
Keluargaku dan keluarganya pak Catur memang memiliki kesamaan dalam hal banyolan, disaat sedang serius selalu ada saja yang mencairkan suasana dengan leluconnya sehingga percakapan tidak monoton selalu ada warna tersendiri.
Ruangan bayi sangat ramai ada yang tertawa ada yang menangis, harum dan segarnya bau sabun bayi, bedak bayi serta minyak telon memenuhi ruangan ini, aku, mbak Priska dan Pak Anam mengamati satu-persatu cara perawat dalam merawat bayi.
Dari wajah mbak Priska dan mas Anam aku dapat menangkap kebahagiaan mereka ketika melihat tingkah lucu para bayi, kini kami bertiga tertuju pada bayi mungil yang baru masuk kemarin lusa.
"Buk, dik Arjunanya sudah ganteng," ucap seorang suster dan menyerahkannya padaku.
"Alhamdulillah, dik Arjuna ya namanya ganteng sekali, gendong sama bunda ya," ocehku sambil menggendong bayi Arjuna.
"Nama yang bagus, aku suka nama itu." ungkap mas Anam sangat kegirangan.
"Aku juga suka Fah, sini biar aku gendong." pinta mbak Priska dengan senyum bahagia.
Aku segera memberikannya pada mbak Priska, mbak Priska dan mas Anam menyambutnya dengan bahagia.
"Mbak, Alifa sudah dimandikan?" tanyaku pada suster pribadiku.
"Sudah buk, lihat dik Alifa sudah cantik sekali." puji suster pribadiku.
"Pinter anak bunda, mbak tolong kemas-kemas sebentar lagi kita pulang." perintahku pada susterku.
"Baik, Buk." jawabnya sopan.
"Assalamu'alaikum, ada bu Priska dan Pak Anam, bagaimana kabarnya?" Mbak Inayah datang menghampiri kami dengan senyum ramahnya.
"Wa'alaikum salam," sahut kami semua.
"Mbak Na, inshaallah Arjuna sudah ada orang yang akan mengadopsinya." jelasku pada mbak Inayah.
"Alhamdulillah, siapa buk?" tanyanya padaku.
"Mbak Priska dan mas Anam sendiri." jawabku.
__ADS_1
"Alhamdulillah, Arjuna beruntung baru masuk sudah ada yang mengadopsi, apalagi yang mengadopsi keluarga Cakra sendiri," ucap mbak Inayah haru.
"Berkah untuk kita semua," ucap mas Anam senang.
"Yang di sini itu beruntung semua lo mbak Na, secara tidak langsung mereka itu masuk keluarga besar Cakra lo." sahut mbak Priska senang.
"Memang benar kata ibuk, semua yang di sini itu akhirannya pasti ada Cakranya." sahut mbak Inayah membenarkan ucapan mbak Priska.
"Kok bisa?" tanya mas Anam penasaran.
"La, iya to pah, masuk kemana didata pasti nama patinya harus dicantumkan." jelas mbak Priska.
"Bener juga, ya." sahut pak Anam baru paham.
"Arjuna ikut pulang sama mama ya," ucap mbak Priska seolah mendapat sebongkah berlian.
"Mbak, mas bagaimana dengan Rahma dan kakaknya, apa mereka setuju jika mbak dan mas ngadopsi anak?" tanyaku.
"Anak-anak pasti senang kalau dengar mbak Priska ngadopsi anak." ujarku." Mbak sudah sore ayo kita pulang, sebentar lagi ayahe anak-anak waktunya pulang." ajakku pada mereka semua.
"Baiklah kita pulang dulu, besok segera aku siapkan untuk kebutuhan Arjuna." ucap mbak Priska girang.
Arjuna bayi laki-laki yang baru dibuang oleh kedua orang tuanya, bayi mungil dengan bobot tiga kilo gram, panjang lima puluh tiga senti meter, dan kulit putih bersih memang sangat menggemaskan bahkan selama di bawah pengasuhan kami bayi Arjuna sangat tenang dia tidak rewel, rewelnya jika sedang haus atau lapar.
Setelah mengembalikan bayi Arjuna pada suster kami semua pamit pulang, mbak Priska pulang bersama mas Anam, sedang aku pulang dengan sopir, suster dan anakku Alifa, selama di dalam mobil aku pangku sendiri Alifa, karena dari tadi Alifa sudah bersama dengan suster.
