TALAK

TALAK
Part 218 TALAK.


__ADS_3

Malam berjalan dengan lambannya, pak Catur setelah sholat isya beliau masuk ke ruang kerjanya untuk melanjutkan pekerjaannya, sedang aku seperti biasa menidurkan Afwa dan Afwi, biar mereka berdua sudah berusia satu tahun mereka masih tidur selama denganku dan Pak Catur. Alasan kami tetap membiarkam Afwa dan Afwi tidur sekamar dengan kami, keren kami tidak ingin kehilangan kesempatan emas menikmati kebersamaan dengan Putra Putri kami, sebab jika mereka sudah dewasa sudah barang tentu mereka memilih tidur sendiri.


Kedua putraku sangat mudah sekali terlelap jika sudah sangat lelah, sroeti saat ini jam delapan sudah tertidur pula, setelah si kembar sudah tertidur pulas aku menuju kamar Afriana, aku ingin memastikan jika Afriana juga dalam keadaan baik, aku tidak ingin Afriana mengalami cemburu sosial.


"Assalamu'alaikum Af, belum tidur." sapaku lembut, ternyata Afriana masih berkutat dengan buku pelajarannya.


"Wa'alaikum salam, Buk," sahut Afriana bahagia "Adik mana?" tanyanya.


"Adik sudah bobok, belum selesai PR nya?" tanyaku basa-basi padahal aku sudah tahu kebiasaan Afriana.


"Sudah buk, cuma baca saja." sahut Afriana langsung memasukan bukunya dalam tas sekolahnya.


"Pinter anak ibuk." ucapku sambil membelai lembut kepala Afriana penuh kasih sayang.


Aku menemani Afriana hingga Afriana terlelap, setelah Afriana tidur aku kembali ke kamarku sendiri saat masuk kamar ternyata pak Catur sudah berada di dalam kamar sedang berkutat dengan ipadnya di sofa.


"Mas!" sapaku.


"Dinda." pak Catur langsung menatap kearahku.


"Sudah selesai ?" tanyaku ikut duduk di sofa bersamanya.


"Belum, cuma aku mau menemani si kembar." jawab pak Catur enteng lalu meletakan ipadnya.


"Apa mereka nangis?" tanyaku padahal aku tahu jika mereka tidak menangis.


"Yang menangis kangmas." pak sudah membelai lembut pipiku.


"Maksudnya?" tanyaku penasaran.


"Maksudnya, sekarang ayo kita tidur Dinda sayang, kangmas sudah ngantuk dan capek, besok kita ke dokter." sahutnya pak Catur dan membimbingku untuk bangkit berdiri menuju ranjang.

__ADS_1


"Maunya?" rajukku.


"Ya jelas mau dong Dinda sayang, mumpung mereka sudah tidur, sekarang waktu untuk kita bedua."


Pagi yang cerah celotehan si kembar mendominasi keadaan rumahku, ya sekarang rumahku tidak pernah sepi, tawa, tangisan dan celotehan si kembar sudah tidak asing lagi. Afriana sudah berangkat kevsekolah di antar oleh pak Catur sendiri, selesai mengantar Afriabs pak Catur mengajak si kembar untuk bermain sebentar sebelum kita berangkat ke dokter, kami bedua membuat janji jam sembilan temu dokter. Jarak rumah dan tempat dokter sangat dekat hanya butuh waktu lima belas menit saja dengan di tempuh menggunakan mobil. Kali ini sengaja kami tidak mengajak Afwa dan Afwi, karena kami periksa di dokter ptaktek rumah sakit, Sesampainya di di ruang ptaktek kami bedua duduk menunggu giliran sebagaimana para pasien lainnya.


"Ibu, Afifah Cakra." seorang suster memanggil namaku, ya semenjak aku menikah di belakangku ada tambahan Cakra.


"Baik, sus," sahutku "Ayo mas, aku mengajak pak Catur untuk bangkit berdiri.


Kami berdua menuju ruangan dokter yang kami maksud.


"Selamat pagi, bu Afifah dan pak Catur ?" sapa dokter ramah dan sopan.


"Alhamdulillah kami baik." sahut pak Catur tetap sopan.


"Kenapa ada masalah ?" tanya dokterseperti biasa.


"Masyaallah, suatu anugerah terindah jika ibu hamil lagi," sahut dokter dengan sopan dan senyum tulusnya" Silakan ibu berbaring di ranjang biar saya periksa." perintah dokter padaku.


