
Satu piring pisang rebus sudah berada di hadapanku, namun sungguh aneh pisangnya berbeda sekali.
"Yah, pisang rebusnya kok kayak gini?" tanyaku " Ini pisang ijo ya yang Ayah rebus." tebakku.
Suamiku bingung, menjawab "Ya nggak tahu Bund, pokok ada pisang aku rebus." jawab pak Catur jujur.
"Mbak Qib !" seruku memanggil mbak Qibtiyah.
"Ya buk." Mbak Qibtiyah keluar dari dapur.
"Yang direbus bapak ini tadi pisang ijo ya?" tanyaku sedikit kesal.
"Iya buk, soalnya pisang kepoknya sudah digoreng semua sama bapak, tadi ibuk kan bilang supaya digoreng semua jadi ya sudah digoreng semua." jelas mbak Qibtiyah jujur.
"Aku mau pisang kepok yang di rebus, gak mau pisang ini gak enak." celetuk ku sedikit jengkel.
"Gawat, Ton anakmu yang ini lebih rumit kayanya." gurau mbak Priska.
"Iya mbak, dulu si kembar, apa saja di makan, malah aku yang ngidam, Kalaupun ngidam gak aneh-aneh." jelas pak Catur apa adanya.
"Yah, aku mau pisang kepok rebus, tapi aku gak mau kalau ayah beli mateng." rengekku.
"Mbak Pris di mana ada orang jual pisang sore-sore begini ?" tanya suamiku pada mbak Priska.
"Aku juga gak tahu Ton, tolong suruh pak satpam biasanya mereka tahu." usul mbak Priska
"Aku gak mau dibelikan oleh pak satpam." Aku langsung protest mendengar usulan mbak Priska.
"Allah hu Akbar, ya bunda ayah akan belikan." suamiku mengalah padahal sepulang dari kerja dia belum istirahat sama sekali.
"Yah, Yah gak usah, gak jadi, jangan beli minta ke mas Jamal saja." ucapku tiba-tiba.
__ADS_1
"Dari mana bunda tahu mas Jamal punya pisang kepok?" tanya suamiku padaku.
"Tadi mbak Yah yang bilang." ucapku santai sambil makan rebus yang ada di hadapanku.
"Ya, kalau gitu sekarang aku telpon mas Jamal dulu, semoga pisangnya masih ada." jawab pak Catur.
[Assalamu'alaikum mas] pak caturv
..................................
[Pisang kepoknya masih, istriku ngidam minta Pisang kepok dari sampean] pak Catur.
....................
[Aku ke sana sekarang, sebelum mereka berdua ngambek] pak Catur.
..................
"Bagaimana mana Yah?" tanyaku ketika suamiku menutup panggilan teleponnya dengan mas Jamal.
"Alhamdulillah, masih ada belum di ambil oleh pembeli." jelas pak Catur dengan wajah sumringah "Sudah anak manis jangan cemberut ya, ayah akan turuti kemauan anak ayah ini." ucap suamiku lembut sambil membelai perutku yang masih datar berbalut gamis.
"Kayanya anakmu nanti perempuan Ton, lihat wajah istrimu tambah cantik saja." celetuk mbak Priska.
"Semoga saja mbak biar tambah lengkap, " jawab pak Catur "Ya Susan aku pergi dulu." Pamit pak Catur.
"Aku ikut!" seru Afriana.
"Aku juga ikut Om." seru Rahma tak mau ketinggalan.
"Ayo." ajak pak Catur.
__ADS_1
Mereka bertiga berangkat ke rumah mas Jamal setelah berpamitan, jam lima sore, ya jam lima sore mereka bertiga berangkat menuju rumahnya mas Jamal hanya untuk mengambil pisang yang aku inginka. Setelah kepergian mereka mbak Priska menemaniki untuk merawat Putra kembarku dengan di batu mbak Inayah, ya sore ini jadwalnya mbak Inayah yang masuk kerja. Adzan magrib berkumandang pak Catur berkirim pesan padaku dan mengatakan jika mereka bertiga baru saja sampai di rumah mas Jamal. Aku di rumah sholat berjamaah dengan penghuni rumah lainnya kali ini mbak Priska yang menjadi Imam karena suamiku sedang tidak ada di rumah. Karena pak Catur dan anak-anak belum pulang maka makan malam menunggu mereka semua datang. Tepat adzan isya' berkumandang mobil pak Catur masuk halaman rumah, aku intip dari dalam pak Catur keluar duluan, lalu membukakan pintu untuk anak-anak supaya anak-anak keluar duluan, aku lihat Afriana menenteng satu kresek hitam entah apa isinya aku tidak tahu, sedangkan Pak Catur dari mobil menurunkan satu tanduk pisang kepok yang sudah mateng, warnanya kuning keemasan sangat menggugah selera. Afriana dan Rahma masuk dengan riang gembira seperti mendapatkan berlian.
"Assalamu'alaikum." seru mereka berdua "Di bawa in ayam panggang sama Puh Yah." kini hanya Afriana yang berseru sambil menyodorkan kresek hitam padaku
"Alhamdulillah." sahutku.
"Aku mau makan sama ayam panggang." kini Rahma yang bersuara dengan riangnya.
"Iya, tapi kaliam cuci tangan dulu dengan bersih, baru boleh makan." perintahku pada mereka.
Afriana dan Rahma berlari menuju wastafel untuk mencuci tangan sedang aku menenteng kresek menuju meja makan, aku buka kresek hitam setengah ekor ayam panggang kampung, dengan aroma khas bumbu panggang. Ya aku sangat hafal dengan bentuk ayam kampung atau ayam potong suntikkan.
"Bunda sayang, masih mau makan pisan rebus apa tidak, kalau masih mau ayah rebuskan buat kalian." ucap Pak Catur yang sudah berada di sampingku.
"Mas ngerampok apa kok banyak banget pisangnya." tanyaku sambil menata makanan di atas meja makan.
"Iya ngerampok dari mas Jamal." sahut suamiku enteng.
"Bunda gimana pisangnya?" tanya pak Catur padaku.
"Besok saja mas, sekarang aku mau ngincip ayam panggang kayanya enak banget." ucapku.
"Baiklah, bilang sama ayah jika butuh apa-apa." pinta pak Catur lembut.
"Kayanya sedap sekali ayamnya." celetuk mbak Priska yang sudah duduk di kursi meja makan.
"Sepertinya iya." sahutku.
"Ibuk, Tante, Sudah."suara kedua bocah itu bersamaan sedangkan si kembar kini sedang berada di kamarnya di temani oleh mbak Inayah untuk bermain.
Kami berlima menikmati hidangan makan malam ala kadarnya, setengah ekor ayam panggang dari mbak Yah, dan menu kita hari ini sangat sederhana, sayur asem, botok lemtoro, pinangd dan krupuk. Afriana dan Rahma sangat lahap makan malam dengan lauk ayam panggang, begitu pula aku, aku yang notabennya tidak suka ayam kini juga tergoda serta ikut menikmati ayam panggang tersebut.
__ADS_1