Setelah sekian menit mobil yang kami tumpangi sudah terparkir rapi di halaman rumah, Aku lihat mobil pak Catur juga belum ada di halaman itu artinya pak Catur belum pulang. Aku langsung masuk rumah, aku meminta bantuan susterku untuk menjagakan Alifa sebentar aku mau mandi dulu.
Selesai membersihkan diri, aku suruh susterku untuk segera mandi juga, susterku yang ini dia tidak setiap hari pulang karena berasal dari luar kota, dia seorang suster yang baru saja menyelesaikan pendidikannya di salah satu fakultas keperawatan di kota Madiun jadi dia masih sangat muda dan energik.
Selesai membersihkan diri aku bawa Alifa menuju tempat bermain, di sana ada Afwa, Afwi dan juga abidah, seperti biasa kami menghabiskan sore bersama sambil menunggu pak Catur pulang.
Waktu sudah menunjukkan pukul lima lebih tiga puluh menit belum ada tanda-tanda kepulangan pak Catur, aku segera mengecek hp ku, ya ternyata pak Catur mengirim pesan jika beliau pulang agak telat. Seperti biasa jika pak Catur pulang telat maka aku yang menjadi imam sholat, waktu sholat jika anak-anak anteng kami semua bisa sholat berjamaah bersama tanpa harus gantian. Selesai sholat berjamaah aku makan bersama dengan anak-anak dan penghuni rumah lainnya.
__ADS_1
Aktifitasku lebih banyak di rumah, biasanya aku akan ke panti seminggu tiga kali saja atau paling banyak empat kali malah kadang hanya dua kali saja. Malam merambat semakin larut jam delapan anak sudah mulai aku suruh tidur Afwa dan Afwi tidur satu kamar sedang Abidah tidur di kamar berbeda sengan di temani suster, sedangkan Alifa masih tidur denganku dan Pak Catur di kamar kita.
Jam sembilan tiga puluh menit deru mobil pak Catur baru saja memasuki halaman rumah kami, aku segera keluar dari kamar aku sambut suamiku seperti biasa, aku tahu beliau lembur karena beberapa hari yang lalu pak Catur menemani kami dan mengurus masalah tentang Afriana dan mas Ringgo.
"Assalamu'alaikum, bunda belum tidur?" sapa pak Catur.
"Wa'alaikum salam, ayah." aku sambut suamiku separti biasa "Belum Yah," jawabku.
Sebenarnya pak Catur juga hafal akan kebiasaanku yang selalu menunggunya pulang sampai jam berapapun aku tetap menunggunya, itu sebabnya pak Catur tidak suka pulang telat.
"Bagaimana Afri?" tanya pak Catur.
"Alhamdulillah tadi perjalanan lancar, begitu masuk pesantren Afri sudah bisa kembali seperti biasa." jawabku.
"Syukur alhamdulillah, anak-anak bagaimana?"
"Alhamdulillah hari ini anak-anak juga baik semua." sahutku.
Suamiku setiap kali pulang dari manapun pertama kali yang ditanyakan pasti tentang anak-anak dulu, dan kedua baru aku, ketiga baru seluruh isi rumah.
"Ayah mandi dulu aku siapkan airnya." ucapku
Tanpa menunggu jawaban dari Pak Catur aku sudah masuk ke kamar mandi, untuk menyiapkan air hangat untuk mandi pak Catur.
"Yah, sudah siap segera mandi sudah malam," perintahku pada pak Catur.
"Terima kasih sayang, nikmatnya punya istri pulang kerja disambut, mau mandi disiapin, mau tidur di keloni." ucap Pak Catur dengan senyum menawannya.
"Mas sayang ayo mandi dulu, nanti airnya keburu dingin." perintahku.
"Baik sayang." sahut pak Catur mengecup pipiku sekilas dan dia langsung masuk ke kamar mandi dengan senyum bahagia.
Aku duduk di ranjang menunggu pak Catur keluar, karena aku tidak sabar untuk menceritakan tentang mbak Priska dan mas Anam yang akan mengadopsi anak dari panti asuhan yang aku kelola.
__ADS_1