
"Zahra pulang jam berapa mas?" tanya pak Catur pada mas Jamal.
"Katanya suruh jemput setengah dua, sekarang baru setengah satu nanti berangkat ham satu saja pas jadi tidak perlu nunggu terlalu lama," jelas mas Jamal.
"Tuh Afri kok sudah di atas sepeda motormu to Mal, memang mau kemana ?" tanya bapak yang baru pulang dari mushola.
"Dia mau ikut jemput Zahra, pak." jawab mas Jamal jujur "Lawong aku saja belum makan dia sudah duduk di atas sepeda motor." ucap mas Jamal sambil tertawa melihat tingkah Afriana.
"Af, makan dulu, kalau kamu gak makan nanti pakpuh gak mau ngajak lo!" seru ibukku.
"Nanti aku di tinggal pakpuh mbah," jawab Afriana.
"Ni bocah, itu pak puhmu lagi makan, cepetan ku ikutan makan jemputnya masih nanti jam satu, masih setengah jam lagi, lagian pak puh gak baik motor, diantar oleh ayahmu Af." jelas ibukku "Sini tak suapin !" seru ibukku yang ternyata sudah membawa sepiring nasi untuk disuapkan ke Afriana.
"Mau mbah, terima kasih mbag!" seru Afriana girang.
Mas Jamal setelah mengambil sepiring nasi dia ikut di teras dan menyantap makan siangnya di teras bareng Afriana.
"Af, kamu kok minta suap ibukku, dia itu ibukku, kamu minta suap ibukmu sana." Mas Jamal tetap menggoda Afriana sambil makan
"Lama-lama kamu yang tak jewer telingamu Mal, makan yang benar, jangan makan sambil ngomel." omel ibukku pada mas Jamal.
__ADS_1
Mendengar ibukku ngomeli mas Jamal, Afriana malah tertawa cekikikan menertawakan mas Jamal, sedang mas Jamal tetap terus menggoda Afriana.
Begitulah mas Jamal, dia selalu ada saja cara untuk membuat Afriana kembali tertawa, Afriana dari kecil memang sudah manja pada keluarga mas Jamal dan Fauzan karena yang dekat dan yang selalu memanjakannya mereka.
"Ku kira dengan bertambahnya usia dan berada di pesantren Afriana hilang manjanya, eh ternyata masih sama jika sudah bersama pak puh dan Pak lek nya," ucap Pak Catur.
"Dari kecil ya begitu mas, masa gak hafal." ucapku.
"Aku tak makan dulu nanti mereka sudah kenyang aku yang kelaparan."
Pak Catur langsung bangkit berdiri menuju dapur, setelah beberapa menit pak Catur sudah berada di teras pak Catur malah ikut makan di teras bersama dengan Afriana dan mas Jamal, pak Catur sudah terkontaminasi virusnya keluargaku, keluargaku kalau urusan makan tidak harus di meja makan, biasanya kami makam di teras, di ruang tengah, di dapur bahkan kadang kami bawa nasi makannya di pekarangan belakang rumah sambil menikmati sejuknya udara siang atau pagi, namun jika malam kami makan selalu di dalam rumah.
Jam satu siang mas Jamal Afriana dan Pak Catur berangkat ke sekolahannya Zahra untuk menjemput Zahra. Sebenarnya Afwa dan Afwi juga mau ikut namun tidak aku perbolehkan karena tidak ada yang jaga, aku di rumah mbak Yah juga di rumah.
"Jemput Zahra," sahut mbak Yah yang ikut berbaring denganku di kamar depan.
"Anak-anak di mana Naf ?" tanyaku.
"Di rumah bersama ibuk dan mas Fauzan," jawab Nafisa.
"Besok Afriana ikut jemput mas Ringgo gak mbak?" kini ganti Nafisa yang tanya.
__ADS_1
"Dia gak mau ikut Naf," jawabku jujur.
"Aku salut dengan kamu dan mas, mbak, entah terbuat dari apa hati jalan itu, jelas-jelas mas Ringgo itu terbukti mau mencelakai kalian tapi kalian begitu mudah memaafkan." ucap Nafisa kagum.
"Semua manusia pasti pernah melakukan kekhilafan Naf, karena aku sendiri juga bukan orang baik, kalau dengan memaafkan bisa membuat hidup kita bahagia kenapa harus menyimpan dendam, karena dendam itu penyakit sebisa mungkin kita bunuh penyakit itu agar tidak menggerogoti tubuh kita, ya aku akui sebagai manusia biasa sakit hati itu masih ada, namun apa pantas jika aku terus-terusan sakit hati sedangkan sekarang aku sudah memiliki Segalanya, suami yang bertanggung jawab anak-anak yang sehat, belum lagi secara materi aku amat sangat berlebihan, jadi apa yang kami lakukan pada keluarga mas Ringgo hanya menggunakan sedikit dari harta yang dimiliki suamiku, maaf ya Naf, bukannya aku sombong, karena kalau aku sendiri ya sama dengan kamu." pungkasku.
"Ya aku tahu mbak, berkat kebaikan mbak dan mas aku kami semua merasakan imbasnya." ungkap Nafisa.
"Siapa tuh yang nangis!" seruku karena dari dalam rumahku dulu aku dengar suara tangis anak-anak.
Nafisa dan mbak Yah langsung lari menuju rumahku dulu, karena semua mainan anak-anak ada di rumahku dulu jadi anak-anak sering menghabiskan waktunya bermain di rumahku dulu. Karena Alifa sudah bangun aku juga ikut ke rumahku dulu, ternyata mereka sedang rebutan mainan.
"Afwa, Afwi, Bida, ada apa sayang kenapa adik nangis?" tanyaku ternyata yang nangis anaknya Nafisa.
"Adik, ambil mainannya dik Dah, ya aku ambil lagi," lapor Afwa.
"Oalah, lain kali ngomong yang bagus sama adik ya, gak boleh asal ambil, Ibu mainannya kan banyak jangan berebut ya," nasehatku pada ketiga anakku.
"Bukan salah Afwa, tadi Fauzan yang memarahi anaknya," lapor ibukku.
"Lain kali adik jangan asal ambil milik orang lain, harus minta ijin dulu jika mau ambil milik orang lain boleh tidak, jika tidak boleh ya jangan merebut." kini Nafisa menasehati anaknya.
__ADS_1
Anaknya Nafisa mengangguk tanda mengerti " Sekarang adik minta maaf pada mbak dan mas." nasehat Nafisa pada anaknya lembut.
Keempat bocah itu sudah kembali akur lagi setelah saling memaafkan, mereka kembali bermain sudah tidak ada yang cemberut, mereka selalu begitu Kalaupun mereka bertengkar sampai nangis mereka tidak akan lama marahnya, paling sepuluh menit sudah akur lagi.