TALAK

TALAK
Part 155 TALAK


__ADS_3

Jam empat sore jam kantor usai, aku mulai berkemas-kemas, sesuai pesan mbak Priska aku harus mampir ke rumahnya, ketika semua mejaku sudah rapi tanpa ada janji pak Catur sudah berdiri di dekatku.


"Kita kerumah mbak Priska bareng." ajak pak Catur.


"Tapi pak?" tanyaku.


"Tidak ada kata tapi, motormu biar di sini, mana kuncinya?" perintah pak Catur tegas seperti biasa antara pimpinan dan atasan.


"Baiklah." akupun menurut aku serahkan kunci motorku pada pak Catur.


Aku dan Pak Catur berjalan menuju ke ruangan mbak Priska, saat ingin masuk ke ruangan mbak Priska aku berpapasan dengan mbak Rani, teman satu devisi dulu di devisi packing.


"Mbak Ran ya Allah!" seru ku tanpa menghiraukan pak Catur yang ada di belakangku, untung pal Catur langsung masuk ruangan mbak Priska tanpa memperdulikanku dengan mbak Rani.


"Mbak, Fah, alhamdulillah, seneng banget!" mbak Rani tak kalah bahagia, dan saling berpelukan pasalnya selama beberapa bulan ini aku sangat sibuk sampai tidak ada waktu untuk bertemu dengan mbak Rani.


"Bagaimana kabarnya mbak, maaf jarang ketemu." cicitku dengan wajah menelas.


"Aku tahu, jangan khawatir, aku ikut senang pabrik kita semakin maju dan bonusku semakin banyak, kamu sudah pasti sibuk sebagai sekretaris pak Catur, aku tahu karena bu Priska juga sudah bercerita padaku jika pekerjaanmu sangatlah banyak bahkan sering lembur, aku sudah maklum kok." ucap mbak Rani bahagia.

__ADS_1


"Mbak Pris... Oh bu Priska cerita begitu! " hampir saja aku keceplosan memanggil mbak Priska di depan mbak Rani.


"Mbak Pris siapa Fah?" tanya mbak Rani.


"Salah ngomong mbak maksud aku Bu Priska, sabtu ini ada waktu gak mbak, aku mau ke rumahmu sudah kangen sama Nina juga." ucapku.


"Ada, yuk kita rujakkan sudah lama gak makan bareng, bosmu nanti marah, jam segini masih mau metting, sukses ya Fah." ucap mbak Rani.


"Terima kasih, mbak, paling nanti habis magrib juga sudah pulang cuma ada sedikit masalah." sahutku beralasan karena sampai saat ini aku tidak menceritakan tentang hubunganku dengan Pak Catur pada siapapun, karena yang tahu hanya sebatas keluarga.


"Ya, sudah cepet masuk, waduh tadi Aku lupa gak menyapa bos, kira-kira dapat masalah gak ya, mateng aku Fah, Fah gara-gara kamu sih!" ucap mbak Rani langsung berubah cemas ketika baru sadar tadi tidak menyapa pak Catur.


"Tolong sampaikan maafku padanya ya Fah, habisnya jarang bertemu dengan bos, jadinya ya nggak ngeh." cerocos mbak Rani.


"Beres." jawabku singkat.


"Aku pulang dulu." pamit mbak Rani.


"Assalamu'alaikum, hati-hati mbak Ran."

__ADS_1


"Wa'alaikum salam."


Kami berdua berpisah mbak Rani meninggalkanku, aku segera masuk kedalam ruangan mbak Priska. Di sana pak Catur dan mbak Priska sedang berbincang santai.


"Maaf, tadi ketemu teman." aku segera meminta maaf.


"Ya, aku tahu tadi Rani baeu dari sini." ucap mbak Priska.


"Aku gak dikenalkan." seloroh pak Catur.


Aku hanya tersenyum, bagaimana aku mau mengenalkan wong sudah kenal, dan lagi apa pingin terjadi guncangan pabrik dadakan.


"Kamu itu Ton, dua minggu lagi meting dengan seluruh pimpinan devisi, sekalian menyerahkan undangan kalian." ucap mbak Priska.


"Aku, kan takut dindaku hilang." ucap Pak Catur santai.


"Astaqfirullah hal'adzim!" seruku dan bu Priska bersamaan.


Akirnya kami bertiga meninggalkan ruangan mbak Priska bersamaan, aku dan mbak Priska berjalan bareng menuju mobil mbak Priska, sedang pak Catur mengendarai mobilnya sendiri, sengaja aku tidak mau bareng dengan Pak Catur karena aku tidak ingin ada kehebohan sebelum waktunya tiba. Mungkin jika jam kerja aku masih bisa satu mobil dengan Pak Catur karena jika meting di luar kantor sudah pasti kami berangkat bareng, dan mereka menganggap kami sebagai rekan kerja saja.

__ADS_1


Karena jarak rumah mbak Priska dengan pabrik tidak jauh maka kami hanya memakan waktu lima belas menit saja.


__ADS_2