
Baru saja kami menyelesaikan sholat magrip berjamaah, Fauzan datang sendiri dengan mengendarai sepeda motornya. Kehadiran Fauzan menambah suasana semakin meriah, selesai sholat magrib kami menghabiskan waktu untuk bersantai dan bersendau gurau.
Semenjak pertemuan antara Afriana dan mas Ringgo aku belum berbicara secara serius dengan Afriana aku juga belum menanyakan apa-apa padanya, sengaja aku diam dulu karena aku tidak ingin melihat Afriana tertekan. Salah satu alasan kenapa suamiku mengajak kami bersantai ke villa karena kami ingin menghibur Afriana.
"Sudah malam anak-anak ayo tidur," seruku.
"Sebentar ya buk," rengek Afriana.
"Sayang besok ayah harus bekerja pak lek juga harus bekerja, lusa kakak harus sudah berangkat ke pondok lagi, kita juga harus belanja untuk kebutuhan kakak di pondok nanti " nasehatku pada Afriana.
Afriana akhirnya mengalah tanpa aku suruh Afriana dengan senang hati dia membantu adik-adiknya untuk cuci kaki, gosok gigi, menggantinya dengan baju tidur. Kami semua berada disatu ruangan, sebuah kamar yang sengaja di desaian khusus untuk anak-anak, kamar yang sangat luas dengan terdapat dua kasur dengan ukuran yang sangat besar sehingga muat untuk kita semua satu keluarga.
"Af," panggilku lirih.
"Ya, Buk,"
"Kamu sudah ngantuk?" tanyaku.
"Belum buk,"
"Ibuk ingin Afri, cerita tentang kemarin, boleh?" tanyaku lembut.
"Baik, Buk, apa ayah belum cerita buk?" tanyanya.
"Tentu ayah sudah cerita dengan bundamu, tapi bagi bundamu kalau kami belum cerita sendiri rasanya kurang afdol," sahut pak Catur yang paham akan sifatku.
"Dengan senang hati, Buk, aku sayang ibuk," Afriana langsung memelukku erat.
"Ibuk juga sayang Afri," sahutku.
"Sama ayah, bagaimana?" tanya pak Catur.
"Tentu aku sayang kalian semua." sahut Afriana senang.
"Tapi jangan di sini nanti adik bangun, kita duduk di soaf sebelah sana." Aku mengajak Afriana untuk duduk di salah satu sofa yang masih satu ruangan dengan anak-anak.
__ADS_1
Aku, Afriana dan Pak Catur duduk bersandar di sofa, dengan posisi aku berada diantara pak Catur dan Afriana.
"Bagaimana perasaan Afri setelah ketemu dengan bapak?" tanyaku penuh kehati-hataian.
"Sebenarnya Afri, masih takut buk, Afri takut bapak akan marah-marah seperti dulu, Afri masih takut bapak akan diam tidak mempedulikan Afri seperti dulu." ungkap Afri sedih.
"Sekarang bagaima?" tanyaku.
"Afri belum tahu buk," jawabnya singkat.
"Ada yang mengganjal di hati Afri, Afri boleh cerita ke ibuk dan ayah," kini pak Catur yang berbicara.
"Apa orang bisa berubah Buk, Yah?" tanyanya ragu.
"Setiap orang pasti bisa berubah Af, ada yang jahat menjadi baik dan ada yang baik berubah menjadi jahat, tergantung hati dan lingkungan, sebab teman dan lingkungan sangat mempengaruhi tingkah dan laku seseorang, seperti dalam pepatah, dekatilah teman yang mengajakmu dalam hal kebaikan, dan jauhilah teman yang mengajakmu dalam hal keburukan." nasehatku pada Afriana.
"Butuh berapa lama orang akan berubah buk, yah?" tanyanya lagi.
"Tergantung niatan hati orang tersebut, Af, jadi waktu tidak bisa dijadikan patokan." nasehat pak Catur.
"Af, apapun dan bagaimanapun pak Ringgo tetap bapak Afri, bapaknya Afri sekarang sangat merindukan Afri, Afri ingin tahu alasan kuat bapak Ringgo untuk sembuh?" ungkap pak Catur.
"Apa ibuk dan ayah tahu apa alasannya?" tanyanya lagi.
"Afri mau dengar cerita ayah, Afri ingat waktu ayah ngajak bapaknya Afri keluar dari ruangan kemarin?" tanya pak Catur pada Afriana.
"Iya, Afri ingat." jawanya singkat.
Aku melirik kearah pak catur untuk menuntut jawaban, karena pak Catur belum cerita tentang obrolannya dengan mas Ringgo, sebenarnya aku juga tidak begitu tertarik awalnya karena ini menyangkut Afriana aku menjadi sedikit tertarik.
"Baik dengarkan ayah ya," ucap Pak Catur "Maaf sayang," bisik pak Catur padaku.
Flash back on.
"Pak Ringgo boleh kita bicara sebentar." pinta Catur sopan.
__ADS_1
"Baik," Ringgo mengikuti permintaan Catur tanpa ada penolakan.
