Kami berlima bermain bersama di dalam kamar anak-anak, kami memilih menyusun lego bersama-sama, Rahma dan Afriana berlomba menyusun lego sedangkan Afwa dan Afwi dengan PD nya merobohkan susunan yang di buat oleh Rahma dabln Afriana, teriakan dan tawa mendominasi suasana gaduh di kamar anak, ruangan yang tadinya tidak begitu rame kini berubah menjadi sangat gaduh, karena ulah mereka berempat.


"Adik Afwa, mbak Afri bikinkan mobil-mobilan tapi jangan dirusak ya." ucap Afriana lembut.


"Dik Afwi sini sana mbak Rahma, mbak bikinkan jerapah." ucap Rahma.


Afriana dan Rahma begitu pandai dalam menyusun lego, sehingga hanya hanya dalam waktu yang sekejab saja lego sudah berubah bentuk. Namanya juga anak-anak kakaknya yang bikin adiknya yang merusak.


Suara merdu dari sang Qori berkumandang membelah ramainya suasana kota Madiun, dalam artian waktu Jum'at an telah tiba. Afwa dan Afwi kini mulai rewel karena waktunya untuk tidur siang.


"Kalian mainan dulu, ibuk bawa adik bubuk dulu nanti jika adik sudah bangun baru mainan lagi." ucapku sambil menuntun Afwa dan Afwi pindah kamar.


Afwa dan Afwi aku tidurkan di kamarku seperti biasa dengan dibantu oleh mbak Romlah, tidak butuh waktu lama mereka berdua sudah terlelap terbuai oleh mimpi indahnya, begitu meraka sudah tidur mbak Romlah segera keluar dari kamar sedang aku tetap berada di dalam kamar, aku buka gawainya aku mengirim pesan kepada pak Catur agar tidak lupa untuk segera ke masjid untuk melaksanakan ibadah sholat jumat, padahal tanpa aku ingatkan pak Catur sudah pasti menjalankan ibadah sholat jumat, karena sudah menjadi kewajibannya, namun nyatanya suamiku paling senang jika aku mengingatkannya.

__ADS_1


__ADS_2