
Gelak tawa dan riuh anak-anak mewarnai rumahku setiap hari, apalagi sekarang tambah ada Afriana yang sedang berada di rumah, Afriana tak hentinya-hentinya menggoda adik-adiknya, sesuai rencana semalam pagi ini ak, pak Catur dan anak-anak akan berkunjung di rumah orang tuaku dan juga berkunjung ke rumah orang tua mas Ringgo, disamping untuk bersilaturahim kami ingin membahas tentang rencana penjemputan mas Ringgo, beberapa tahun terakir ini pak Catur beberapa kali mengajakku untuk menjenguk kedua orang tua mas Ringgo.
"Sudah siap semua ayo berangkat!" perintahku pada semua anak.
"Siap," jawab Afriana siap.
"Let's goo," seru Afwa dan Afwi girang.
"Siap bu ratu," jawab pak Catur dengan senyum khasnya.
Aku, pak Catur dan anak-anak langsung menuju halalam, kami bergantian masuk kedalam mobil secara bergantian, aku dan Alifa duduk di depan sedang Afriana dan ketiga adik-adiknya duduk di belakang. Mereka bertiga berebut untuk duduk di pangkuan Afriana karena menang sudah lama mereka berempat tidak bertemu. Kami berangkat ke rumah orang tuaku dengan Pak Catur yang menjadi sopir kami, aku tidak pernah menyangka jika aku bakal memiliki anak sebanyak lima anak, sengaja aku dan Pak Catur hanya mengajak anak-anak tanpa melibatkan pekerja di rumahku, dan hari ini aku bebaskan mereka untuk menikmati harinya dengan santai, di samping itu aku juga pingin ada quality time dengan keluargaku, walau hanya sebulan sekali, apalagi semenjak empat bulan lalu pbabtuku dan suster-susterku sudah sangat sibuk mengurus keluargaku.
Lima belas menit telah berlalu kami semua sudah sampai di halaman rumah orang tuaku, Nafisa dan anaknya sudah berada di teras untuk menyambut kedatangan kami, sedang orang tuaku entah kemana belum terlihat.
"Assalamu'alaikum!" seru Afriana dan ketiga adiknya mereka sangat antusias saat turun lebih dulu dari mobil.
"Wa'alaikum salam, ya Allah kak Afri sudah besar bulek kangen!" seru Nafisa tak kalah antusias dan langsung memeluknya.
"Aku juga kangen bulek," sahut Afriana.
__ADS_1
"Ayo masuk mbah di dapur lagi masak sama bupuh Yah," ucap Nafisa senang.
"Assalamu'alaikum," kini aku dan Pak Catur memberi Salam sedang anak-abak sudah berhamburan entah kemana.
"Wa'alaikum salam, mbak, mas, dik alifa cantik, masuk-masuk tuh mbah lagi masak urap kesukaanmu lo dik Alifa," celoteh Nafisa gemas melihat Nafisa.
"Memang ibuk masak apa Naf,?" tanya pak Catur pada Nafisa.
"Masak oseng daun pepaya sama ikan teri, kesukaan mbak dulu waktu hamil Alifa, aku masih ingat dulu hampir setiap hari mintanya masak daun pepaya, sampai-sampai pohon pepaya gak sempat berbuah daunnya kamu habiskan Fa, Fa, misal pohonnya bisa berbicara dia pasti sudah mengeluh galau tingkat dewa." celoteh Nafisa.
"La kamu aja yang gak dengar Naf, pohonnya saja sudah nangis darah tu," ucap mbak Yah yang baru saja muncul dato dapur.
"Keponakan bupuh ayuk sini bupuh gendong." Mbak Yah segera mengambil Alifa dari gendonganku.
"Sudah mateng mbak, Zahra mana?" tanyaku.
"Zahra ada latihan, jadi gak ikut," jawab mbak Yah yang sudah menggendong Alifa "Sana cepetan ajak suamimu makan mumpung masih anget-anget, enak." perintah mbak Yah padaku.
Aku menemui ibuku yang masih di dapur, ibuku masih sibuk mencuci bekas masakannya tadi sedang suamiku entah sudah berada di mana aku tidak tahu lagi. Setelah bersalaman dan dengan ibuk dan bapak yang baru pulang dari pekarangan aku lanjut mencari suamiku. Biasanya suamiku akan menuju pekarangan belakang rumah jika berkunjung di rumah orang tuaku.
__ADS_1
"Mas, ayo sarapan!" seruku begitu melihat pak Catur yang sedang duduk di kayu yang ada di pekarangan.
"Sejuk sekali berada di sini," ucap Pak Catur.
"Dari dulu," sahutku ikut duduk di sebelah suamiku "Ayo mas sarapan dulu, sudah lapar tadi Aku belum sarapan." ajakku.
"Ayuk kebiasaan kamu itu sayang kalau mau kerumah ibuk selalu gak mau makan di rumah." ucap Pak Catur yang sudah paham kebiasaanku.
"Alah mas juga begitu, sama saja," balasku, memang dari dulu setiap kalu mau datang ke rumah orang tuaku kami selalu tidak mau makan di rumah.
Aku dan suamiku kembali kerumah orang tuaku di sana sudah berkumpul semua keluargaku ada mbak Yah, bapak, ibuk, mas Jamal, Fauzan, Nafisa beserta para anak-anak yang sudah heboh dengan sendirinya. Kami semua menikmati hidangan dengan perasaan bahagia, orang tuaku selalu menyediakan hidangan sederhana dari dulu sampai sekarang tidak ada yang berubah.
"Af sudah hafal berapa juz?" tanya bapak pada Afriana.
"Baru dua puluh juz, mbah," jawab Afriana sopan.
"Alhamdulillah, kalau hafalan jangan cepat-cepat yang terpenting benar dan tidak sampai hilang hafalannya," pesan bapakku pada Afriana.
"Iya, mbah," jawab Afriana sopan.
__ADS_1