TALAK

TALAK
Part 269 TALAK.


__ADS_3

Alifa dah Abidah sudah mulai bergerak menandakan ingin bangun, namun di sat belum benar-benar terbangun Afwa dan Afwi malah menerobos masuk ke kamarnya.


"Ayah, bunda!" seru Afwa dan Afwi menghampiriku yang masih berbaring bersama pak Catur Alifa dan Abidah.


"Jagoan ayah, kok sudah wangi sih, tadi mani sama siapa?" tanya pak Catur pada si kembar.


"Belsama kak Afli," sahut mereka bedua yabg sudah ikut berbaring dengan kami.


"Adik!" panggil Afriana dari luar sedang mencari si kembar.


"Adik di sini semua Af, masuk o!" sahut pak Catur dan menyuruh Afriana masuk.


"Ternyata kalian di sini, kakak cari-cari, sini jadi ikut kakak gak?," Afriana hanya berada di ambang pintu.


"Ikut," jawab keduanya langsung lari menuju ke arah Afriana.


"Kalian mau ke mana?" tanyaku.


"Cuma mau mainan di taman kok buk." jawab Afriana.


"Kalian jangan main terlalu jauh cukup di lokasi villa saja," pesan pak Catur pada Afriana.


"Beres Yah, ada bulek Naf bersama kami kok," jawab Afriana langsung melangkah pergi meninggalkan kamar kami.


"Ternyata ayah sudah tua," ucap Pak Catur.

__ADS_1


"Baru sadar," tambah ku.


"Ya baru sadar jika ayah sudah memiliki anak gadis yang sudah bisa diandalkan untuk menjaga adik-adiknya, Afriana yang dulu ku kira anaknya Fauzan, dia malah jadi anakku sendiri." ucap Pak Catur.


"Ayah masih ingat?" tanyaku, ya aku tahu pertemuan pertama Afriana dan Pak Catur waktu mereka sama-sama bermain di alon-alon kota Madiun.


"Tentu ingat, dan aku masih ingat waktu Afriana kecil yang berada dalam gendongan bunda," ucap Pak Catur lagi.


"Tapi Dinda sama sekali tidak mengenal mas, tahu wajahnya saja tidak," ucapku.


"Takdir, mas juga tidak menyangka jika takdir menyatukan kita dalam satu keluarga, dan untuk bisa bersama dinda juga bukan perkara yang sulit dan juga mudah, yang penting sekarang kita sudah menjadi satu keluarga." ucap Pak Catur masih memelukku.


"Bun!" suara Abidah yang sudah membuka matanya.


"Sini bersama ayah sayang," Pak Catur sudah meraih tubuh mungil Abidah berada dalam pelukannya.


Kini bukan hanya Abidah saja yang bangun namun Alifa juga sudah ikut bangun.


"Ayo mandi sama ayah ya sayang." ucap Pak Catur pada Abidah.


"Jangan sekarang mas mandinya, baru bangun tunggu setengah jam lagi biar tidak kaget anaknya" Aku memperingatkan pak Catur agar menunggu sebentar.


"Baik sayang, aku ajak Abidah bermain dulu," sahut pak Catur.


"Lebih baik ayah sholat ashar dulu, soalnya nanti jika sudah ngurus anak-anak takut kesorean." nasehatku pada pak Catur.

__ADS_1


"Baiklah, sampai gak tahu kalau sudah selesai adzan ashar." sahut pak Catur.


"Kitakan tadi tertidur, tumben mareka tidurnya juga nyenyak sekali sampai hampir dua jam." jelasku.


"Abidah, sini sama bunda dan adik biar ayah mandi dulu, nanti setelah ayah sekesai sholat ayah bantu Abidah mandi, ok, anak ayah," ucap Pak Catur melepas pelukan Abidah.


"Sini sayang, bersama Bunda dulu biar aye mandi." ucapku.


Pak Catur sudah melangkah menuju kamar mandi sedangkan aku dan kedua anakku masih bersantai di atas kasur, sambil menunggu pak Catur selesai menggunakan kamar mandi. Aku bercengkerama dengan kedua putri kecilku si kembar dan Afriana entah sedang apa mereka, karena sejak Afriana di rumah si kembar memilih bersama dengan Afriana, begitu pula Afriana ingin selalu dengan adik-adiknya.


Tidak begitu lama pak Catur sudah selesai mandinya dan dia langsung melaksanakan sholat ashar dulu, karena anak-anak tidak ada yang jags maka kami berdua sholat dengan cara bergantian.


"Sekarang ganti Dinda mandi dan sholat dulu biar ayah jaga anak-anak." ucap Pak Catur yang sudah sekesai mandi dan sholatnya.


Aku segera ke kamar mandi untuk mandi, sama halnya dengan pak Catur aku mandi menggunakan ilmu mandi bebek, mandi dengan sangat cepat, karena masih harus memandikan kedua anakku.


Selesai mandi dan sholat kini aku dan Pak Catur memandikan Abidah dab Alifa secara bersama di kamar mandi, pak Catur memandikan Abidah, aku yang memandikan Alifa.


Sejak aku melahirkan si kembar pak Catur sering membantuku untuk memandikan anak-anak, merawat anak-anak, jadi bukan perkara yang sulit bagi pak Catur untuk urusan anak-anak. Pak Catur sesibuk apapun dia selalu meluangkan waktunya untuk keluarganya terutama untuk anak-anaknya.


Kini kedua putriku sudah pada cantik, aku bersama dengan Pak catur mencari Afriana dan yang lain, kami melihat Afriana sedang bermain di taman belakang yang berada di dalam ruangan, ruangan khusus yang di lengkapi dengan area bermain anak-anak.


Kami semua ikut bergabung dengan Afriana si kembar dan juga Nafisa serta anaknya. Kami bermain sangat seru pak Catur sengaja melengkapi villanya dengan area bermain anak dalam dan luar ruangan tujuan pak Catur jika sedang berlibur di sini anak-anak benar-benar bisa ikut merasakan kenyamanan, selain itu supaya lebih praktis untuk menghabiskan waktu bersama dengan keluarga dan kerabat tanpa mengeluarkan banyak biasa dan bisa menggunakan kapan saja tanpa ribet pesan tempat.


Setelah bermain kurang lebih satu jam kami semua menghentikan acara bermain kami, kami segera mengambil air wudhu sebelum adzan magrip berkumandang. Kali ini aku tidak bisa ikut sholat berjamaah karena aku harus menjaga Alifa, untuk Abidah walau masih belum sempurna dengan gerakan sholat dia selalu tidak mau ketinggalan untuk ikut sholat berjamaah.

__ADS_1


__ADS_2