TALAK

TALAK
Part 94 TALAK


__ADS_3

Hari ini hari yang sangat melelahkan bagiku, di saat hatiku masih kacau namun pekerjaanku juga banyak, dengan berusaha semaksimal mungkin aku selesaikan semua pekerjaanku walau terjadi beberapa kesalahan hingga tiga kali aku mendapat teguran dari Pak Catur. Kesalahan pertama aku lupa tidak mencantumkan tanggal pada berkas yang akan di kirim ke kantor pusat, kedua aku salah karim email dan yang ketiga aku salah menyerahkan data pak Catur, pak Catur minta data penjualan malah data stock bahan baku yang aku serahkan.


Hari yang penuh perjuangan, akhirnya pekerjaanku baru selesai di jam sembilan malam, seperti biasa aku minta di jemput oleh Fauzan. Seperti biasa Fauzan tidak pernah menolak namun di saat aku mau beres-beres berkas tiba-tiba Fauzan telpon jika tidak bisa menjemput karena Nafisa sedang sakit.


"Sudah siap, mbak." tiba-tiba saja pak Catur sudah di depan meja kerjaku.


"Eh... Selamat malam pak." ucapku terkejut.


"Aku, antar mbak pulang, tadi Fauzan sudah memberi tahu ku jika istrinya sedang sakit dan tidak bisa menjemputmu." ucap pak Catur.


"Terima kasih, pak biar saya naik gojek saja." Aku berusaha menolak tawaran pak Catur.


"Aku tahu maksudmu, sudah ayo aku antar pulang sudah terlalu larut tidak baik buat kamu jika pulang sendirian, aku tidak akan pakai mobil untuk mengantarmu, tadi pagi aku naik sepeda motor, jadi anggap saja aku tukang ojek." ucap Pak Catur sedikit memaksa.


" Maaf, pak hari ini saya banyak melakukan kesalahan sehingga membuat bapak juga harus pulang larut." ucapmu meminta maaf.


" Jangan terlalu di pikirkan mbak, bikin kesalahan itu sudah biasa namanya juga manusia normal, sudah malam aku antar pulang." ajak pak Catur.


Aku mengikuti langkah pak Catur keluar dari kantor, saat sampai di parkiran aku melihat sepeda motor pak Catur di sana" ini suatu kebetulan atau kesengajaan." batinku sambil memakai helm yang aku bawa sendiri, semenjak aku di antar jemput aku selalu membawa helm.


Dalam perjalanan pulang antara aku dan Pak Catur hanya diam tidak bersuara, pikiranku masih berkelana tentang proses sidang selanjutnya, sedang pak Catur fokus mengendari sepeda motornya.

__ADS_1


Tiga puluh menit berlalu sepeda motor pak Catur sudah berada di halaman rumahku, aku segera turun dan mengucapkan terima kasih, begitu aku sudah turun pak Catur segera meninggalkan rumahku karena hari juga sudah larut malam.


"Assalamu'alaikum, pak, bagaimana Nafis?." sapaku pada bapak yang sedang duduk di teras untuk menungguku.


"Wa'alaikum salam, belum pulang sekarang masih ke dokter, anakmu sudah tidur ibukmu juga ikut ke dokter." ucap bapak.


"Sejak kapan Nafisa sakit? Tadi pagi masih sehat." ucapku.


"Tadi siang katanya jatuh di sekolahan, dan perut ya sering kram jadi tadi jam setengah sembilan langsung di bawa ke dokter, mungkin agak malam pulangnya, kamu tidur sini temani Afri, biar bapak nunggu mereka pulang." ucap bapakku.


"Inggih pak."


Sambil rebahan aku kirim pesan ke Fauzan untuk menanyakan keadaan Nafisa, alhamdulillah semua baik-baik saja hanya karena kelelahkan dan juga karena tadi jatuh jadi Nafisa harus istirahat beberapa hari dan tidak boleh bekerja yang berat-berat.


[Mbak cepetan istirahat, sudah larut malam, jaga kesehatan] pak Catur.


[Jangan terlalu banyak pikiran] pak Catur.


[Selama istrinya Fauzan sakit aku yang akan mengantarmu pulang, kasihan Fauzan dan juga bapak, tadi aku sudah minta izin ke bapak, dan bapak juga sudah mengizinkan, jika istrinya Fauzan sudah sembuh maka Fauzan yang akan menjemputmu] pak Catur.


Membaca pesan dari Pak Catur membuatku tercengang, kapan dia minta ijin ke bapak dan kapan dia bicara dengan Fauzan, dengan perasaan penuh tanda tanya aku menghampiri bapak yang masih berada di teras rumah.

__ADS_1


"Pak!"


"Iya, Fah, kamu kok belum tidur?" tanya bapakku.


"Pak, apa benar bosku sudah minta ijin ke bapak untuk mengantarku pulang?" tanyaku hati-hati dan duduk di samping bapak.


"Kenapa? kamu tidak suka?" bapak malah balik tanya padaku.


"Ehmm... Bukan begitu pak." sanggahku.


"Fah, bapak memang mengizinkannya sebenarnya sudah sejak sebulan lalu dia meminta izin ke bapak, dan dua minggu yang lalu kakung juga menemuiku, kamu istirahatlah, hanya beberapa hari saja setelah Nafisa sembuh Fauzan akan menjemputmu kembali, apa yang bapak lakukan demi keselamatanmu, Fah, bapak tidak ingin kamu di celakai oleh Ringgo, bapak percaya pada bosmu itu, sudah tidurlah, percayalah dengan keputusan bapak." ucap bapak menjelaskan


" Baik, Pak."


Aku tidak lagi bertanya kepada bapak ataupun berdebat, sambil ngobrol dengan bapak aku membalas chat dari Pak Catur.


[Terima kasih, pak atas bantuannya, maaf jika saya merepotkan bapak, tidak seharusnya bapak menawarkan bantuan pada saya dan keluarga saya] aku.


Aku benar-benar tidak tahu apa yang sebenarnya di lakukan oleh pak Catur pada keluargaku, dan apa maksud dan tujuan kakung menemui bapak, entahlah aku semakin tidak mengerti.


[Tidak repot mbak, sesama manusia kita harus saling tolong-menolong kan, tidak mungkin kan jika malam-malam nyiruh bapak atau mas Jamal untuk menjemputmu, lagian kita kan sekantor, jadi jangan sungkan, mbak]

__ADS_1


__ADS_2