TALAK

TALAK
Part 239 TALAK


__ADS_3

Aku termenung sendiri di taman belakang rumah, aku masih penasaran dengan percakapan suamiku tadi di telpon. Biasanya aku tidak pernah menaruh curiga namun entah kali ini ada dorongan kecurigaan, aku kait kaitkan tentang cerita mimpi Afriana dengan percakapan telepon tadi namun tetap tidak ada jawaban, satu-satunya cara menanti suamiku pulang, Karena sudah terlalu lama aku bangkit berdiri aku langkahkan kakiku menuju kamar Afri, aku berkeinginan untuk menemani Afriana yang sedang tidak enak badan. Aku masuk ke kamar Afriana di sana Afriana masih terbaring, dia juga tidak keluar kamar.


"Sudah bangun sayang," sapaku lembut.


"Ibuk, ibuk dari mana?" tanya Afriana.


"Ibuk dari luar," sahutku.


"Buk, aku mau bermain sana adik." pinta Afriana.


"Afri kan sakit, nanti kalau Afri sudah baikan Afri baru boleh main sama adik." nasehatku.


"Na na aa na na." celoteh Afwa dan Afwi berlari menghampiriku dan Afriana.


"Afwa, Afwi, jangan ganggu kakak, kakak lagi sakit," ucapku.


Namanya juga anak-anak Afwa dan Afwi malah naik ke atas ranjang Afriana, seperti biasa kedua bocah kembar itu terus mengganggu kakaknya karena Ingin bermain dengan kakaknya, Afwa dia menarik-narik tangan Afriana untuk di ajak bermain.

__ADS_1


"Kita main sebentar, sebab kakak harus istirahat," nasehatku pada mereka.


Ketika bocah itu sudah bagaikan lem dan prangko, ketiganya tidak mau berpisah akhirnya dengan sedikit memaksa aku ajak Afwa dan Afwi keluar dari kamar Afriana, dan aku suruh Afriana untuk beristirahat setelah minum obat. Aku bawa Afwa dan Afwi di taman dengan ditemani oleh mbak Romlah.


"Mbak Rom, aku sama bapak mau mencari suster lagi, mungkin mbak Ron punya kenalan yang bisa bekerja di sini, dan aku harap mbak Rom tidak berkecil hati, karena tujuan aku dan bapak cari suster lagi sebab kami tidak ingin mbak Rom dan mbak Na kerepotan, jadi satu suster jaga satu anak," jelasku sambil momong Afwa dan Afwi yang kini sedang bermain berlarian.


"Iya, buk, saya sudah di kasih tahu sana mbak Na, kalau saya tidak punya kemarin mbak Na juga susah bilang jika dia punya calon, mbak Na juga sudah minta pendapat saya apakah saya keberatan atau tidak?" jelas mbak Romlah.


"Saya berharap siapapun yang bekerja di dini bisa saling menghormati dan kompak saling bekerja sama, saya tidak ingin terjadi perpecahan di rumah ini," jelasku.


"Semua orang itu pernah melakukan kesalahan mbak, yang terpenting bisa segera memperbaiki kesalahannya sudah, dan jangan sampai terjatuh pada kesalahan yang sama." ucapku.


"Baik, terima kasih buk, ibuk itu masih muda tapi bijak dalam mengambil keputusan dan kata-kata, antara kata-kata dan perbuatan ibuk itu seimbang, bersyukur sekali bapak memiliki pendamping seoerti ibuk, pantas saja bapak sangat sayang sama ibuk," dari pandangan matanya mbak Romlah memujiku dengan tulus.


"Sebenarnya saya yang patutnya bersyukur bisa diterima dikeluarga bapak, saya bukan siapa-siapa mbak, mbak tahu sendiri saya berasal dari keluarga apa, jadi sebisa mungkin saya untuk tidak menyombongkan diri mbak, kalau bukan karena berjodoh dengan bapak saya ya tetap seorang karyawan biasa seperti mbak." tuturku.


"Justru itu yang membuat saya salut, sebab jarang orang bisa bersikap seperti ibuk, ada beberapa orang dia dari kalangan biasa dan baru sedikit berada saja sudah sombong, bahkan pelit, jarang orang bisa adil seperti ibuk ini," tutur Romlah lagi.

__ADS_1


Di saat aku sedang mengawasi anak-ansk dan bercerita dengan mbak Romlah handphonku berdering nama mbak Inayah yang muncul.


[Assalamu'alaikum mbak Na] aku.


[Wa'alaikum Salam buk, ini suster yang saya tawarkan bersedih untuk bekerja dengan ibu kira-kirs kapan ibuk mau interview dia?] mbak Inayah.


[Saya bicarakan dengan bapak dulu, ya nanti malam aku kabari] aku


[Baik, terima kasih buk, nanti saya sampaikan pada dia] mbak Inayah


[Sama-sama, terima kasih mbak Na, aku kabari segera] aku.


[Baik buk, wassalamu'alaikum buk] mbak Inayah.


[Wa'alaikum Salam mbak Na] aku.


Setelah menerima telpon aku sampaikan berita tersebut kepada mbak Romlah, mbak Romlah tersenyum senang, setelah terasa capek bermain anak-anak aku ajak masuk ke dalam rumah, waktu mereka untuk makan siang, dan sekalian aku mau melihat Afriana, karena waktunya Afriana untuk minum obat.

__ADS_1


__ADS_2