TALAK

TALAK
Part 278 TALAK


__ADS_3

Proses adopsi bayinya mbak Priska sudah disetujui oleh pihak dinsos setelah melalui proses yang lumayan panjang termasuk kami harus bekerja keras untuk melacak keberadaan kedua orang tua Arjuna, dengan berbagai petunjuk dalam dua minggu kedua orang tua Arjuna telah kami ketemukan, kami menjelaskan akan niat baik kami dan kami bersyukur orang tua Arjuna mudah kita ajak kerja sama sehingga prosesnya cepat sekali, dan hari ini bayi Arjuna sudah boleh dibawa pulang ke rumah mas Anam dan mbak Priska untuk memulai proses perawatan percobaan selama enam bulan sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku. Bayi arjuna kini sudah berusia satu bulan lebih sedikit.


Mbak Priska, mas Anam dan anaknya yang pertama datang bersama-sama untuk menjemput bayi Arjuna, dan Pak Catur juga tidak ketinggalan dia juga ikut.


"Selamat mbak, ini Arjuna sudah boleh dibawa pulang, semoga dengan hadirnya Arjuna dalam keluarga mbak bisa menambah keberkahan dalam keluarga mbak," ucapku lembut.


"Aamiin yarobbal'alamin." sahut semua orang ada di dekatku.


"Alhamdulillah akhirnya mama bisa menjemput kamu sayang, pulang sama mama ya sayang," ucap mbak Priska girang.


Arjuna menyahutnya dengan senyuman khas bayi dari mata Arjuna terlihat dia sangat bahagia bersama dengan keluarga mbak Priska. Bayi arjuna kini sudah berada digendongan mbak Priska, Alif anak pertama mbak Priska tak kalah bahagia.


"Sekarang selain papa aku punya teman lagi, adik Arjuna kalau sudah besar kita main sepak bola ya, dan nanti jangan kaged adik punya satu kakak lagi namanya kak Rahma dia itu cerewet sekali dan suka usil," oceh Alif anaknya mbak Priska, sedang Arjuna nenyahutinya dengan sebuah senyuman khas bayi.


"Kamu itu, adiknya masih kecil, awas jangan diajari yang macam-macam," ancam mbak Priska.


"Mama aku gak ngajari yang aneh-aneh kok Ma, Mama, jangan pelit-pelit ya nanti sampai rumah adik mau tak keloni," oceh Alif bahagia.


"Kamu lihat Fah, keponkanmu sudah mau menikah sifatnya masih seperti anak kecil." keluh mbah Priska.


"Itu tandanya mbak Priska memang perlu nambah pasukan biar mas Alif ada saingannya." godaku.


"Gimana mau menikah pacar saja gak punya, ma," ucap Alif jujur, Alif biar sudah duduk di bangku kuliah dia memang anti pacaran


"Ya maka dari itu sekarang aku nambah keluarga Fah, biar rumah kembali hidup, nunggu cucu lahir juga masih lama gini kan enak sekalian biar Alif belajar momong bayi jadi suatu saat tidak dia kaged saat punya anak." sahut mbak Priska dengan senyum bahagianya.

__ADS_1


"Sekarang kita pulang, Alif kamu bawa mobilnya ya," perintah mas Anam.


"Papa saja yang bawa mobilnya aku mau gendong dik Arjuna, Ma , Pa , lihat wajah dik Arjuna kok mirip sama aku sih, sama-sama ganteng," Alif girang.


"Alif.... " ucap mas Anam.


"Iya, ya pa, Alif bawa mobilnya."


Akhirnya Alif mengalah, setelah semua sudah beres mas Anam, Alif mbak Priska dan bayi Arjuna berada di dalam satu mobil. Sedangkan aku sama pak Catur serta Alifa dan susterku berada dalam satu mobil. Untuk anak-anakku yang lain sudah berada di rumah mbak Priska bersama dengan kedua susterku karena di rumah mbak Priska di adakan tasyakuran kecil-kecilan, disamping anak-anakku mama, papa Cakra serta ibunya mbak Priska dan keluarga mas Anam juga sudah menunggu kehadiran bayi Arjuna. Setelah beberapa menit kami sudah memasuki halaman rumah mbak Priska mereka semua sangat antusias menyambut kedatangan bayi Arjuna, sebelum masuk rumah mbak Priska Kakung lebih dulu melafalkan doa dan mengusap kepala bayi Arjuna dengan lembut.


"Ayo masuk, alhamdulillah Arjun sekarang sudah sampai rumah." ucap mbak Priska bahagia.


