
"Bagaimana semuanya, sudah siap?" tanyaku pada anggota keluargaku yang kami ajak.
"Sudah," jawab suster dan anak-anak.
"Sekarang kita berangkat." ajak pak Catur bahagia
Kami semua sudah siap, dengan persiapan yang begitu mendadak sehingga untuk menghadiri acara ngunduh mantu di rumah mas Ringgo kami sekeluarga memakai baju ala kadarnya, dalam artian kami menggunakan baju yang ada saja tanpa harus memesan baju baru. Tidan dipungkiri keluargaku memiliki beberapa baju untuk menghadiri acara keluarga dimana model mirip-mirip dari bahan dan corak yang sama, ya aku beruntung sekali karena pak Catur bukan tipe suami yang rewel soal pakaian. Kehidupan pak Catur yang berasal dari keluarga kaya raya namun sekarang dia bisa mengikuti gaya dan cara hidup yang aku terapkan di dalam keluarga kami. Dari segi penampilan kami hanya menyesuaikan saja sebisa mungkin bisa menempatkan dan membawa diri.
Pagi ini aku mengajak dua suster kami, dengan tujuan agar bisa menjaga anak-anak. Selama dalam perjalanan anak-anak selalu menanyakan keberadaan kakaknya Afriana, terutama si kembar dan si Abidah kami berusaha menjawab dengan hati-hati agar bisa dipahami oleh anak-anak. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih setengah jam rombongan keluargaku memasuki rumah orang tua mas Ringgo. Suasana di rumah keluarga mas Ringgo tidak terlalu ramai tidak ada tenda dihalaman rumahnya, tetangga yang rewang juga tidak banyak.
Aku pak Catur anak-anak dan kedua surterku turun dari mobil, Afriana menyambut kehadiran kami dengan bahagia begitu pula kedua orang tua mas Ringgo dan saudaranya.
__ADS_1
"Kak, Afri... !" seru Afwa dan Afwi mereka bedua langsung memeluk Afriana dan meminta untuk di gendong.
"Adik yang manis, kangen kakak gak?" goda Afri pada ketiga adiknya.
"Kak, Afli kok gak pulang sih?" tanya Abidah yang yang sudah berada di gedongan Afriana.
"Kakak kan lagi bantuin nenek dan kekek." jawab Afriana dengan senyum girang.
"Iya, dong, kak Afri kan pingin menjadi orang yang baik seperti bunda." jawab Afriana antusias.
"Tapi mana nenek dan kakeknya?" tanya Afwi penasaran.
__ADS_1
Pertemuan anak-anakku dengan pak Catur ini kali pertama bagi orang tua mas Ringo dan anak-anakku.
"Masyaallah, pinter-pinter, adik siapa ini?" goda kedua orang tua mas Ringo pada anak -anakku.
"Adiknya kak Afri." sahut Afwa bersmangat.
"Pinter, ayo salim sama mbah dulu." perintah Afriana.
Aku yang melihat keakraban mereka benar benar terharu, kami semua duduk beralaskan tikar, ya acara yang sangat sederhana untuk background mempelai juga hanya menggunakan kain biasa hasil karya Afriana, dan kata Afriana yang semalam berkirim pesan ke aku dia mengatakan jika sedang membuat dekorasi buat bapakya duduk bersama dengan ibu barunya.
Tidak begitu lama beberapa kerabat datang dan berkumpul untuk menyambut mempelai, mayoritas mereka itu mengenal pak Catur sehingga pak Catur tidak canggung sama sekali, pak Catur begitu menikmati nya sangat berbeda denganku karena jarang bertemu maka rasa canggung tetap aku rasakan. Tidak begitu lama rombongan pemgantin telah tiba, kami semua bangkit berdiri dan ikut menyambut pengantin dan rombongan, walau Acara sangat sederhana Lantunan sholawat mengiringi langkah sang mempelai menuju singga sananya. Singga sana sang mempelai cukup sederhana, mereka cukup duduk beralaskan tikar yang terbuat dari plastik.
__ADS_1
Acara di kediaman mas Ringgo sangat sederhana dan cepat sekali selesai, kali ini mempelai hanya memakai gamis bukan baju pengantin pada umumnya.