TALAK

TALAK
Part 144 TALAK.


__ADS_3

Habis sholat magrib berjamaah di kediaman mbak Priska kami semua melanjutkan dengan acara makan malam, betapa ramenya di rumah mbak Priska, apalagi Afriana, Rahma dengan suara cemprengnya sangat mendominasi kekacauan dalam rumah mbak Priska.


Selesai makan malam akupun ikut membantu pekerja mbak Priska untuk merapikan lantai, karena di meja makan tidak muat maka kami milih makan di lantai, sambil bersantai. Aku bantu untuk nyuci piring, mbak Irma dan mbak Priska juga ikut bekerja sama dalam memberskan bekas makan malam kita, pak Catur dan Pak Anam juga turut serta, pak Catur dan Pak Anam yang membersihkan lantai, menggulung karpet dan memvakum lantai menggunakan vacum cleaner.


Jam delapan malam kami semua sudah selesai karena malam, akupun pamit pada mereka, aku dan Afriana pulang dengan diantar oleh pak Catur atas perintah mama dan papa Cakra, mengingat ada Afriana bersama kita.


Dalam perjalanan pulang aku memikih tidak terlalu banyak bicara takut aku keceplosan, dan salah ngomong karena aku belum memberitahukan tentang rencana pernikahan ku dengan Pak pak Catur.


Sesampainya di rumah kami langsung turun, Afriana juga langsung masuk rumah dengan bahagia, pak Catur ikut turun dan menemui bapak yang sedang duduk di ruang tamu. Sedang ibukku juga ikut duduk di ruang tamu, bapakku juga menyuruhku untuk duduk bersama.


Kami berempat akhirnya berembuk tentang lamaran susulan, karena posisi ya mbak Us di luar kota maka bapak minta ke pak Catur agar lamaran di laksanakan di hari minggu, saja. Bersyukur keluarga Cakra menyetujuinya.


"Kalau begitu saya pamit dulu, pak, buk." pamit pak Catur.


"Hati-hati nak, terima kasih atas semuanya." ucap bapakku dan ibukku.


Sepulangnya pak Catur, ibukku dan bapakku segera menghubungi mbak Us.

__ADS_1


[Assalamu'alaikum, mbak Us] aku.


[Wa'alaikum Salam, aku ikut senang Fah, jumat aku akan datang, rumahmu bagaimana?] mbak Us.


[Alhamdulillah, minggu ini selesai kok mbak] aku.


[Alhamdulillah, aku dan masmu pasti datang, aku tidak menyangka Fah, jika kamu dapat lamaran secepat ini] mbak Us.


[Aku juga begitu mbak yang penting mbak datang ya,] aku.


Percakapanku dengan mbak Us, hanya butuh waktu setengah jam.


Mbak Us, mbak Yah dan Nafisa yang dari semalam sibuk sendiri memilihkan baju buatku, dan mbak Us yang dengan keahliannya dia merias wajahku, padahal aku sudah menolaknya namun mbak Us tetap memaksanya.


"Mbak Fah cantik, kalau beginikan pantas, masa di lamar pakai daster." kelakar Nafisa.


"La memang ada yang tahu kalau ada orang mau melamar wong gak ada pemberitahuan." sergahku.

__ADS_1


"Kejutan yang di berikan bosmu itu ya unik lho, Fah, dan juga super kendel( pemberani)." ucap mbak Us.


"Yo jelas berani, sebelum nglamar Afifah, dianya sudah nglamar ke bapak dan ibuk, dan lagi juga sudah pamit ke mas Jamal." ucap mbak Yah.


"Berarti, yang gak di pamiti cuma aku, awas adik iparku, aku tagih suruh bayar upeti padaku." ucap mbak Us sambil merapikan riasanku.


"Minggu yang lalu, saat rombongan keluarga Cakra datang, mbak Fah, sama mas Fauzan sedang mindahin pasir, jadi mbak tahu sendiri kan bagaimana wajahnya mbak Fah, penuh keringat dan pasir." Nafisa menceritakan kejadian minggu lalu.


"Mbakmu itu pintar Naf, tapi ya polosnya bukan main, wong bosnya kasih Kode dianya gak paham, tuh bosnya ibarat orang ngejar sampai jungkir balik, yang di kejar gak nyadar." mbak Yah, ikut menimpali.


"Darimana mbak tahu?" tanyaku.


"Ya, tahulah wong bosmu juga pernah kerumahku dia nyamperin dan minta doa restu pada masmu Jamal." ujar mbak Yah santai.


"Makanya kamu itu peka sedikit Fah, jangan kerja aja yang kamu pikirin." nasehat mbak Us.


"Aku kan ya harus jaga diri mbak, biar tidak di anggap gampangan." ucapku membela diri.

__ADS_1


Aku tidak menyangka jika, ternyata keluarga Cakra sudah masuk dalam keluargaku terlalu dalam, aku benar-benar terkejut mendengar pengakuan dari mbak Yah.


__ADS_2