"Alhamdulillah," seru semua orang.


"Mama, maaf tadi tidak bisa menjemput mama dan papa, bagaimana kabar mama dan papa." ucapku.


"Mama paham kamu repot ngurus anak-anak, alhamdulillah sehat selalu, tadinya hanya mama yang akan ke sini eh, papamu gak mau ditinggal, dia bilang sudah kangen dengan cucu-cucunya." ungkap mama Cakra tulus.


"Maaf ma, kami jarang mengunjungi mama, rencana setelah ini kami mau ngunjungi mama dan papa." ucapku dengan perasaan tidak enak.


"Yo gantian to Fah, oh ya Afri bagaimana?" mama selalu menanyakan semua cucu-cucunya termasuk Afriana.


"Alhamdulillah, baik, mah." jawabku.


"Mama bangga pada Afri, berkat Afri Rahma mau menuntut ilmu di pesantren." ucap mama masih menunjukan senyum tulusnya.

__ADS_1


"Ya bukan begitu ma, Rahma menuntut ilmu ke pesantren karena keinginannya sendiri." ucapku.


"Ternyata si kembar sekarang sudah tambah pinter, tadi mereka pamer pada kami jika mereka sudah hafal beberapa surat pendek, papamu bahagia sekali saat bersama anak-anakmu, ya maklum semua cucu-cunya yang di Jakarta sudah pada besar, sekarang yang bisa di ajak bermain jauh semua." ungkap mama senang.


"Rencana kami mau nambah lagi ma biar rame, masa semua hanya punya anak dua, kurang seru." ungkap pak Catur yang sudah berada di dekatku dan mama.


"Kamu genepi sebelas sekalian, terus istrimu kamu suruh untuk melahirkan terus, kamu kira istrimu mesin apa?" omel mama.


"Mama, ya bukan begitu mah, mama saja anaknya enam, sayangnya yang hidup cuma empat." sanggah pak Catur.


"Ya beda to Ton, waktu itu mama masih muda waktu melahirkan kamu saja mama baru berusia tiga puluh tahun nan." jelas mama.


"Ini kok malah bahas mau nambah anak, gimana sih." ujarku."Menurut mama bagaimana Arjuna?" tanyaku


"Dari sorot matanya dia anak yang cerdas, mama benar-benar bahagia, anak-anak mama pada peduli dengan mereka yang membutuhkan, Fah, teruslah berbuat baik dan jangan lelah dalam berbuat kebaikan, mama bangga sama kamu, karena kamu bikin gebrakan baru dengan membangun panti singgah untuk para lansia, tidak salah dulu Priska memilih kamu untuk menjadi istri Tono, kalian sungguh serasi." tutur mama.


Mama menasehatiku banyak sekali, tentang bagaimana mengelola panti asuhan yang baik, selain nasehat mumpung ada mama aku berkonsultasi langsung tentang panti asuhan. Aku sangat senang sekali karena mama dengan sabar mengajariku dalam mengelola panti asuhan dan cara memperhatikan dan berinteraksi dengan anak-anak di dalam panti.


Acara penyambutan Arjuna cukup meriah walau hanya di hadiri oleh keluarga sendiri, bahkan mbak Irma menyempatkan diri untuk menelpon dan ingin tahu anak yang di adopsi oleh mbak Priska, dan entah siapa yang mengabari mas Dwi dan mas Tri juga sudah menelpon dengan sambungan video call mereka juga ikut melakukan penyambutan Bayi Arjuna.


"Sungguh beruntung Arjuna, semoga kelak dia bisa menjadi anak yang Sholeh anak yang berbakti pada kedua orang tuanya." ucapku.


"Aamiin yarobbal'alamin, Fah mama harap begitu juga, dan mama harap tidak ada lagi orang tua yang membuang darah daginghys sendiri, jajan sekarang benar-benar miris Fah, di tempat mama hampir setiap hati selaky ada saja anak yang masuk ke panti." ungkap mama panjang lebar.


Kebahagiaan terpancar di wajah mbak Priska, mas Anam dan Alif, apalagi Alif yang sangat senang dengan kehadiran bayi Arjuna, Alif sampai belajar mengganti pampers Arjuna saat pampers arjuna sudah penuh, acara tasyakuran telah usai namun kami masih berkumpul di rumah mbak Priska selain menyambut kedatangan Arjuna kami juga ingin melepas kangen dengan papa dan mama Cakra, apalagi anak-anak sangat antusias bermain dengan kakeknya.

__ADS_1


__ADS_2