TALAK

TALAK
Part 45 TALAK


__ADS_3

Kami bertiga sudah duduk di ruangan mediasi, petugas Pengadilan Agama mulai membuka berkas pengajuan gugatan ceraiku. Petugas mengawali mediasi dengan saling memperkenalkan diri, petugas langsung menayaiku tentang gugatan yang aku ajukan.


"Ibu, Afifah, anda sudah yakin dengan keputusan anda menggugat cerai kepada bapak Ringgo saputro?" tanya petugas sopan.


"Ya, pak, saya sudah yakin " jawabku tegas dan tenang.


"Anda tidak ingin membatalkan gugatan anda?" tanta petugas kepadaku.


"Tidak, pak, saya tetap pada pendirian saya, jika saya tetap ingin bercerai dari saudara Ringgo saputro" jawabku tenang.


"Apa, alasan ibu ingin tetap bercerai dari bapak Ringgo saputro?" tanya petugas.


"Pertama, selama kurun waktu hampir sebelas tahun bapak Ringgo tidak bisa menjadi imam yang baik untuk keluarga kami, dia sudah lalai dengan kewajibannya kepada Allah dalam menjalankan sholat lima waktu, kedua sudah setahun lebih dua bulan bapak Ringgo sudah menjatuhkan TALAK kepada saya dan mengembalikan saya kepada orang tua saya, setelah menjatuhkan TALAK bapak Ringgo langsung meninggalkan kami tanpa kabar apapun maupun nafkah, ketiga selama kurun waktu pernikahan kami bapak Ringgo juga tidak bekerja sehingga dia tidak memberi nafkah kepada saya dan anak saya, ke empat vapal Ringgo sudah menghina saya dengan mengatakan saya miskin dan hanya mampu membuat rumah seperti kandang ayam" jelasku singkat dan padat.


Aku mengatakan alasan ku dengan tatapan tajam dan tenang, semua yang aku sampaikan secara lisan sesuai dengan apa yang aku tulis di surat pengajuan dua minggu yang lalu. Aku mulai melihat aura wajah mas Ringgo semakin menciut apalagi mataku menatapnya dengan tatapan tajam dan dingin seperti harimau yang mau menerkam musuhnya.


"Astaqfirullah adzim, baik ibu saya terima alasan ibu" ucap petugas " Sekarang giliran bapak Ringgo, apa anda menyetujui gugatan cerai dari ibu Afifah ?" tanya petugas.

__ADS_1


Mas Ringgo tidak langsung menjawab, mulutnya seperti kaku untuk bicara, sedang tatapanku tetap tatapan tajam yang menghunus.


"Bapak Ringgo tolong di jelaskan!" perintah petugas.


Mas Ringgo tetap tidak menjawab dia hanya diam tanpa kata.


"Baik, bapak Ringgo apa benar dengan yang di katakan ibu Afifah tadi ?" tanya petugas.


"Benar pak" jawab mas Ringgo singkat.


"Apa alasan bapak, menceraikan ibu Afifah setahun yang lalu ?" tanya petugas pada mas Ringgo.


Mendengar jawaban dari mas Ringgo aku hanya menyunggingkan senyum sinis dan tetap dengan tatapan tajam dan dingin.


"Maksudnya tidak bisa menerima bagaimana dan apa sebabnya sehingga bu Afifah marah - marah kepada anda ?" tanya petugas.


"Dia marah - marah sebab dia memintaku untuk membantu mengerjakan pekerjaan rumah dan saya tidak melakukannya maka saya tidak kuat dengan omelan dan marah - marahnya, dia tidak bisa menerima dengan keadaan saya " jawab mas Ringgo.

__ADS_1


"Keadaan yang bagaimana?" cecar petugas.


"Dia tidak bisa menerima keadaan saya jika saya tidak bekerja dan tidak berpenghasilan " jawab mas Ringgo sedikit gusar.


"Astaqfirullah haladzim, jika bapak tidak bekerja dari mana keluarga bapak bisa membiayai hidup keluarga anda, apa lagi kalian punya anak perempuan sekarang usia sembilan tahun ?" tanya petugas.


"Afifah yang bekerja di pabrik rokok Cakra lima " jawab mas Ringgo sedikit percaya diri.


"Bapak tidak bekerja sama sekali, biaya hidup ibu Afifah yang menanggung semua, dan anda bilang anda tidak kuat karena istri anda marah - marah karena hal sepele, pak Ringgo di sini yang tidak bisa menerima bukan ibu Afifah tapi anda sebagai kepala keluarga, seharusnya anda yang bekerja keras untuk menafkahi keluarga anda, tapi malah anda yang lalai dengan tanggung jawab anda" jelas petugas" Apa setiap hari ibu Afifah marah - marah kepada anda ?" tanya petugas.


"Tidak" jawab mas Ringgo.


"Ibu, Afifah, apa benar dengan apa yang di katakan oleh bapak Ringgo ?" tanya petugas kepadaku.


"Ya, benar, dan saya minta bantuan juga tidak setiap hari, saya minta bantuan jika saya banyak kerjaan dan harus lembur baru saya minta tolong kepadanya hanya untuk menjemur baju atau membersihkan rumah, jika saya tidak sempat atau jika saya sedang capek saja, jika saya masih mampu untuk melakuakan sendiri maka saya kerjakan sendiri, sebenarnya untuk baju bisa saya pakai jasa laundry namun karena penghasilan saya yang pas pasan maka saya kerjakan sendiri supaya penghasilan saya cukup untik biaya hidup satu bulan " jelasku tetap tenang dan tegas.


"Di sini di jelaskan jika kalian sudah punya rumah, dari mana biaya untuk membangun rumah, pak Ringgo bisa di jelaskan!" pinta petugas.

__ADS_1


"Biaya untuk membangun rumah menggunakan tabungan dari hasil kerja Afifah dan pinjam dari koperasi dari pabrik Afifah " jelas mas Ringgo.


Mendengar penjelasan dari mas Ringgo, aku melihat ekpresi petugas hanya geleng - geleng kepala dan sambil terus beristigfar.


__ADS_2