TALAK

TALAK
Part 267 TALAK


__ADS_3

Pertemuan antara Afriana dan Ringgo benar-benar menguras tenaga, otak dan airmata, nemori di waktu kecil memang sangat sulit terhapuskan sekalipun sudah lama di makan waktu. Afriana kini sudah mulai sedikit mencair antara Afriana dan Ringgo sudah mulai bisa mengobrol walau dari ekpresi Afriana masih ada rasa canggung dan takut. Pertemuan yang tadinya tidak melibatkan Catur namun Allah berkehendak lain, mungkin dengan cara seperti ini agar antara Ringgo dan Catur tidak ada rasa dendam, mungkin dengan cara ini Allah menunjukan contoh pada Ringgo tentang sikap dan tanggung jawab sebagai seorang kepala keluarga yang baik.


"Af, nanti bubuk sini ya?" tanya Ringgo pada Afri.


Afriana menggelengkan kepalanya "Kapan-kapan." jawab Afriana singkat.


"Lain kali Afri pasti mau menginap di sini," ucap Catur lembut.


Waktu sudah sore dan dirasa sudah cukup lama sehingga keluarga Afifah pamit, dan Afriana tetap minta ikut pulang.


Flash back off.


Kami yang berkumpul di rumah orang tuaku mendengarkan dengan secara seksama. Aku baru tahu jika pak Catur ikut hadir dalam pertemuan tersebut.


"Alhamdulillah, semoga dengan kejadian ini bisa menjadi pelajaran untuk kita semua, semoga kita selalu dalam lindungan Allah SWT, kenapa bapak menginginkan kesembuhan untuk Ringgo, alasan bapak hanya Afriana, bersyukur Ringgo sudah mulai mau bertaubat dan inshaallah membawa kemaslahatan untuk kita semua." pungkas bapak mengakiri ceritanya.


"Alhamdulillah," Kita semua mengucap syukur.


Selesai mendengar cerita dari bapak kami semua menuju kamar masing-masing karena waktu juga agak malam, anak-anak juga susah mulai mengantuk. Afriana kini sudah kembali ceria dan dia juga sudah berbaur dengan Zahra dan Habibah.

__ADS_1


Aku menidurkan keempat anakku dengan dibantu oleh pak Catur, mungkin karena anak-anak siangnya keasyikan bermain sehingga dia sangat capek, tidak butuh waktu lama anak-anak sudah tidur dengan nyenyak.


"Mas," ucapku.


"Maaf tadi mas tidak memberitahu Dinda kalau mas datang menemui Ringgo, sebab semua di luar rencana," ucap Pak Catur seakan tahu maksudku.


"Bukankah hari ini mas sibuk?" tanyaku.


"Sesibuk apapun aku, keluargaku lebih utama soal pekerjaan bisa aku limpahkan pada yang lain namun untuk anak dan istriku tentu menjadi tanggung jawabku sendiri, dan tidak akan pernah aku limpahkan pada yabg lain." jelas pak Catur padaku.


"Lalu bagaimana mas bisa menjadi penengah antara Afriana dan bapaknya?" tanyaku.


"Hadiah berlian? Maksud mas?" tanyaku, aku tidak paham tentang hadiah yang dimaksud pak Catur.


"Hadiahnya ya Dinda, Afriana dan anak-anak, karena kalian adalah harta yang paling berharga untukku saat ini dan selamanya." terang pak Catur.


"Sebenarnya aku masih takut kalau mas Ringgo menyakiti mas." keluhku, kekawatiran itu tetap ada dalam hatiku.


"Inshaallah Ringgo sudah inshaf, untuk menenangkan diri dan menata hidupnya kembali, dia berencana untuk belajar dan mengabdi disalah satu pesantren milik salah satu keluarga pasien yang sama-sama menjalani penyembuhan di rumah sakit jiwa, letaknya di mana aku kurang faham, oh ya tadi dia juga titip pesan untuk Dinda dia meminta maaf atas apa yang telah ia perbuat dulu pada Dinda." terang pak Catur.

__ADS_1


"Aku sudah memaafkan dari dulu, walau kadang bila ingat aku masih kesal." ungkapku jujur.


"Apa bunda tidak bahagia dengan ayah? Tadi Ringgo juga minta ijin ke ayah, dia ingin bertemu dengan bunda dan meminta maaf secara langsung ke bunda, namun ayah belum menyanggupinya, kalau dia ingin bertemu dengan Afriana aku tidak keberatan namun jika dia ingin bertemu dengan Dinda aku yang belum siap untuk menahan cemburu," ungkap pak Catur.


"Bunda kira ayah tidak cemburu?" godaku.


"Ya dulu aku tidak cemburu karena Ringgo tidak waras sekarang dia sudah waras, bagaimanapun aku laki-laki normal, cemburu pasti ada itu sebabnya ayah membatasi ruang gerak Dinda, namun aku juga beruntung karena dinda sangat paham maksud dan tujuan ayah sehingga tidak repot bagi ayah." jelas pak Catur.


"Cita-cita Dinda dari dulu ingin menjadi seorang ibu rumah tangga yang seutuhnya, mendidik, merawat anak sendiri dan tentunya bisa melayani suami dengan baik." jelasku.


"Ayah bersyukur sekali mempunyai Dinda sekarang ini." ucap syukur pak Catur.


"Jarang sekali kita bisa tidur sekamar dengan anak-anak," celetukku.


"Ya Allah padahal baru empat anak, ayah tidak bisa bayangkan kalau kita mempunyai enam atau lebih tidur sekamar pasti lucu," celetuk pak Catur.


"Nanti mas tidak bisa tidur bareng kita kasurnya gak muat, mas tidur di kasur sebelah" ucapku.


"Tidak apa-apa, cuma dua malam saja biasanya juga mas yang selalu dikeloni dinda, besok mereka juga bakal tidur di tenpatnya masing-maisng" ucap Pak Catur tenang.

__ADS_1


Malam semakin larut aku segera merebahkan diri di atas kasur di tengah-tengah anak-anak yang sudah terlelap dan bercengkerama dengan mimpinya. Pak Catur dua tidur di kasur sebelah namun masih berada dalam satu kamar denganku dan anak-anak.


__ADS_2