
Malam semakin larut, Nafisa dan Afriana sudah terlelap dengan mimpinya di dalam kamarku, aku bapak, mas Jamal Fauzan dan ibuk melakukan dzikir bersama di dalam rumahku.
"Berhati-hatilah tetap lanjutkan dzikirnya jangan sampai berhenti!" perintah bapak di sela-sela dzikir kami.
Kami tidak menjawab namun tetap melaksanakan apa yang telah di perintahkan oleh bapak, tidak berselang lama dari atap rumahku terdengar ada suara ledakan lagi, bapak segera memegang pergelangan tanganku namun tetap terus berdzikir.
Kami terus berdzikir sampai bapak mengakhiri dzikir dengan doa yang telah di pimpin oleh bapakku sendiri. Selesai dzikir bapak mengajak kami untuk melaksanakan sholat tahajud, sholat taubat dan sholat khajad.
Jam tiga pagi kami menyudahi dzikir malam dan sholat malam kami, karena sudah larut mas Jamal, Fauzan tidur di rumahku hanya bapak dan ibukku yang kembali ke rumah.
Di pagi ini semua sudah sibuk dengan aktifitasnya masing-masing, bapak dan ibukku libur tidak berjualan di pasar. Afriana sekolah di antar oleh mas Jamal, Fauzan mengantar Nafisa dan langsung berangkat kerja, di rumah tinggal aku bapak dan ibuk, kami bertiga ngobrol di ruang tengah sambil sarapan.
__ADS_1
"Fah, nanti selama sidang berlangsung bacalah ayat kursi dalam hati." nasehat bapak.
"Semalam, kekuatannya lebih besar ya pak" tanyaku penasaran.
"Ya, Fah, makanya aku minta bantuan mas Jamal, aku tahu kamu mampu melawannya, namun jika kita lawan bersama-sama lebih mudah untuk mengalahkan." nasehat bapak " Dan juga semalam dari dukun yang berbeda dari yang dulu, yang ini lebih nekat itu sebabnya bapak menyuruhmu pulang sore, karena yang ini bisa menyerangmu sewaktu-waktu." ucap bapak.
"Bagaimana mas Ringgo bisa tersesat begitu jauh, pak." ucapku, hatiku tambah kacau mendengar penjelasan bapak bagaimanapun dia ayah dari anakku " Padahal dulu mas Ringgo itu sangat baik, tapi kenapa dia bisa tersesat sampai sejauh ini." keluhku tidak mengerti.
"Karena Ringgo salah memilih teman dan salah didikan dari orang tuanya, aku hanya kasihan pada kedua orang tua Ringgo, di masa tuanya harus ikut menderita akibat ulah anaknya."ucap bapak.
"Suatu saat kamu bakal tahu Fah, bapak hanya berpesan padamu seburuk apapun perbuatan Ringgo pada kita jangan sampai kamu punya niat untuk balas dendam, ataupun membenci kepada Ringgo maupun kedua orang tua Ringgo, serahkan semua kepada Allah SWT, dan doakan semoga Ringgo segera bertaubat sebelum terlambat." nasehat bapak.
__ADS_1
"Benar kata bapakmu, Fah, memaafkan itu memang sulit tapi kita sebagai manusia yang beriman harus tetap belajar untuk memaafkan, tiada manusia di dunia ini yang sempurna, belejarlah untuk lebih ikhlas walau tidak mudah." nasehat ibukku.
"Inggih, pak, Buk, inshaallah, Afifah, ikhlas dan akan terus belajar untuk bersabar." jawabku dengan hati yang aku paksakan untuk ikhlas.
Kadang aku berpikir begitu hinakah diriku sehingga aku mendapatkan cobaan yang begitu berat, semenjak berumah tangga dengan mas Ringgo cobaan selalu datang silih berganti, mulai dari mas Ringgo yang berubah drastis, hingga kata TALAK keluar dari mulut mas Ringgo dan mas Ringgo pergi meninggalkan kami semua. Sebenarnya bagiku perceraian sesuatu perkara yang memalukan, begitu lemahnya aku sehingga aku tidak bisa mempertahankan rumah tanggaku, namun kadang aku juga berpikir akan takdir, mungkin inilah takdir yang harus aku jalani.
Mas Jamal sudah kembali ke rumah setelah mengantar Afriana, kadang aku marasa seperti seorang putri kerajaan di dalam keluargaku, bagaimana tidak setelah aku bercerai dengan mas Ringgo, semua keluargaku membantuku tanpa pamrih, bahkan mas Jamal dengan rutin mengirim padi padaku setiap kali panen. Uang jajan Afriana di tanggung oleh adikku,orang tuaku dan mbakku yang ada di luar kota. Sekarang aku harus di antar jemput saat bekerja padahal dulu waktu masih jadi istri mas Ringgo semua aku lakukan sendiri, bukan keluargaku tidak perduli namun takut jika akan memperkeruh keadaan.
Jam delapan aku berangkat ke pengadilan Agama dengan di antar oleh mas Jamal.
"Buk, Pak berangkat dulu." pamitku pada kedua orang tuaku.
__ADS_1
"Hati-hati, Fah, ingat pesan bapak, Mal jangan lupa pesanku, jaga adikmu, aku dan ibukmu akan bantu dari rumah." pesan bapakku.
"Inggih pak, inshaallah aku mampu untuk mengatasinya." jawab mas Jamal serius.