
Kami berempat sangat bahagia, termasuk aku sendiri, jujur saja saat-saat seperti ini tidak pernah terjadi dalam hidupku, jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, kami berempat meninggalkan plaza Lawu , karena Afriana dan Rahma sudah terlihat lelah sekali.
Dengan wajah yang berseri-seri pak Catur mengemudikan mobilnya menuju rumah bu Priska untuk mengantar Rahma pulang duluan. Sesampainya di rumah bu Priska Rahma langsung turun aku dak pak Catur membantu Rahma membawa kantong kresek belanjaannya.
"Rahma, kok banyak banget belanjaannya, mama sama papa kan sudah bilang jangan belanja barang yang tidak di butuhkan." nasehat bu Priska lembut.
"Iya, mah, tadi Paman yang bantu-in milih belanjaan." adu Rahma jujur.
"Ton!" seru bu Priska melihat ke arah pak Catur.
"Nanti saja mbak aku kesini lagi, sekarang mau antar mbak Fah dan Afriana, takutnya kemalaman, takut di grebek pak RT kalau terlalu malam." bisik pak Catur pada bu Priska namun masih terdengar olehku.
Bu Priska hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah pak Catur yang segikit aneh "Terima kasih, Fah." ucap bu Priska padaku.
"Sama-sama, mari bu Assalamu'alaikum." pamitku pada bu Priska.
Aku dan Pak Catur kembali ke mobil pak Catur, sedang Afriana tidak ikut turun karena sudah sangat lelah. Aku duduk di bangku belakang menemani Afriana yang sudah setengah tidur. Di dalam mobil pak Catur memutar lagu Malaysia yang berjudul bunga dhia.
*Ku menunggu kamu Ku menanti kamu saja
Yang terindah dari Dia Yang tercipta dari Dia
__ADS_1
Waktu terus bergulir
Dengan doa Harapan kau di dakapanku.
Bunga Kaulah cahaya
Bunga Kaulah bintang
Menerangi siang dan malamku
Mewarnai setiap mimpiku **
Sepenggal lirik lagu namun sangat bermakna, pak Catur sangat menghayati lagu tersebut, akupun ikut terbuai dengan alunan Indah dan merdu dari syair lagu tersebut.
"Mbak suka?" tanya pak Catur padaku.
"Suka, lembut dan bermakna." ucapku lagi.
"Benar lembut dan bermakna, aku senang dengar lagunya bikin adem." jawab pak Catur santai.
"Pak, terima kasih untuk hari ini, saya tidak tahu bagaimana cara membalas kebaikan bapak pada kami." ucapku bersungguh-sungguh
__ADS_1
"Mbak, berapa kali mbak mau mengucapkan terima kasih padaku, sebenarnya mbak tidak perlu berterima kasih pada saya, berterima kasihlah pada Allah, karena aku hanya sebagai perantara saja." ucap Pak Catur bijak sambil nyetir mobil.
"Bagaimanapun, saya harus berterima kasih pada bapak." ucapku kekeh.
"Ya, sudah berarti mbak harus bayar mahal pada saya, tapi tidak sekarang, bagaimana?" tanya pak Catur penuh teka teki.
"Bagaimana caranya pak?" tanyaku penasaran.
"Belum waktunya mbak tahu jawabannya, dah sekarang sudah sampai dan Afriana kelihatannya lelah sekali, sampai tertidur, biar aku gendong saja mbak." ucap Pak Catur saat mobil baru berhenti di halaman rumahku.
"Terima kasih pak, biar Fauzan saja yang gendong." tolak ku halus
Pak Catur turun duluan dan membukakan pintu, Fauzan dan bapak yang sedang duduk di teras segera menghampiriku, karena tadi aku sudah wa Fauzan jika Afriana tertidur di mobil.
" Zan, tolong gendong Afri, kekamar! " perintahku pada Fauzan yang sudah di depan pintu mobil pak Catur.
Tanpa menjawab, Fauzan, langsung menggendong Afriana menuju rumah orang tuaku dan menidurkan Afriana di dalam kamar orang tuaku, karena Afriana belum boleh tidur di rumahku sendiri. Pak Catur membawa beberapa kantong kresek jajan dan buku milik Afriana, sebagai basa-basi pak Catur duduk bersama bapak di ruang tamu, sedang aku masih me ngurusi Afriana yang sudah terlelap, begitu selesai mengurus Afriana aku keluar ke ruang tamu untuk menemui pak Catur, bapak dan Fauzan, sedang Nafisa sudah menyuguhkan teh hangat buat mereka bertiga.
"Silahkan diminum dulu pak." ucapku mempersilahkan.
"Terima kasih." jawab pak Catur.
__ADS_1
Kami berempat mengobrol sebentar, karena hari sudah hampir jam sembilan malam pak Catur segera undur diri. Masih dengan wajah yang berseri-seri pak Catur meninggalkan kami semua, bahkan pak Catur tak henti -hentinya mengulas sebuah senyuman.
Aku kembali masuk rumah orang tuaku setelah pak Catur pergi, aku rapikan semua belanjaan Afriana, karena aku sudah sangat capek akupun segera pulang ke rumahku sendiri, untuk segera membersihkan diri dan istirahat