Aku menuruti perintah dokter dengan baik, aku langsung berbaring di atas ranjang yang di maksud, dokter mulai mengeluarkan stethoscope untuk memeriksa jantung ku, dan juga mengecek tekananan darahku, terakir mengecek perut datarku.


"Sudah, Ibu duduk dulu." perintah dokter dengan senyum tulusnya.


"Bagaimana dok?" Pak Catur tidak sabar ingin mengetahui hasilnya.


"Alhamdulillah, bapak ibu, beruntung sekali bapak dan ibu dipercaya oleh Allah lagi, sekarang ibu dalam keadaan mengandung dan usia kandungannya sudah tujuh minggu." jelas dokter apa adanya.


"Alhamdulillah." pak Catur langsung mengucap syukur.


Jujur aku masih bimbang dengan berita kehamilanku, mengingat kedua bayiku masih sangat belia.

__ADS_1


"Dok, apa tidak beresiko denga jarak yang begitu dekat mengingat anak-anak kami baru berusia satu tahun." jelasku penuh kekhawatiran.


"Memang benar bu, jarak kehamilan terlalu dekat sangat berisiko pada ibu maupun janin, namun sebaiknya semua kita serahkan pada Allah SWT saja, Begini bu, secara ilmu kedokteran efek dari jarak kehamilan yang terlalu dekat pertama, mudah sekali mengalami keguguran, kedua menyebabkan lahir prematur, ketiga saat melahirkan biasanya terjadi pendarahan yang hebat sehingga sedikit mrngancam nyawa ibu dan anak." jelas dokter.


"Lalu, bagaimana dok?" tanyaku langsung cemas.


Wajah pak Catur juga langsung berubah cemas.


"Semua sudah terjadi, kehamilan ini juga sudah menjadi kehendaj Allah jadi kota berusaha menjaga dengan baik," jelas dokter dengan baik "Ibu masih menyusui kedua bayi ibu kan?" tanya dokter padaku.


"Masih, bu, itu pula yang menjadi dilema saya." ungkapku jujur.


"Untuk Asi memang sedikit ada kendala kemungkinan ibu tidak bisa lagi memberi Asi secara ekclusiv pada kedua bayi ibu." jelas dokter singkat.


"Dok apa ada cara khusus untuk menjaga keselamatan kandungan serta istri saya?" tanya pak Catur cemas.


"Ibu, harus rutin minum vitamin istirahat yang cukup, dan yang paling penting jangan sampai ibu stress, karena jika ibu stress maka ini sangat beresiko sekali." jelas dokter.


"Dok, ketika saya hamil apa masih boleh menyusui kedimua bayi saya?" tanyaku ingin tahu.


"Tentu masih boleh, bu namun biasanya rasa Asinya sudah berbeda dengan biasanya dan kebanyakan bayi tidak mau lagi minum Asi karena rasanya yang sudah berbeda, namun ibu tetap coba saja untuk tetap kasih Asi pada kedua bayi ibu," saran dokter padaku " Pesan saya, walau kehamilan ibu ini beresiko bapak dan ibu tetap ikhlas menerima kehadiran anak ibu bapak, dan jaga dengan baik, inshaallah Allah memudahkan segalanya, sebab anak merupakan Anugerah tidak semua orang mendapatkan Anugerah terbesar ini." pesan dokter dengan senyum tulus padaku dan suamiku.


"Inshaallah dok, terima kasih, kami pamit dulu, ada apa-apa kami pasti hubungi dokter segera." ucap Pak catur di selimuti antara bahagia dan cemas.


"Baik, Pak, Bu , jangan lupa minum vitaminnya, kabari segera jika ada hal yang kurang baik." balas dokter ramah.


Kami berdua meninggalkan ruang dokter, aku senang mendapat kepercayaan untuk hamil lagi, namun aku juga sedikit khawatir dengan resikonya. Pak Catur menuntunku menuju parkiran seolah aku seorang kesakitan.


"Bagaimana perasaan mas?" tanyaku nemancing reaksi suamiku.


"Mas, sangat bersyukur dab bahagia, namun mas juga khawatir dengan keselamatan kalian berdua." jawab pak Catur tulus

__ADS_1


"Inshaallah semua baik-baik saja mas, yakinlah." Aku berusaha meyakinkan pak Catur yang mulai bimbang.


__ADS_2