TALAK

TALAK
Part 126 TALAK.


__ADS_3

Tiga hari menjelang kedatangan orang tua pak Catur, kami semua sangat sibuk sekali, Bukan hanya aku dan Pak Catur, namun semua karyawan harus menyelesaikan pekerjaannya hari ini, dan harus segera di laporkan ke pak Catur maksimal besok. Hari ini akhirnya aku harus kerja lembur begitu pula bu Priska dan Pak Catur, jam delapan malam aku sudah kirim pesan ke Fauzan untuk menjemputku, tidak berselang lama Fauzan segera membalas dan menyanggupinya.


Jam sembilan malam Fauzan sudah menungguku di pos satpam, sungguh naas pekerjaanku sangat banyak akhirnya pekerjaanku baru selesai di jam sepuluh malam. Jam sembilan tadi bu Priska sudah pulang duluan di kantor tinggal aku dan Pak Catur. Selesai mematikan komputer dan membereskan berkas yang ada di atas meja aku mati kan lampu aku menuju ruangan pak Catur untuk mengeceknya, ternyata pak Catur masih berada di dalam ruangannya.


"Selamat malam, pak maaf saya pulang duluan." pamitku pada pak Catur.


"Saya antar mbak." ucap Pak Catur spontan.


"Terima kasih pak, Fauzan sudah menunggu." jawabku jujur.


"Kenapa mbak masih minta Fauzan untuk menjemput?" tanya pak Catur.


"Lah, kalau bukan Fauzan, saya mau minta tolong siapa pak, tetangga!" ucapku asal.


"Minta tolong ke aku," jawab pak Catur sambil menamoilkan senyum yang mengembang Indah.

__ADS_1


"Sudahlah pak, saya pamit dulu sudah malam, sebaiknya bapak segera pulang tidak baik jika kerja terlalu di for Sir, jaga kesehatan agar pas orang tua bapak datang dan saat acara lamaran berlangsung bapak tetap segar, dan sehat." ucapku berbasa basi untuk mengingatkan pak Catur.


"Silahkan pulang duluan mbak, sebentar lagi aku juga pulang, terima kasih atas perhatiannya." ucap Pak Catur ramah dan senang.


Aku meninggalkan pak Catur yang masih berkutat dengan komputernya, ternyata memang benar dengan kasak kusuk yang aku dengar selama ini, jadi sekretaris pak Catur harus kuat lahir batin, seperti yang aku alami saat ini, aku harus sering kerja lembur, aku akui jika soal bonus tidak tanggung-tanggung, banyak sekali bonusnya bukan hanya aku saja karyawan lainnya yang bekerja dengan baik mereka berhak mendapatkan bonus seperti yang pak Catur janjikan.


Aku melangkah menuju pos satpam di sana Fauzan sudah menungguku hampir satu jam, begitu sudah bertemu Fauzan aku dan Fauzan segera pulang, kami berdua menerobos gelapnya malam, dimana jalanan kota sudah agak sepi.


Begitu sampai rumah aku langsung membersihkan diri, karena rumahku masih tahap renovasi maka aku tidur di rumah orang tuaku, aku tidur satu kamar dengan ibukku dan Afriana.


"Fah... panas, sakit!" rintih mas Ringgo lirih yang sedang terbaring serta berlumuran darah dan terikat oleh besi "Sakit, Fah, ampuni aku, panas... panas." rintih mas Ringgo terus menerus.


Aku hanya diam terpaku melihat keadaan mas Ringgo yang tidak karuan di tempat yang gelap, ingin sekali aku menolongnya namun aku terhalang oleh dunia yang sudah berbeda.


"Dunia kalian sudah berbeda, jangan pernah mendekat!" sebuah suara entah dari mana asalnya, aku berusaha mencari sumber suara namun benar-benar tidak ada siapa-siapa, melihat keadaan mas Ringgo yang tidak berdaya ingin sekali aku melepaskannya ikatan rantai di tubuhnya, namun semakin lama suara rintihan mas Ringgo hilang dengan sering tubuh mas Ringgo

__ADS_1


"Istiqfar, mas, Allah hu akbar, Allah hu akbar, Allah hu akbar." hanya itu kalimat yang terucap dari mulutku.


"Fah... Fah... Fah bangun nduk, kamu mimpi apa?" semakin lama suara ibukku yang terdengar dan aku merasakan ada yang sedang menggoyang-goyangkan tubuhku "Fah... Fah istiqfar nduk." nasehat ibukku.


"Astaqfirullah hal'adzim, buk." ucapku saat membuka mata aku melihat ibukku sudah duduk di sampingku.


"Kamu memgigau ada apa, nduk?" tanya ibukku cemas.


"Semoga hanya mimpi buk, mas Ringgo buk." ucapku, aku menceritakan tentang mimpiku tadi ke ibukku, ibukku mendengarkan ceritaku dan terus beristigfar.


"Doakan saja untuk keselamatan bapaknya Afriana, nduk, bagaimanapun juga dia bapak dari anakmu, jangan sampai nafsu kebencian menguasai hatimu nduk, kita semua manusia biasa yang yang tidak pernah lepas dari sebuah kesalahan dan dosa," nasehat ibukku bijak " Tidurlah masih jam dua belas jangan lupa berdoa baca ayat kursi sebanyak-banyaknya." nasehat ibukku.


"Inggih buk, buk apa yang sebenarnya terjadi?" tanyaku pada ibukku.


"Kita tidak tahu, kita doakan saja untuk keselamatan Ringgo, bacakan ayat kursi serta surat alfatihah khususkan buat Ringgo, hanya itu yang bisa kita lakukan." nasehat ibukku.

__ADS_1


"Inggih buk." jawabku tanpa membantah perintah ibuk, aku langsung ke kamar mandi untuk ambil air wudhu, selesai berwudhu aku kembali berbaring sambil berbaring aku bacakan ayat kursi dan surat afatihah sebanyak tujuh kali aku khususkan buat mas Ringgo.


__ADS_2