Catur dan Ringgo meninggalkan ruangan tersebut, keduanya kini duduk di sebuah tempat yang sepi dengan di temani Jamal, tempat di mana tadi Afriana, Catur dan Jamal berbicara.
"Terima kasih, pak Catur, terima kasih mas Jamal, mas Jamal boleh memukulku karena sudah membuat Afifah menderita selama ini," Ringgo memulai pembicaraan dengan air mata penuh penyesalan.
"Pada awalnya aku memang ingin memukulmu, namun aku masih melihat Afriana, aku tidak mungkin menyakiti orang tua dari keponaknku, aku tahu sekarang kamu sudah berubah, aku bangga padamu, semoga kamu bisa kembali menjadi Ringgo yang pernah aku kenal dulu." ungkap Jamal.
"Aku meminta maaf sebab belum berhasil membujuk Afri," ucap Catur.
"Tidak, saya rasa pak Catur sudah berhasil membujuk Afri, memang sudah sepantasnya saya dijauhi dan ditolak oleh anak saya sendiri, saya sadar saya sudah menciptakan memori kelam dalam hidupnya, saya sudah menorehkan luka yang begitu dalam untuknya dan ibunya, bahkan saya juga sudah nyaris mencelakainya karena keegoisan saya," ungkap Ringgo jujur.
"Yang penting sekarang bapak Ringgo sudah sembuh dan tolong beri waktu buat Afriana untuk bisa menerima semua ini dengan ikhlas, pak Ringgo sangat beruntung memiliki putri seperti Afriana, pak Ringgo harus bangga padanya, saya tahu sebenarnya dalam hati kecil Afriana dia sangat merindukan kehadiran pak Ringgo, dia sangat sayang pada pak Ringgo, hampir setiap malam aku mendengar Afriana mengigau memanggil nama pak Ringgo." ungkap Catur.
"Aku akan menunggunya, sebab satu-satunya alasan terkuat saya untuk sembuh adalah tangisan dan senyum Afriana yang setiap malam memelukku, dia yang menguatkanku, dia janji akan menyambutku saat sembuh, setiap malam dia datang dia yang menuntunku dia satu-satunya harapanku, walau itu hanya ilusi aku yakin Afriana pasti selalu berdoa untukku," ungkap Ringgo dengan mata yang sudah penuh air mata.
"Ya, Afriana selalu berdoa untuk pak Ringgo, bapak Ringgo harus bangga padanya, saya sendiri ikut bangga, sekarang Afriana memilih menempuh pendidikan di pesantren dan menjadi seorang hafidzah, dia bilang bahwa dia ingin memberikan hadiah mahkota emas untuk kedua orang tuanya kelak di surga, saya harap pak Ringgo benar-benar memberi ruang dan waktu kepada kepada Afriana." pinta Catur penuh harap.
"Saya akan memberi waktu padanya, terima kasih atas kebaikan bapak selama ini, terima kasih sudah menjadikan Afriana anak yang Sholehah, terima kasih karena bapak bisa menekan ego bapak, bapak dengan iklas membiayai seluruh pengobatan saya, saya tahu alasan bapak tidak balas dendam pada saya pasti karena Afriana putriku, beruntung sekali Afriana banyak orang yang menyayanginya, banyak orang yang mau berkorban untuknya." ungkap Ringgo benar-benar seperti orang yang sehat.
"Baiklah, sekarang sebaiknya kita masuk, tugas kita sebagai orang tua adalah memberi contoh dan mendidik anak-anak dengan baik." ucap Catur bijak dan pasti dengan senyum persahabatan.
"Satu lagi, sampaikan maafkku untuk Afifah, bila diijinkan saya ingin meminta maaf secara langsung pada Afifah, namun saya tahu sebagai laki-laki saya paham jika bapak tidak nengininkan saya untuk bertemu dengan Afifah." ucap Ringgo.
"Untuk saat ini saya belum bisa mengijinkan, pak Ringgo untuk ketemu istri saya." jawab Catur jujur.
"Kamu bisa cemburu juga, Tur, aku kira kamu tidak bisa cemburu," celetuk Jamal.
"Sebaiknya kita masuk kasihan Afriana sudah menunggu lama," ajak Catur untuk kembali masuk.
Flash back off.
Aku dan Afriana mendengar cerita dari Pak Catur dengan seksama tanpa mau menyela.
"Dari cerita ayah, sepertinya ada yang tidak beres, kenapa mas Ringgo bisa berbicara sangat bijak, dan seolah dia memang benar-benar sudah sehat lama?" tanyaku penasaran.
__ADS_1
"Sebenarnya Ringgo sudah sembuh sejak setahun lalu, namun dia belum siap untuk keluar dan membaur dengan masyarakat luas, sebenarnya sudah setahun yang lalu Ringgo sudah pindah tempat, tidak di RSJ lagi, dia sudah mulai mengabdi di pesantren, aku, orang tuanya, mas Jamal serta bapak sudah tahu, maka kenapa kami berani membawa Afriana bertemu dengan Ringgo, karena Ringgo sudah benar-benar sehat, tanpa sepengetahuan Dinda sudah berkali-kali aku berbicara secara langsung dari hati ke hati dengan Ringgo." jelas pak Catur panjang lebar.