
Malam semakin larut, aku masih belum bisa memejamkan mata, hamilku kali ini, beda dengan di kembar jika di kembar aku mudah capek dan ngantuk, tapi kali ini aku jarang bisa tidur di malam hari, kini aku hanya berbaring saja, aku masih kepikiran tentang biaya tadi, setelah aku kalkulasikan membutuhkan biaya yang sangat besar, walau suamiku dengan mudah menyetujui tiba-tiba rasa ingin jalan-jalan itu hilang, padahal untuk biaya kesana sudah di tanggung oleh mas Dwi dan mas Tri, karena mereka mengharapkan kedatangan kami semua. Jam tiga pagi aku lihat suamiku mulai bergerak beranda ingin bangun karena jam beker di atas nakas telah berdering. Supaya aku tidak dimarahi oleh suamiku aku pura-pura memejamkan mata, aku rasakan kasurnya bergerak dan suara pintu kamar mandi dibuka pasti pak Catur pergi ke kamar mandi, tidak lama kemudian pak Catur membangunkanku untuk bisa sholat berjamaah, tanpa menolak aku segera bangkit berdiri aku menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Kami bedua melakukan dzikir dan membaca ayat suci Al qur'an sambil menunggu subuh tiba, begitu menjelang subuh rumahku sudah mulai ada kehidupan lagi, seperti biasa hanya di kembar yang belum bangun. Memasak untuk keluarga memang sudah menjadi kegiatan rutinku kecuali jika aku dalam keadaan capek seperti saat ini, semenjak aku hamil yang kedua aku selalu ngantuk setelah subuh.
"Sayang, sebaiknya bunda periksa ke dokter, ayah tahu hampir setiap malam bunda tidak bisa tidurkan," ucap Pak Catur yang baru masuk ke dalam kamar.
"Paling cuma Tri semester pertama saja kok Yah, gak apa-apa," jawabku " Yah, untuk biaya jalan-jalan saja sekian rstus juta, yang senang cuma kita sendiri, uang segitu jika dikasihkan anak yatim piatu dan fakir miskin pasti banyak manfaatnya, dan lagi kita hanya ngajak suster dan mbak Qib kalau mbak Qib aku tidak begitu kepikiran tsi bagaimana dengan anak-anak mbak Na dan anak mbak Rom?" jelasku dengan mata menerawang.
"Lalu?" tanya pak Catur penasaran.
"Sekarang sudah tidak pingin lagi," jawabku dengan senyum termanisku.
__ADS_1
"Ya Allah bunda, bisa nggak jangan bikin ayah jantungan, semalam tiba-tiba ingin ke Disney sekarang dengan entengnya membatalkan, terlanjur ayah sudah ngomong dengan mas Dwi dan mas Tri untuk cepat diuruskan kok , mereka sangat senang jika kita datang." jelas pak Catur terkejut dengan keputusanku.
"Kan pinginnya semalam, gak sekarang dan juga tidak besok, atau lusa," ucapku enteng.
"Sebenarnya mas Dwi ngundang kita untuk hadir dalam rangka tasyakuran pembukaan kantor barunya di Australia, cuma ayah gak janji karena bunda lagi hamil, semua hadir termasuk mbak Priska, tapu ayah masih belum bisa memastikan." ucap Pak Catur.
"Kapan?" tanyaku.
"Ayah datang saja, kalau Dinda kayanya gak bisa datang, Dinda masih takut akan resikonya, dinda tidak ingin kehilangan nyawa anak kita." jelasku aku ingat akan resiko kehamilanku yang rawan keguguran dan pendarahan karena jarak kehamilanku yang begitu dekat.
"Gitu semalam minta ke Disney land," ledek pak Catur.
__ADS_1
"Entahlah kemarin tiba-tiba saja kepingin, tapi sekarang sudah tidak ingin lagi." ucapku.
"Ya sudahlah, kita pikirkan nanti," ucap Pak Catur.
"Mas mandi dulu nanti kesiangan, aku siapkan sarapannya," ucapku, lalu aku bangkit dari ranjang untuk menuju dapur.
"Bunda tetap di sini dan istirahatlah, jangan terlalu banyak bergerak dan capek, karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti," jelas pak Catur.
"Maksudnya?" tanyaku penasaran.
"Ada temanku dia seperti bunda, jarak kehamilan pertama dan kedua terlalu dekat, anaknya baru berusia tiga bulan istrinya hamil enam minggu, dokter sudah menasehatinya jika kandungannya lemah tidak boleh banyak bergerak, tapi tidak di indahkan akhirnya nyawa anaknya tidak tertolong, pada usia kandungannya enam bulan harus operasi karena anaknya meninggal di dalam kandungan, ayah tidak ingin anak dan istri ayah mengalami hal yang sama," jelas pak Catur lagi.
__ADS_1
Aku nurut, kini aku hanya duduk dan menunggu suamiku serta menatap kedua putraku yang masih terlelap dengan mimpinya.