TALAK

TALAK
Part 250 TALAK


__ADS_3

Memiliki keluarga yang bahagia pasti impian semua orang, kini enam tahun sudah pernikahanku dengan Pak Catur, kami berdua diKaruniai empat orang Putra Putri, dua si kembar Afwa dan Afwi yang kini berusia lima tahun, lalu hadir seorang anak perempuan bernama Abidah yang kini berusia tiga tahun dan yang baru lahir juga anak perempuan bernama Alifa, perjalanan rumah tanggaku dengan Pak Catur berjalan harmonis kalaupun ada perselisihan ya masih tahap wajar, kami saling melengkapi satu sama lainnya. Kini si kembar sudah bersekolah di taman kanak-kanak, terkenal di kota Madiun, sedang Abidah masih berada di rumah bersamaku, si kecil Alifa kini baru berusia tiga bulan.


Perkembangan pabrik rokok Cakra juga sangat pesat, kesibukanku dalam beberapa tahun terakir di samping mengurus keluarga aku mengelola panti asuhan yatim piatu untuk anak yatim piatu dan anak jalanan, panti asuhan tersebut baru berdiri sekitar tiga tahun lalu, selain panti asuhan aku juga mengelola rumah singgah untuk para lansia yang terlantar, untuk biaya operasioanal panti selain dari perusahaan Cakra, ada beberapa kolegan keluarga Cakra yang dengan ikhlas menjadi donatur tetap panti yang aku kelola dengan di bantu oleh mama Cakra, aku berguru dari mama Cakra karena kemampuan mama Cakra dalam mengelola panti asuhan sudah tidak diragukan lagi, pasalnya mama Cakra sudah sejak muda berkecimpung dengan dunia bakti sosial.


Anakku Afriana sudah empat tahun ini berada di pesantren untuk menuntut ilmu agama dan menghafal Al-Quran. Hari ini ada kabar gembira untuk putriku Afriana, mas Ringgo setelah sekian tahun menjalani perawatan di rumah sakit jiwa hari ini dokter mengabarkan jika mas Ringgo sudah sehat dan boleh segera pulang. Dengan berjalannya waktu akhirnya Afriana tahu akan kondisi bapaknya yang mengalami gangguan kejiwaan pada awalnya Afriana sangat terpukul.


"Besok waktunya kita jenguk Afriana, sebaiknya besok kita sampaikan tentang kabar kesembuhan bapaknya." usul pak Catur


"Bunda setuju saja," sahutku sambil menyusui Alifa.


" Besok kita berangkat pagi saja, biar tidak panas, bekal untuk Afriana sudah bunda siapkan?" tanya pak Catur, dalam satu bulan sekali kami selalu rajin mengunjungi Afriana yang sedang menimba ilmu di pesantren.


"Alhamdulillah sudah, tadi sudah bunda belanjaan, dan juga sudah ditata di dalam kardus." jawabku.


"Jangan sampai ada yang kurang dan tertinggal." pesan pak Catur.


"Inshaallah, semua sudah beres," jawabku


"Alhamdulillah, Ayah mau istirahat dulu agar besok tidak terlalu capek." pak Catur tanpa menunggu jawabanku dua langsung merebahkan diri di atas kasur kami.

__ADS_1


Tidak butuh waktu lama pak Catur sudah berada di alam mimpinya, aku masih sibuk dengan di kecil Alifa, Alifa anak yang paling mudah dalam perawatannya dia jarang rewel, dia lebih banyak tidur di malam hari dan aktif di siang hari jadi begitu jam sudah menunjukan pukul sembilan malam Alifa sudah damai dengan selimut dan kasur kecilnya.


*****************


Jam enam pagi kami sudah berangkat menuju ke pesantren, di dalam rombongan ada aku, anakku Alifa suamiku dan sopir, Abidah aku tinggal di rumah aku juga tidak mengajak susternya Alifa. Dua jam perjalanan akhirnya kami sampai di pesantren tempat Afriana menimba ilmu, sesuai jadwal kami boleh bertemu mulai jam delapan pagi, kami berempat sudah menunggu di ruang jenguk santri dan keluarga, tidak begitu lama aku sudah dapat melihat Afriana dengan wajah yang berbinar-binar menuju ke arah kami, gadis dengan pakaian lengkap seragam pondoknya datang.


"Assalamu'alaikum bunda, assalamu'alaikum Ayah," sapa Afriana lalu mencium tanganku dengan ta'dzim kami saling berpelukan, tangan satu menggendong Adiba yang satu memeluk Afriana.


"Wa'alaikum salam, anak Ibuk, Ibuk kangen." ucapku haru semenjak aku hamil delapan bulan baru sekarang aku bisa menjenguk Afriana di pesantren.


"Afri juga kangen buk, adik yang manis kangen kakak gak." kini Afriana sudah beralih pada Putri kecilku Alifa" Bida gak di ajak to buk, aku kan juga kangen, Afwa da Afwi juga." rajuk Afriana.


"Anak ayah sudah besar," ucap pak Catur sambil membelsi lembut kepals Afriana.


"Adik-adik kok gak di ajak sih Yah, Afri kan kangen." keluh Afriana.


"Lain kali lagian baru kali ini to ayah tidak ajak Afwa, Afwi dan Abidah, tapi ayah tetep bawa adik buat Afriana kan," ucap Pak Catur lembut.


"Buk tak gendong ya adiknya!" pinta Afriana.

__ADS_1


Aku kasihkan Alifa pada Afriana dia begitu sayang dengan Alifa, Afriana anak yang baik dia begitu sayang dengan semua adik-adiknya, tidak berapa lama Rahma juga sudah menghampiri kami dengan wajah berbinar. Rahma dan Afriana memang berada di satu pesantren jadi antara aku dan mbak Priska selalu datang bergantian untuk mengunjungi mereka berdua.


"Assalamu'alaikum tante, assalamu'alaikum Paman." sapa Rahma girang.


"Wa'alaikum salam." sahutku dan Pak Catur bersamaan, setelah proses Salam, salaman kami bercengkerama bersama melepas kangen.


"Tante pinjam di Alifa ya." pinta Rahma penuh harap.


"Kamu bisa gendong gak?" godaku.


"Tante jangan ngejek dong, biar Begini aku juga bisa gendong adik lo." pamer Rahma senang.


"Af, ganti dong." pinta Rahma.


"Sebentar mbak." sahut Afriana.


"Please." kini Rahma sudah memasang wajah melasnya.


Aku dan Pak Catur senyum-senyum sendiri melihat tingkah kedua bocah yang lagi rebutan adik.

__ADS_1


__ADS_2