
Bisa melihat anak-anak sehat, tumbuh dengan baik, membuat semua orang tua pasti bahagia, seperti keluargaku sekarang ini, kami begitu bahagia dengan keluarga kami. Afriana dan Rahma mereka sangat bahagia bermain bersama dengan Alifa, Alifa yang baru berusia tiga bulan dia selalu tersenyum saat Afriana dan Rahma mengajaknya bermain.
"Af, sebenarnya ada yang akan ayah sampaikan pada Afriana," ucap Pak Catur dengan wajah serius.
"Ada apa Yah, kelihatannya ada yang serius?" tanya Afriana serius.
"Af, dengerin ayah ya," nasehatku.
"Ya buk." sahut Afriana sopan.
"Begini Af, kemarin ayah sudah dikabari oleh pihak rumah sakit jiwa, beberapa hari lagi bapak Ringgo sudah boleh pulang, Afri mau ikut jemput bapak atau tidak, kalau Afri ingin ikut jemput sekalian Ayah minta ijin ke pengurus pesantren," ucap Pak Catur.
"Alhamdulillah," Afriana mengucap syukur aku tahu dari wajahnya dua sangat bahagia, Afriana melihat kearahku ya aku dia minta persetujuanku.
"Af, ayah dan ibuk tidak keberatan jika Afri ingin ikut menjemput bapak, bukankah Afri juga merindukan bapak," nasehatku.
"Ayah dan ibuk apa ikut jemput bapak ?" tanya Afriana.
"Kami tentu tidak ikut, namun jika Afri ingin ikut nanti mbah kung dan pak lek Fauzan yang menemani Afri," nasehatku.
"Ya, Af, nanti pak lek Fauzan dan mbah kung yang menemani, nanti mobilnya ayah siapkan biar diantar oleh pak sopir," Pak Catur meyakinkan Afrians Karena terlihat Afriana ragu.
__ADS_1
"Kenapa ayah dan ibuk tidak ikut? jika ibuk dan ayah tidak ikut Afri tidak ikut, tapi Afri ingin pulang bertemu bapak di rumah saja," pinta Afriana.
"Ibuk dan ayah tidak memaksa, sekarang ayah minta ijin dulu ke pengurus, berapa hari Afri ingin di rumah?" tanya pak Catur lembut seperti biasa.
"Satu minggu ya Yah, aku pingin di rumah bersama adik-adik," pinta Afriana.
"Aku bagaimana?" tanya Rahma yang tidak ingin berpisah dengan Afriana.
"Kamu tetap disini to Rah, masa mau ikut pulang," ucap Pak Catur.
"Aku kan juga pingin maen sama adik salah sendiri mama gak punya adik." keluh Rahma sedikit cemberut.
"Kamu mau minta berapa hari?" tanya pak Catur.
"Iya boleh, tadi mamahmu sudah pesan ke Paman." ucap Pak Catur sebelum pergi ke kantor pr gurus.
"Aku ya minta seminggu to paman, alhamdulillah kalau aku boleh pulang." ucap Rahma sangat girang.
"Baiklah, kalian di sini dulu, jangan siap-siap dulu, tapi jika mereka tidak mengijinkan sampai seminggu kalian jangan kecewa ya." pesan pak Catur lalu bangkit berdiri segera meninggalkskan kami semua menuju ruang pengurus pesantren.
"Baik, Paman, terima kasih Paman," sahut Rahma girang.
__ADS_1
"Iya ayah, terima kasih ayah," ucap Afriana tak kalah girang.
Afriana dan Rahma memang sudah enam bulan belum pulang ambil cuti, selalunya kami yang datang menjenguk setiap bulannya, di samping Rahma dan Afriana ada Asiyah adiknya mbak Qibtiyah yang kami biayai pendidikannya dan kebetulan dia memiliki juga ingin menuntut ilmu di pesantren. Untuk urusan keluargaku aku lebih memercayakan semua kepada suamiku, aku tahu karena pak Catur benar-benar bijak dalam mengambil keputusan, walau Afriana yang notabennya bukan anak kandungnya namun pak Catur tidak pernah membeda-bedakan antara Afriana dengan anak kandungnya.
"Buk, mbak Asiyah gak dipanggil to?" tanya Afriana, karena biasanya jika kami datang pasti memanggil Asiyah juga
"Kata ayah nanti saja, tunggu ayah datang," sahutku sambil memanggku kembali Alifa.
"Oh, tak kirain ibuk dan ayah lupa," jelas Afriana.
"Mbak Asiyah ada kelas lain gak?" tanyaku.
"Ada sih, tadi dia sudah bilang, tapi kelasnya tidak lama kok," ucap Rahma.
Rahma dan Afriana berada di dalam satu kelas dan juga berada di dalam satu kamar, beda dengan Asiyah, Asiyah satu tingkat lebih atas dari Afriana dan Rahma jadi mereka beda kelas dan beda kamar.
"Tadi ayah dan ibuk sengaja tidak memberi tahu mbak Asiyah karena ayah dan ibuk mau mengabarkan tentang kesembuhan bapakmu, Af, ibuk dan bapak tidak ingin banyak orang tahu tentang kehidupan kita, kalau mbak Rahma kan keluarga sendiri jadi tidak apa-apa," jelasku, karena aku juga tidak ingin membeda-bedaksn antaea mereka bertiga, setiap kali kami datang pasti kami membawakan bekal untuk mereka bertiga.
"Adik, Alifah nanti harus jadi anak yang sholehah ya, lihat ayah dan bunda itu orang yang paling baik sedunia," celoteh Afriana sambil membelai lembut kepala Alifa yang berada di dalam pangkuanku.
Mendengar ucapan Afriana aku menjadi sangat terharu, tidak pernah aku terpikirkan jika Afriana bisa memiliki pemikiran sedemikian dewasa.
__ADS_1
"Inshaallah kak Afri," sahutku tanpa aku sadari aku sudah menitikkan airmata, langsung aku belai lembut pucuk kepala Afriana yang berada di dekatku.