TALAK

TALAK
Part 153 TALAK.


__ADS_3

Pak Catur semakin hari semakin susah di tebak, semenjak acara lamaran kemarin sedikit demi sedikit pak Catur menunjukan kemesraannya, ya memang jika di depan para karyawan lainnya sikapnya masih biasa saja, namun jika tidak ada karyawannya bikin bulu kuduk merinding, padahal kami berdua tidak bersentuhan, hanya jalan beriringan atau sekedar duduk berhadapan, ya seperti sekarang kami berdua memilih bangku untuk duduk saling berhadapan. Sejuknya udara dan indahnya pemandangan di grojokan sewu tawangmangu memang sangat cocok untuk bersantai dengan orang tersayang. Selama duduk kami berdua bercanda maupun melihat para pengunjung yang lewat hilir mudik bersama orang tersayang, ada yang bersama dengan kekasihnya, ada yang bersama dengan keluarga kecilnya, ada yang sekedar bersama dengan teman-temannya. Selama duduk pak Catur tak henti-hentinya terus memandang wajahku, aku sampai benar-benar tidak nyaman.


"Lebih lengkap jika Afriana bersama dengan kita." celetuk pak Catur sambil terus memandangku.


"Ya, tapi sayangnya Afriana sedang sekolah," ucapku " Kangmas apa kangmas tidak malu jalan dengan saya sudah janda anak juga sudah besar, apalagi suatu saat, kangmas pasti jalan tidak hanya dengan Dinda sudah pasti dengan Afriana, juga, kadang Dinda berpikir saat kita menikah sedang kangmas dan keluarga kangmas keluarga yang terpandang apa tidak akan menimbulkan gossip yang memekak telinga, padahal kangmas bisakan mendapatkan wanita muda dan singgel, lebih dari Dinda?" tanyaku penuh selidik.


"Aku malu jika tidak bisa jalan bersama dengan Dinda dan Afriana, berarti aku tidak layak untuk kalian, jujur saja aku bisa mendapatkan wanita yang lebih cantik dan lebih pintar dari Dinda, sayangnya hatiku sudah terjerat dengan bidadari yang bernama Afifah Nurlaili serta Afriana Sholehah," ucap Pak Catur dengan tetap memandangku penuh arti" Kangmas suka gossip seperti itu berarti kangmas memang pantas untuk di gossipkan." kelakar pak Catur diakhir kalimat.


"Kangmas ini, Dinda serius kangmas!" seruku sedikit sewot.

__ADS_1


"Kangmas juga serius sayang, sudah jangan sewot gitu, kalau dinda sewot dan semakin bikin kangmas gemas, pernikahannya akan kangmas percepat seminggu lebih cepat bagaimana, mau?"ucap Pak Catur menggoda.


"Mau-nya situ, cepat terus." ujarku.


"Semakin cepat semakin baik, kangmas tidak lagi di rumah sendirian setiap hari, bayangin saja, bangun pagi sudah ada istri dan anak di dalam rumah, pulang kerja disambut oleh anak-anak, pagi ngantar anak ke sekolah, waktu libur tinggal bermain dengan keluarga di dalam rumah atau kita wisata bareng keluarga dan rumahku bakal rame dengan suara anak, lengkaplah kebahagiaanku, dan pinginnya di rumah terus." ucap Pak Catur dengan tatapan terus kearahku.


"Semoga semua bisa terwujud, aamiin yarobbal'alamin." ucapku.


"Baiklah, kita pulang." sahutku.

__ADS_1


Aku dan Pak Catur segera beranjak dari tempat duduk kami tadi, dengan santai kami berjalan menuju mushola untuk melaksanakan sholat asyar dulu sebelum meninggalkan grojokan sewu tawangmangu. Selesai sholat asyar pak Catur segera mengemudikan mobilnya menuju kota Madiun. Entahlah bagiku seperti sebuah mimpi, aku bisa berada di posisi puncak seperti sekarang, bekerja dengan posisi yang bagus gaji yang bagus, mendapat calon suami kaya lahir batin. Setelah Allah mengujiku dengan dihadapkan perangai seperti mas Ringgo kini aku di uji oleh Allah dengan sebuah kenikmatan, ya sebuah kemewahan dunia yang tidak pernah aku bayangkan serta seorang lelaki yang sholeh. Aku masih ingat pesan bapak cobaanmu sekarang adalah kenikmatan, jangan takabur tetaplah seperti padi.


"Dinda kenapa melamu?" Pak Catur tiba-tiba membuyarkan lamunanku.


"Enggak, melamun cuma Dinda kadang bayangin saat para staf menerima undangan dan tahu tentang pernikahan kita." ucapku dengen senyum mengembang.


"Pas saat itu Dinda sudah tidak perlu ke kantor, karena dua minggu sebelum menikah Dinda harus sudah libur, satu minggu sebelum pernikahan undangan baru akan di bagikan keseluruh staf kantor dan karyawan pabrik, biar kangmas saja yang mendengarnya, lihat saja nanti." ucap Pak Catur menatap ke arahku.


"Bayanginnya, malu sendiri mas, tak tahulah bagaimana nanti." sergahku.

__ADS_1


"Tak perlu bayangin atau mikir yang aneh-aneh cukup, pandang wajah kangmas, bereskan." goda pak Catur senang sambil terus nyerir mobil.


Aku tidak menjawab, aku hanya melihat ke arah pak Catur dengan senyum gemas, ingin aku timpuk orangnya tapi orangnya lagi nyerir mobil, jadi aku diam saja lagian juga belum halal sebisa mungkin untuk tidak bersentuhan.


__ADS_2