TALAK

TALAK
Part 113 TALAK


__ADS_3

Afriana yang sudah sangat capek dan ngantuk begitu selesai sholat isya' langsung masuk kamar ibukku dan tidur dengan cepatnya, karena orang tuaku dan adikku masih di mushola akupun menemani Afriana baring di kasur milik orang tuaku dan tak terasa akupun ikut terlelap.


"Fah, Fah, bangun kamu mau tidur di mana." ibukku membangunkanku sambil menggoyang goyangkan tubuhku.


"Ehmmm... Jam berapa buk." sahutku yang masih setengah sadar.


"Jam setengah sembilan." sahut ibuku yang ternyata baru pulang dari mushola.


Aku duduk di kasur untuk mengumpulkan nyawa yang belum genap dan bersandar pada tembok.


"Kalau kamu capek tidur saja di sini biar bapakmu yang jaga rumahmu." ucap ibukku lagi sambil menyimpan mukenanya.

__ADS_1


"Ibuk baru pulang?" tanyaku dengan nyawa yang benar-benar belum genap dengan sempurna.


"Iya, tadi masih ngobrol sama ibu-ibu bahas yasinan." jawan ibukku yang ikut duduk di kasur.


"Jatah yasinan di rumahku mau tak minta minggu depan saja buk soalnya setelah selesai sidang cerai minggu depan aku mau mulai renovasi rumah, biar kelihatan rapi." ucapku masih lesu.


"Gak sekalian habis renovasi saja, Fah? Bukannya apa, kalau sudah renovasikan bersih dan rapi, renovasi paling sebulan selesai, lagian kalau kamu minta minggu depan terlalu mepet," usul ibukku " Aku tuh kadang heran sama kamu, Fah, kerja sebagai sekretaris ngatur waktu kok yo masih selenco to, Fah, Fah." gurau ibukku.


"Ya wes, tiduro, biar bapakmu tidur di rumahmu." sahut ibukku, entah apa yang di lakukan aku juga sudah tidak tahu.


Dinginnya malam merambat dengan tenangnya, suara jankrik sangat mendominasi dalam heningnya malam di bawah sinar rembulan, serta suara nyamuk yang sedang kelaparan sedang bercengkerama sambil berkelana untuk mencari mangsa.

__ADS_1


Seperti pesanku pada ibukku, jam dua pagi ibukku membangunkanku untuk ikut sholat tahajud berjamaah bersama bapak dan adikku, kedua orang tuaku selalu sholat tahajud di jam dua malam karena jam tiga harus pergi ke pasar untuk berjalan. Kami berlima melaksanakan sholat tahajud berjamaah di mushola kecil yang ada di rumah orang tuaku, dan selalunya bapak yang menjadi imam. Sejak usia dua belas tahun bapak selalu mengajarkan pada anak-anaknya untuk rutin sholat malam walau hanya dua rakaat saja, dan bapak selalu yang menjadi imamnya.


Suasana seperti ini yang selalu aku impikan dalam membina rumah tangga, namun Allah berkehendak lain, selama berumah tangga bersama dengan mas Ringgo, belum pernah sekalipun mas Ringgo mau menjadi imam sholatku dan Afriana. Nasehat demi nasehat aku berikan pada mas Ringgo bahkan setiap lantunan doa-doaku selalu aku sebut nama mas Ringgo agar mas Ringgo bisa menjadi imam keluarga yang baik untuk aku dan anak-anakku.


Takdir, ya semua kembali pada takdir yang Allah gariskan pada jalan hidupku, mungkin ini salah satu takdirku, aku di TALAK oleh mas Ringgo di usia pernikahanku yang berjalan sudah sepuluh tahun , walau perceraian bukan yang aku impikan namun semua harus tetap aku jalani, mungkin ini yang terbaik untukku.


Karena kesibukanku aku sampai belum sempat menulis jawaban dari surat tuntutan mas Ringgo, sore ini sepulang dari kantor aku putuskan untuk membaca ulang dan menulis jawaban kareba lusa sidang perceraianku yang selanjutnya. Semua bukti sudah aku dapatkan dan saksi juga sudah, tinggal menulis surat dan memfoto kopinya seperti permintaan Hakim, semua harus di foto copy sebanyak tiga lembar. Saru lembar untuk dokumen pengadilan, satu lembar untuk di berikan pada mas Ringgo dan satu lembar untuk aku pegang sendiri.


Aku baca ulang surat tuntutan dari mas Ringgo sebelum aku menulis jawabannya, bahkan bukan sekali atau dua kali aku membacanya, hatiku benar-benar bergemuruh, campur aduk, antara marah, benci dan kecewa dengan semua tuntutan yang mas Ringgo tujukan padaku.


Dengan perasaan yang campur aduk aku tulis juga surat jawaban, bahkan akupun dengan tega menuntut balik, terutama dengan harta gono gini yang mas Ringgo tuntutkan padaku, bahkan dengan jelas aku tulis semua penghasilanku di awal pernikahan sampai di akhir pernikahan. Orang mengatakan aku kejam atau aku jahat aku sudah tidak peduli, yang terpenting sekarang aku harus tetap mempertahankan hak-hakku termasuk harta gono gini maupun hak asuh Afriana, aku benar-benar tidak rela jika hak asuh Afriana jatuh di tangan mas Ringgo.

__ADS_1


__ADS_2